C'est La Vie http://fanikovsky.posterous.com a little sneak peek of life posterous.com Fri, 06 Apr 2012 11:30:00 -0700 Mengenang Dan Melintasi Jaman Bersama Kidung Abadi Chrisye http://fanikovsky.posterous.com/kidung-abadi-chrisye http://fanikovsky.posterous.com/kidung-abadi-chrisye

Baiklah. Saya kali ini mau sedikit cerita-cerita tentang Konser Keempat Chrisye bertajuk Kidung Abadi yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center 5 April 2012 kemaren. Awalnya sih saya tidak niat mau nonton, padahal udah dua minggu sebelumnya saya lihat billboard iklannya yang segede gaban terpasang di sekitaran Blok M waktu saya baru pulang dari bandara. Thanks to Just Alvin dengan segala gimmicknya yang mengupas tuntas tentang konser ini, sehingga saya jadi latah dan tergopoh-gopoh nyari tiketnya yang--eheheheh--lumayan jebolin dompet (padahal udah paling murah) :p

Ngomong-ngomong, loh, kok konser keempat Chrisye? Chrisye kan udah meninggal lima tahun yang lalu? Iya, memang benar. Jadi ceritanya, konser Kidung Abadi ini adalah jawaban dari Erwin Gutawa atas keinginan yang sempat dilontarkan Chrisye untuk bikin konser di tahun 2012. Belum sempet dibahas lebih lanjut ternyata Chrisye sudah keburu dipanggil oleh Yang Kuasa karena penyakit yang dideritanya. Nah untuk menghormati keinginan beliau tersebut, jadilah konser Chrisye digelar pada tahun 2012 ini. Walaupun tanpa kehadiran Chrisye sendiri.

Konser ini dimotori oleh Erwin Gutawa yang menangani segala tetek bengek tentang musik, juga oleh Jay Subiakto yang menangani konsep stage dan efek-efek visual. Pada bagian awalnya, konser ini tampak seperti konser tribute biasa, dengan penampilan artis-artis pendukung seperti Gita Gutawa yang tampil anggun, Armand Maulana bersama GIGI yang tampil enerjik bak cacing kepanasan, ada juga Once yang tampil kalem (hampir seperti penampilan Chrisye yang datar dengan minim ekspresi maupun gerakan), serta Vina Panduwinata yang masih lincah bernyanyi dengan vokalnya yang khas. Mereka tampil bergantian membawakan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Chrisye dari album lawas sampai album yang terbaru.

Pada bagian selanjutnya, konser mulai berubah konsep. Di bagian ini, ditampilkan rekaman suara Chrisye dari konser-konser yang terdahulu serta rekaman videonya yang sedang bernyanyi yang kemudian diiringi oleh orkestrasi live yang prima dari Erwin Gutawa orchestra. Yang menarik, disini Chrisye tidak hanya ditampilkan sedang melulu bernyanyi dengan diiringi orkes live saja, tetapi konseptor acara ini secara cerdas juga menyisipkan rekaman bagian-bagian suara dan visual Chrisye yang sedang berinteraksi dengan penonton, sehingga yang tampak adalah seolah-olah Chrisye memang sedang bernyanyi langsung sambil mengajak penonton ngobrol, berdiri atau mengajak penonton ikut bernyanyi pada bagian lagu tertentu. Yah, semua penonton tahu kalau suara Chrisye yang didengarnya adalah rekaman belaka. Tapi toh, semua tampak begitu nyata. Rekaman vokal Chrisye dan iringan orkestranya benar-benar menyatu. Seolah-olah Chrisye saat itu memang sedang berada di atas stage.

Dsc_0992

Kemudian konser menjadi semakin menarik dengan penampilan "duet" antara Sophia Latjuba dengan Chrisye. Bukan Chrisye beneran tentu saja, tetapi visualisasi Chrisye yang ditampilkan dalam sebuah hologram. Tadinya saya agak berekspektasi lebih dan mengira hologram disini akan tampak seperti imaji tiga dimensi yang nyata seperti di film-film science fiction. Tetapi ternyata hologram disini hanyalah sebuah gambar visual Chrisye yang diproyeksikan ke sebuah layar. 

Dan akhirnya, bagian yang paling menarik dan paling ditunggu-tunggu dalam konser ini adalah munculnya sebuah lagu baru yang benar-benar baru diciptakan setelah Chrisye meninggal, namun dinyanyikan oleh suara Chrisye. Asli. Lho kok bisa? Jadi begini ceritanya. Lagu berjudul Kidung Abadi ini adalah sebuah lagu ciptaan Erwin Gutawa yang merasa semacam punya perasaan bersalah karena selama ini belum pernah membuatkan lagu untuk Chrisye padahal udah bertahun-tahun bekerja sama dalam berbagai produksi album. Tapi karena Chrisye sudah tiada, akhirnya dibuatlah lagu ini dengan merekonstruksi sekitar dua ratus lebih suku kata hasil potongan track vokal Chrisye dari ratusan master rekaman lagu-lagu Chrisye yang sudah ada. Bukan pekerjaan yang mudah, karena Erwin harus memotong track-track vokal tersebut per suku kata, memilah-milah mana yang cocok untuk dirangkai, mengubah pitch serta panjang potongan track bila perlu, menggabungkan potongan-potongan track tersebut satu persatu, serta menghaluskan transisi antara potongan satu dengan potongan yang lain itu. Dan hasilnya adalah sebuah lagu yang utuh dan terdengar syahdu. Ditambah animasi Chrisye sedang bernyanyi karya Jay Subiakto yang terlihat di layar membuat penonton semua terpaku dan diliputi rasa haru. Seolah-olah Chrisye benar-benar sedang bernyanyi dari alam lain dan mengucapkan salam perpisahan bagi para penggemarnya.

Akhir kata, konser Kidung Abadi Chrisye kemarin ini memang menjadi semacam obat rindu bagi para penggemar Chrisye. Bagi saya pribadi, yang saya kagumi dari seorang Chrisye adalah dedikasinya, kebersahajaannya yang berkualitas, sangat orisinal, dan jarang-jarang ada penyanyi di Indonesia sini yang konsernya dipenuhi oleh penggemar-penggemar dari segala usia. Seperti kemarin ini, saya menjumpai orang-orang yang hadir ada yang seusia kakek saya, ada yang seusia bapak saya, ada yang seusia saya, juga ada yang seusia adik saya. Tidaklah berlebihan kalau saya menyebut Chrisye sebagai sebuah legenda bagi musik Indonesia. Semoga kelak akan hadir Chrisye-Chrisye baru yang sederhana, bersahaja, orisinil, dan banyak bicara melalui karya. Semoga.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Wed, 30 Nov 2011 01:01:13 -0800 Sa' Unine Yang Tidak Asal Bunyi Dari Jogjakarta http://fanikovsky.posterous.com/sa-unine-yang-tidak-asal-bunyi-dari-jogjakart http://fanikovsky.posterous.com/sa-unine-yang-tidak-asal-bunyi-dari-jogjakart

Akhir-akhir ini saya mulai suka beli CD-CD lagu yang boleh dibilang "tidak lazim" dibeli orang. Setelah album Becak Fantasy-nya Jubing Kristianto dan Tafakur-nya Jaya Suprana, kemaren saya membawa pulang dua buah CD Album Masa Lalu Selalu Aktual dan Buaian Sepanjang Masa dari Sa' Unine String Orchestra.

459506435
Sa' Unine adalah kelompok musik gesek jebolan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta yang berdiri sejak tahun 1992. Ketika kuliah di Jogja dulu saya sering main ke ISI jauh di Sewon Bantul sana untuk sekedar menonton home concert mahasiswa-mahasiswa jurusan musik yang menampilkan repertoire lagu-lagu klasik. Tidak melulu lagu-lagu klasik, tetapi juga lagu-lagu populer yang diaransemen ala musik klasik. Lumayan, bisa menikmati musik-musik bermutu hanya dengan membayar 10 ribu rupiah. Dan musik semacam inilah yang coba ditampilkan oleh Sa' Unine dalam kedua albumnya.

Sa' Unine sendiri adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti "Sebunyinya" atau "Asal Bunyi". Walau demikian, karya yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah bunyi-bunyian yang asal bunyi ataupun suara-suara gedombrangan nggak karuan, sebaliknya mereka menampilkan bunyi-bunyian alat musik gesek nan elegan yang mengingatkan saya dengan Serenade for Strings-nya Tchaikovsky atau The Four Seasons-nya Antonio Vivaldi. Namun dalam kedua albumnya, repertoar yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah repertoar komposisi Mozart atau Beethoven, akan tetapi lagu-lagu lokal serta lagu-lagu daerah yang menjadi kekayaan budaya bangsa, sehingga kemudian anda akan menemukan lagu Ilir-Ilir dan Padang Bulan terdengar seperti symphony dari antah berantah, tidak terdengar seperti lagu dolanan rakyat Jawa. Demikian pula dengan lagu Gundul Gundul Pacul, Jaranan, dan Cublak-Cublak Suweng yang diaransemen unik dengan teknik pizzicato (strings yang dimainkan dengan cara dipetik, bukan digesek) yang digubah ke dalam sebuah komposisi medley berjudul Dolanan Pizzicato.

Dalam album Masa Lalu Selalu Aktual memang dominan ditampilkan lagu-lagu daerah (dominan Jawa sih) serta lagu-lagu Indonesia dari masa lampau semacam Sapu Lidi dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama yang walaupun jadul namun masih terasa abadi untuk didengarkan. Sedangkan album Buaian Sepanjang Masa menampilkan lagu-lagu yang akrab diperdengarkan sebagai lagu pengantar tidur semacam lagu Tak Lelo Ledhung atau Timang-Timang yang akan membawa kita melayang dalam lamunan akan kenangan masa kecil ketika kita masih berada dalam buaian ibunda.

Pendek kata, apabila anda sudah mulai bosan dengan lagu-lagu yang sering muncul di tivi sekarang, atau sekedar ingin mencari suasana lain, album dari Sa' Unine ini pantas untuk anda dapatkan. Sekedar informasi, untuk mendapatkan album dari Sa' Unine ini silahkan menghubungi Rumah Budaya Tembi Jakarta di Jl. Gandaria I No. 47 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan karena tidak dijual di toko-toko kaset. Oiya, kalau mau dengerin aja dulu sampel lagu-lagunya di sini.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky