C'est La Vie http://fanikovsky.posterous.com a little sneak peek of life posterous.com Thu, 07 Jul 2011 11:00:00 -0700 The Social Network http://fanikovsky.posterous.com/the-social-network http://fanikovsky.posterous.com/the-social-network

Bukan, saya tidak sedang membicarakan sebuah judul film. Saya tadi sedang iseng membuka file-file lama saya yang dulu saya titipkan di laptop si adek, dan menemukan "artefak kuno" halaman-halaman website yang dulu saya simpan. Saya dulu suka menyimpan halaman-halaman web yang saya anggap perlu disimpan, dan salah satunya adalah Friendster. Yeah. Friendster inilah jejaring sosial pertama yang saya kenal tahun 2005 silam.

Early

Tampilan awal friendster

Tiba-tiba saja saya tenggelam dalam memori masa lalu. Betapa friendster telah memicu sebuah evolusi masyarakat dalam bersosialisasi. Saya yang tadinya hanya mengenal internet untuk browsing, sedikit chat, dan paling banter berinteraksi lewat milis, tiba-tiba menemukan sebuah euforia ketika berkenalan dengan friendster. Dan tentu saja saya tidak sendiri. Friendster saat itu begitu digandrungi oleh kawula muda khususnya, sebagai sebuah mainan baru, sebagai sebuah ukuran gaul, dan sekaligus sebagai identitas dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun maya.

Running_out
Dengan friendster, orang bisa memasang halaman pribadinya sendiri dan memperkenalkan diri kepada dunia luar, memperoleh kenalan baru, dan berinteraksi dengan cara yang lebih menarik daripada lewat milis ataupun yahoogroups dengan berbagi gambar-gambar ataupun file lagu.

Waktu itu, saling bertukar testimonial adalah hal yang menyenangkan. Banyak hal yang terjadi dari sini. Kisah-kisah cinta, perkenalan dengan orang-orang baru, perjumpaan dengan teman lama, atau sekedar seru-seruan menambah keakraban baik antara teman baru maupun lama. Sampai-sampai, dua orang kawan ketika bertemu di dunia nyata pun akan saling berkata: "Lo punya FS ya? Isiin testi buat gue yaa"

Testimonial & Komentar

Tidak cuma buat lucu-lucuan. Friendster juga bisa dijadikan media "serius". Saya dulu sering menulis review, entah itu lagu, buku, film, maupun pertunjukan. Ngeblog, saya juga suka. Walaupun tidak terlalu sering ngisi.

Tapi belakangan ada satu lagi fitur friendster yang saya suka: Bulletin Board. Sebenarnya, pada awalnya Bulletin Board diciptakan oleh arsitek friendster sebagai media untuk bertukar informasi, entah untuk menyampaikan undangan, berbagi artikel, ataupun informasi lainnya. Tapi entah kenapa, belakangan entah siapa yang memulai, Bulletin Board dijadikan ajang lucu-lucuan dengan menyebarkan semacam kuis berantai dengan deretan pertanyaan konyol yang akan dijawab dengan tak kalah konyol pula oleh si penerus bulletin. Hal ini sempat mewabah dan tentu saja ikut menjangkiti saya :D Dan ujung-ujungnya, kuis-kuis ini malah dijadikan modus operandi bagi sebagian orang--termasuk saya--untuk melakukan perbuatan curcol! Ah, betapa saya merindukan mengisi bulbo lagi... :D

Bulletin Board aka Bulbo

Namun semua itu kini tinggal kenangan seiring dengan ditutupnya layanan jejaring pertemanan friendster beberapa waktu yang lalu. Friendster telah menyerah kalah ditinggalkan pendukungnya di masa lalu yang telah pindah menggandrungi jejaring sosial yang lain yang lebih canggih dan interaktif. Facebook. Belum lagi jejaring-jejaring sosial yang lain semacam Twitter atau Foursquare. Memang, jaman terus berganti. Demikian pula hal-hal ikut berubah. Bahkan kini Facebook pun mulai terasa hilang pamornya. Kabar terkini yang terdengar, Google tengah mempersiapkan senjata andalannya dan ikut terjun dalam dunia jejaring sosial dengan produk barunya yang bernama Google+ yang digadang-gadang akan menjadi pembunuh Facebook dalam waktu dekat. Yah, entahlah apa yang akan terjadi nanti. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Hanya satu yang jelas, sesuai kodratnya manusia adalah makhluk sosial. Dan selama itu pula, manusia akan selalu mencari cara untuk selalu bisa berinteraksi dengan sesamanya. Entah bagaimanapun caranya.

Selamat tinggal, Friendster. Terimakasih atas segala kenangan masa lalu yang telah engkau bagi bersama.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Fri, 24 Sep 2010 01:23:00 -0700 What A Wonderful World http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world

Dulu saya sering make nada sambung pribadi untuk nomor ponsel saya. Iseng aja, sekedar ngasih hiburan buat orang-orang yang mau nelfon. (Halah, kayak banyak yang nelpon aja :p) Sekarang-sekarang sih udah males pake nada sambung semacem itu. Sayang aja buang-buang beberapa ribu pulsa buat bayar biaya bulanannya :D Nah, salah satu lagu yang pernah saya pakai sebagai nada sambung pribadi adalah "What A Wonderful World" milik Louis Armstrong. Dan saya masih ingat waktu itu beberapa teman yang pernah mendengarkan nada sambung pribadi itu suka komentar yang menyebalkan: “Lagu apaan seh? Gak jelas…” atau “Woi, apaan nih? Kagak ada lagu yang kerènan dikit apa?” Ayolah guys, emang gak pernah denger? Lagu keren ini mah. Biarpun jadul tapi punya makna yang mendalam. Coba aja denger lagunya:

