Posterous theme by Cory Watilo

Filed under: travel

Sepenggal Cerita Dari Bumi Manakarra

Tulisan ini sekedar catatan dan dokumentasi perjalanan saya ke Mamuju beberapa waktu yang silam. Saya sebelumnya saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari saya akan nyasar ke tempat ini. Kota yang sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Barat inilah yang menjadi tujuan saya setelah saya dengan pasrah menerima untuk sejenak ditugaskan oleh kantor di tempat ini.

Dsc_0374

Lost in Mamuju

Cara termudah dan tercepat menuju Mamuju adalah dengan pesawat udara. Sebelumnya, saya sempat senewen karena mengira untuk mencapai Mamuju hanya bisa ditempuh dengan berjam-jam melalui jalan darat dari Makassar. Berbagai kisah mengenai begal dan bajing loncat yang sering menghadang di kegelapan malam cukup membuat hati saya kecut. Tapi saya akhirnya bisa bernapas lega setelah mengetahui ada penerbangan langsung menuju Mamuju dari Jakarta.

Sampai saat tulisan ini dibuat, hanya ada satu penerbangan langsung yang melayani rute Jakarta - Mamuju yang disediakan oleh maskapai Lion Air. Maksud saya "penerbangan langsung", bukan dari Jakarta langsung mendarat di Mamuju, tetapi hanya sekali beli tiket untuk penerbangan yang terbagi menjadi dua sesi: Jakarta-Makassar dengan Lion Air dan Makassar-Mamuju dengan Wings Air. Sebenarnya ada juga Merpati yang melayani rute Makassar-Mamuju, tetapi berdiri sendiri dan tidak tersambung dengan penerbangan dari Jakarta.

Pesawat Wings Air seri ATR 72-500 yang saya tumpangi memakan waktu sekitar 50 menit untuk menempuh perjalanan dari Makassar menuju Mamuju. Pesawat berbaling-baling berkapasitas 72 orang ini diluar sangkaan saya mampu meluncur dengan nyaman sampai akhirnya mendarat di bandara Tampa Padang Mamuju.

Ada hal yang mencengangkan ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di bandara Tampa Padang. Bandara ini tampak sepi, tidak terlihat banyak kegiatan. Ketika saya masuk ke dalam bangunan bertuliskan ARRIVAL, saya lebih terheran-heran lagi karena bangunan tersebut kecil, dan bersekat-sekat papan tripleks. Seperti kantor kelurahan di desa terpencil. Bagasi diambil langsung dari trolley bagasi oleh masing-masing pemiliknya secara swalayan. Tidak ada ban berjalan. Wow, ini bandara di ibukota propinsi!

(download)

Wings Air ATR 72-500 dan kegiatan di Bandara Tampa Padang

Kota Mamuju yang berjarak sekitar 35 km dari bandara juga tak kalah mencengangkan. Sepi, sama sekali tidak nampak seperti sebuah ibukota propinsi. Malah lebih tampak seperti kota-kota kecil di Jawa. Tidak tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tidak ada bioskop XXI, dan jangan mencari mall. Tidak ada macet, karena jalanan lebih sering tampak lengang. Di beberapa bagian di dalam kota bahkan jalanan tampak rusak berat. Tapi saya sempat terkejut karena disini ada taksi. Ya, taksi seperti yang ada di kota-kota besar di Jawa. Taksi sedan, dengan argo, walaupun katanya hanya ada 10 unit. Saya tidak melihat banyak angkutan umum yang lain, hanya sesekali melihat kendaraan minibus plat kuning, becak, dan ojek. Berjalan-jalan memutari kota ini tidak perlu waktu berhari-hari, karena hanya dalam waktu setengah jam anda sudah bisa melihat seluruh isi kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan kembali lagi ke tempat awal sewaktu berangkat.

(download)

Beberapa landmark kota Mamuju

Ibarat manusia, kota Mamuju sebagai ibukota propinsi memang seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Kota ini sedang berbenah. Berbagai pembangunan infrastruktur sedang dikerjakan disini. Konon harga tanah di kota membubung tinggi. Dan banyak orang Mamuju menjadi kaya mendadak. Propinsi Sulawesi Barat seperti sebuah "propinsi kaget", dan banyak orang Mamuju yang juga terkaget-kaget dengan perubahan status kotanya menjadi ibukota propinsi.

Dsc_0294
Kantor Gubernur yang baru. Contoh pembangunan sarana-prasarana yang sedang digalakkan di kota ini.

Tidak sulit menemukan akomodasi di Mamuju. Ada beberapa hotel disini. Yang sempat saya lihat adalah penginapan Srikandi, Samudera Beach, Hotel Mutiara, dan hotel tempat saya menginap, d'Maleo. Hotel d'Maleo yang saya tempati adalah hotel bintang tiga, dengan pelayanan standar hotel bintang tiga pada umumnya. Asyiknya, hotel ini terletak di pinggir pantai, dan kebetulan saya mendapat kamar dengan view menghadap pantai :D

(download)
Hotel tempat saya menginap dan view pantai Manakarra dari jendela kamar

Mamuju adalah sebuah kota pesisir. Tak heran, iklim dan kehidupan pesisir mendominasi kota ini. Tetapi posisi geografis Mamuju cukup unik karena walaupun berada di garis pantai, namun sedikit masuk ke dalam kita akan menjumpai kontur tanah perbukitan. Tapi tetap saja udara di Mamuju terasa panas menyengat, seperti daerah pesisir pada umumnya.

(download)
Pantai Manakarra dan kontur tanah Mamuju dan sekitarnya

Tidak banyak kuliner khas dari Mamuju. (Atau malah tidak ada?) Karena Mamuju adalah daerah pesisir, banyak dijumpai rumah-rumah makan yang menyediakan olahan ikan laut segar. Selebihnya, kuliner Mamuju banyak didominasi oleh kuliner khas Makassar. Dan yang sedikit mengherankan, lebih banyak lagi warung-warung makan jawa di seantero kota. Rupanya di Mamuju banyak juga pendatang dari Jawa. Agak geli juga jauh-jauh ke Mamuju malah beli nasi goreng mawut. :D Untungnya, saya masih sempet menikmati Sara'ba (sejenis bandrek) ditemani aneka gorengan hangat di tengah dinginnya malam. Tidak lupa mencicipi Mie Titi (sejenis ifumie) khas Makassar.

(download)

Kuliner Mamuju. Antara Sara'ba sampai nasi goreng mawut :D

Berkunjung ke Mamuju kita akan sejenak melupakan kepenatan dari hiruk pikuknya kota. Tempat yang tenang, damai, dan jauh dari beringasnya kehidupan metropolitan. Serasa sedang di dunia antah berantah. Walaupun kalau lama-lama disini mati gaya juga sih kalau udah biasa hidup di kota besar :D. Sayang sekali saya tidak sempat menjelajah ke obyek yang lain seperti air terjun yang terletak beberapa kilometer dari kota. Yah, mungkin lain kali. Atau anda sendiri berminat kesana? :D

un fabuleux voyage là..

Libur lebaran tahun ini bener-bener nampol buat saya. Waktu liburan selama 11 hari (dengan 6 hari cuti) bener-bener saya manfaatkan sebaik-baiknya dan sepuas-puasnya untuk jalan-jalan. Berikut adalah beberapa snapshot yang sempat terambil dengan kamera ponsel saya:

 

Prologue: The Journey of Backpain

(download)
Dengan partner mudik saya, neng Karina, saya sukses menempuh perjalanan Jakarta - Semarang 8-9 September 2010 selama 21,5 jam. :D

 

--------------------


Chapter #1: Magelang

(download)

Biasanya saya melewatkan hari pertama lebaran di Desa Rambeanak, sebuah desa di pedalaman Magelang, Jawa Tengah. Di desa yang sejuk, tenang dan damai inilah tinggal nenek saya. Kakek sendiri sudah meninggal bertahun-tahun yang lampau.

 

Lebaran is Granny's Birthday

(download)

Ada tradisi unik yang sudah berlangsung beberapa tahun ini di rumah nenek saya di Magelang setiap lebaran. Setiap lebaran beliau akan membagi-bagikan bingkisan buat anak-anak di  kampung yang datang bersilaturahmi. Bingkisan tersebut dibuat semeriah mungkin seolah-olah menyerupai bingkisan ulang tahun. Jadi, sekarang setiap lebaran diistilahkan sebagai Hari Ulang Tahun Mbah Putri. :D


Dsc00339
Nenek, duduk nomor 2 dari kiri, setelah acara sungkeman.


Dsc_0090
Di daerah Magelang dan sekitarnya,Tape Ketan adalah salah satu hidangan wajib di meja tamu yang selalu terselip diantara stoples-stoples berisi Kastangels, Nastar, dan kue-kue kering lainnya.

 

-----------------------

 

Chapter #2: Pekalongan

 

The Vintage View of Granny's Cribs

(download)
Ini adalah pemandangan di seputar rumah eyang di Gebangkerep, sebuah desa di pedalaman Pekalongan. Rumah beliau yang sangat vintage, tipikal rumah-rumah petani di daerah tersebut, sangatlah menarik perhatian saya.

 

Megono

Dsc_0214
Ini termasuk salah satu kuliner khas dari pekalongan: sego megono. berupa nasi yang dicampur dengan urap sayur nangka. Gurih!

 

Soto Tauto Pak Tjarlam

(download)

Soto Khas Pekalongan lebih dikenal sebagai Tauto. Kombinasi dari kata Tauco dan Soto. Tauco? Ya. Bumbu utama soto Pekalongan ini adalah Tauco. Inilah yang membedakan soto Pekalongan dengan soto-soto dari daerah lain. Isian yang utama dari Tauto adalah lontong, jeroan, dan bihun. Bila anda sempat berkunjung ke kota ini, soto Pak Tjarlam boleh saya rekomendasikan. Kalau siang, dia buka di warung permanen pada sebuah gang sempit di depan Matahari. Kalau malam, dia menjelma sebagai warung tenda di alun-alun.

 

----------------------

 

Chapter #3: Malang & Surabaya

 

Disaster Tourism of Lapindo

(download)

Dalam perjalanan ke Malang, saya sempat mampir di lokasi musibah lumpur Lapindo yang termasyhur itu. Yang cukup membuat saya terkejut, tempat tersebut telah bertransformasi sebagai sebuah lahan bisnis dadakan yang subur. Mulai dari bisnis parkir (satu mobil dipatok Rp. 10.000), tiket masuk tak resmi seharga Rp. 5000, pedagang VCD, serta tukang ojek keliling lokasi. Belum lagi para pedagang makanan yang ikut memeriahkan lokasi. Ternyata musibah bisa menjadi sebuah industri pariwisata tersendiri.

 

A Day At Batu Malang

(download)
Lokasi: Desa Sekarputih Kecamatan Junrejo, Batu.

 

Nengokin Kebun di Agrowisata Kusuma :D

(download)
Ini kali kedua saya ke Agrowisata Kusuma. Sialnya, sama seperti pada kunjungan sebelumnya, kali ini saya juga gak kebagian paket metik Strawberry. Harus puas hanya metik Tomat cherry saja. :(

 

Cwie Mie Malang

(download)
Saat berkunjung ke Malang dua atau tiga tahun lalu, saya begitu penasaran sekali dengan Cwie Mie Malang. Saat berkunjung kembali kesini, barulah saya sempat menjajal mie yang begitu membuat saya penasaran ini. Enak sih, cuman mungkin saya terlalu berekspektasi berlebihan. Rasanya ya, hehe, seperti mie yamin biasa.. :D

 

The Story of The Bridge

(download)
Percaya atau tidak, Jembatan Suramadu adalah sebuah tempat tujuan wisata tersendiri bagi orang-orang yang norak yang belum pernah liat jembatan keren (seperti saya). Jembatan yang panjangnya 5.438 m ini dapat dilewati dengan membayar Rp. 30.000 untuk satu mobil sekali jalan. Statusnya yang sekaligus sebagai sebuah jalan tol--dengan tanda dilarang berhenti dimana-mana--tidak menyurutkan niat kami untuk nekat berhenti untuk sekedar berfoto-foto dengan background jembatan ini. Hasilnya, Patroli Jalan Raya segera datang mengusir kami pergi. :D

 

-----------------------

 

Chapter #4: Jogjakarta

 

Dan perjalanan liburan saya ditutup dengan Jogjakarta. Tidak banyak tempat yang saya kunjungi, hanya sekedar bernostalgia mengenang masa lampau saja. Tempat yang saya kunjungi antara lain...:

 

Soto Sapi Pak Ngadiran aka Soto Klebengan

(download)
Ini adalah tempat legendaris bagi saya semasa kos di Jogja dulu, Sebuah tempat andalan untuk melewatkan waktu sarapan bersama kawan-kawan kos. Murah, dengan cita rasa yang tebal, ditambah mengudap tempe hangat-hangat, merupakan sebuah kenangan yang sayang untuk dilupakan..

 

Bale Raos: A Taste of Heritage

(download)
Sebuah resto di lingkungan keraton dengan nuansa etnik yang kental. Sebuah tempat makan yang menyenangkan dengan hiburan musik akustik ala hiburan raja-raja jaman dahulu. Menu-menu yang disajikan konon adalah kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono. Salah satunya adalah Bebek Suwar-Suwir (gambar terakhir). Yang jelas, semasa saya jadi mahasiswa dulu, saya tidak pernah berani menyambangi tempat ini. Sebenarnya tidak mahal-mahal amat sih, cuman emang agak mahal buat kantong mahasiswa dengan pendapatan perkapita mahasiswa kebanyakan seperti saya pada waktu itu. :D

Jakarta-Bandung-Nagreg-Tasik-Banjar-Pangandaran-Cijulang PP

Masih norak-noraknya seneng-senengnya punya blog baru setelah sekian lama meninggalkan account blog friendster dan multiply, jadinya bawaannya pengen ngepost terus :D

Berikut adalah beberapa rekaman perjalanan gak jelas saya 28-29 Mei kemaren bersama rekan-rekan kantor :

(download)
(photo by me & Tedy Tirta Kusuma)