Louis Armstrong, yang juga memiliki nama samaran Satchmo, semasa hidupnya dari tahun 1901 hingga 1971 dikenal sebagai musisi jazz yang piawai. Tidak hanya sebagai penyanyi, namun juga sebagai pemain trumpet, band leader, juga sekaligus sebagai entertainer yang dicintai banyak orang. Satchmo pula lah yang dikenal banyak mengembangkan style swing, yang kemudian menjadi dasar dari kebanyakan musik jazz dan RnB saat ini. Juga jangan lupakan pula jasanya dalam mengembangkan bentuk dasar improvisasi dalam musik jazz.

Kontras sekali dengan kehidupan awalnya yang didera kemiskinan dan bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah, Louis Armstrong menuai kesuksesan dalam karir musiknya dan kemudian menjadi semacam duta tak resmi bagi Amerika dalam bidang musik. Dalam perjalanan karirnya Louis Armstrong telah tampil di berbagai belahan dunia dan mengeluarkan banyak hits seperti “Mack The Knife”, “Hello Dolly”, “Blueberry Hill”, “When You Wish Upon a Star”, dan juga tentu saja “What A Wonderful World”.

Nah, bicara tentang “What A Wonderful World”, lagu ini menjadi menarik untuk dibahas karena dalam pemahaman saya seolah-olah di dalam lagu ini Louis Armstrong mengajak kita untuk senantiasa memandang dunia dari sisi positif, memandang dunia dengan penuh rasa optimis, seburuk apapun keadaan nyatanya. Sekarang coba bayangkan. Semasa Louis Armstrong hidup, rasisme hidup begitu subur di Amerika. Adanya rasisme menyebabkan warga kulit hitam—tak terkecuali Louis Armstrong—kehilangan banyak haknya di ruang publik. Warga kulit hitam dibedakan dengan warga kulit putih hanya untuk sekedar menikmati fasilitas umum, bahkan warga kulit hitam juga diburu dikejar-kejar untuk kemudian dibunuh—seperti yang dilakukan oleh organisasi teror Ku Klux Klan (KKK). Pendek kata, saat itu warga kulit hitam tak lebih dari hanya sekedar warga negara kelas kambing, dan saya yakin ini bukanlah hal yang menyenangkan bagi para warga Afro-American tersebut. Tapi secara kontras, Louis Armstrong malah berkata-kata dalam lagunya:

I see trees are green, red roses too..

I see them bloom for me and you..

And I think to myself:

"What a wonderful world…"

Wah, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa..

Nah, kalau kita lihat kondisi dunia saat ini yang acakadut—perang di satu sisi, ketimpangan sosial merajalela, kejahatan menggila, bencana alam mendera, terorisme dimana-mana, belum lagi kekerasan antar umat beragama—lantas timbul pertanyaan skeptis: “Masihkah dunia dapat menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman bagi kita semua?”, mari kita dengarkan lagi kata-kata Louis Armstrong:

The colours of the rainbow so pretty in the sky

Are also on the faces of people going by

I see friends shaking hands, sayin' "how do you do?"

They're really sayin' "I love you"

I hear babies cryin', I watch them grow

They'll learn much more than I'll ever know

And I think to myself: "what a wonderful world"

 

Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog friendster saya pada 18 Desember 2006. Telah diedit seperlunya.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 23 Sep 2010 21:39:00 -0700 Classical For Life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life

Saya penggila musik klasik. (Walaupun akhir-akhir ini sedang jarang dengerin.) Mungkin bukan selera musik yang terlalu umum ya, tapi entah kenapa saya suka sekali mendengarkan nada-nada yang mungkin terdengar ruwet bagi banyak orang itu. Saya suka mendengarkan detilnya, dan seolah-olah nada-nada dari tiap komposisi klasik tersebut menari-nari berlompatan nakal dalam telinga saya. Nokturno melankolis Chopin, sonata-sonata piano Beethoven, lagu-lagu balet serta beberapa simfoni Tchaikovsky, komposisi ceria Mozart, serta beberapa karya biola yang riang milik Kreisler adalah beberapa komposisi yang saya suka. 

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi kesenangan saya terhadap musik klasik dengan seorang teman yang (pada waktu itu) akan mempunyai bayi. Teman saya ini memerlukan bantuan untuk mencarikan lagu-lagu klasik yang bagus buat si jabang bayinya ini, dan saya senang sekali berbagi beberapa lagu yang saya punya. Udah tau kan kalau musik klasik katanya bagus buat janin dan bayi? Yeah, nggak cuman buat janin saja sih, tapi juga bermanfaat bagi kehidupan manusia secara umum. Nah, disini saya nggak akan membahas bagaimana manfaat musik klasik tersebut bagi kehidupan, silahkan aja anda googling sendiri dan anda akan menemukan ratusan bahkan ribuan hasil pencarian yang terkait. Melanjutkan cerita tentang teman saya tadi, pada akhirnya saya cukup takjub ketika setelah bayinya lahir, teman saya ini memberikan kesaksian tentang pengaruh musik klasik bagi bayinya. Demikian kesaksian teman saya tersebut dalam sebuah jejaring sosial (nama sengaja disamarkan) :

Plurk-2

Keren. Saya juga akan memperdengarkan musik klasik buat anak saya kelak. :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky