C'est La Vie http://fanikovsky.posterous.com a little sneak peek of life posterous.com Fri, 06 Apr 2012 11:30:00 -0700 Mengenang Dan Melintasi Jaman Bersama Kidung Abadi Chrisye http://fanikovsky.posterous.com/kidung-abadi-chrisye http://fanikovsky.posterous.com/kidung-abadi-chrisye

Baiklah. Saya kali ini mau sedikit cerita-cerita tentang Konser Keempat Chrisye bertajuk Kidung Abadi yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center 5 April 2012 kemaren. Awalnya sih saya tidak niat mau nonton, padahal udah dua minggu sebelumnya saya lihat billboard iklannya yang segede gaban terpasang di sekitaran Blok M waktu saya baru pulang dari bandara. Thanks to Just Alvin dengan segala gimmicknya yang mengupas tuntas tentang konser ini, sehingga saya jadi latah dan tergopoh-gopoh nyari tiketnya yang--eheheheh--lumayan jebolin dompet (padahal udah paling murah) :p

Ngomong-ngomong, loh, kok konser keempat Chrisye? Chrisye kan udah meninggal lima tahun yang lalu? Iya, memang benar. Jadi ceritanya, konser Kidung Abadi ini adalah jawaban dari Erwin Gutawa atas keinginan yang sempat dilontarkan Chrisye untuk bikin konser di tahun 2012. Belum sempet dibahas lebih lanjut ternyata Chrisye sudah keburu dipanggil oleh Yang Kuasa karena penyakit yang dideritanya. Nah untuk menghormati keinginan beliau tersebut, jadilah konser Chrisye digelar pada tahun 2012 ini. Walaupun tanpa kehadiran Chrisye sendiri.

Konser ini dimotori oleh Erwin Gutawa yang menangani segala tetek bengek tentang musik, juga oleh Jay Subiakto yang menangani konsep stage dan efek-efek visual. Pada bagian awalnya, konser ini tampak seperti konser tribute biasa, dengan penampilan artis-artis pendukung seperti Gita Gutawa yang tampil anggun, Armand Maulana bersama GIGI yang tampil enerjik bak cacing kepanasan, ada juga Once yang tampil kalem (hampir seperti penampilan Chrisye yang datar dengan minim ekspresi maupun gerakan), serta Vina Panduwinata yang masih lincah bernyanyi dengan vokalnya yang khas. Mereka tampil bergantian membawakan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Chrisye dari album lawas sampai album yang terbaru.

Pada bagian selanjutnya, konser mulai berubah konsep. Di bagian ini, ditampilkan rekaman suara Chrisye dari konser-konser yang terdahulu serta rekaman videonya yang sedang bernyanyi yang kemudian diiringi oleh orkestrasi live yang prima dari Erwin Gutawa orchestra. Yang menarik, disini Chrisye tidak hanya ditampilkan sedang melulu bernyanyi dengan diiringi orkes live saja, tetapi konseptor acara ini secara cerdas juga menyisipkan rekaman bagian-bagian suara dan visual Chrisye yang sedang berinteraksi dengan penonton, sehingga yang tampak adalah seolah-olah Chrisye memang sedang bernyanyi langsung sambil mengajak penonton ngobrol, berdiri atau mengajak penonton ikut bernyanyi pada bagian lagu tertentu. Yah, semua penonton tahu kalau suara Chrisye yang didengarnya adalah rekaman belaka. Tapi toh, semua tampak begitu nyata. Rekaman vokal Chrisye dan iringan orkestranya benar-benar menyatu. Seolah-olah Chrisye saat itu memang sedang berada di atas stage.

Dsc_0992

Kemudian konser menjadi semakin menarik dengan penampilan "duet" antara Sophia Latjuba dengan Chrisye. Bukan Chrisye beneran tentu saja, tetapi visualisasi Chrisye yang ditampilkan dalam sebuah hologram. Tadinya saya agak berekspektasi lebih dan mengira hologram disini akan tampak seperti imaji tiga dimensi yang nyata seperti di film-film science fiction. Tetapi ternyata hologram disini hanyalah sebuah gambar visual Chrisye yang diproyeksikan ke sebuah layar. 

Dan akhirnya, bagian yang paling menarik dan paling ditunggu-tunggu dalam konser ini adalah munculnya sebuah lagu baru yang benar-benar baru diciptakan setelah Chrisye meninggal, namun dinyanyikan oleh suara Chrisye. Asli. Lho kok bisa? Jadi begini ceritanya. Lagu berjudul Kidung Abadi ini adalah sebuah lagu ciptaan Erwin Gutawa yang merasa semacam punya perasaan bersalah karena selama ini belum pernah membuatkan lagu untuk Chrisye padahal udah bertahun-tahun bekerja sama dalam berbagai produksi album. Tapi karena Chrisye sudah tiada, akhirnya dibuatlah lagu ini dengan merekonstruksi sekitar dua ratus lebih suku kata hasil potongan track vokal Chrisye dari ratusan master rekaman lagu-lagu Chrisye yang sudah ada. Bukan pekerjaan yang mudah, karena Erwin harus memotong track-track vokal tersebut per suku kata, memilah-milah mana yang cocok untuk dirangkai, mengubah pitch serta panjang potongan track bila perlu, menggabungkan potongan-potongan track tersebut satu persatu, serta menghaluskan transisi antara potongan satu dengan potongan yang lain itu. Dan hasilnya adalah sebuah lagu yang utuh dan terdengar syahdu. Ditambah animasi Chrisye sedang bernyanyi karya Jay Subiakto yang terlihat di layar membuat penonton semua terpaku dan diliputi rasa haru. Seolah-olah Chrisye benar-benar sedang bernyanyi dari alam lain dan mengucapkan salam perpisahan bagi para penggemarnya.

Akhir kata, konser Kidung Abadi Chrisye kemarin ini memang menjadi semacam obat rindu bagi para penggemar Chrisye. Bagi saya pribadi, yang saya kagumi dari seorang Chrisye adalah dedikasinya, kebersahajaannya yang berkualitas, sangat orisinal, dan jarang-jarang ada penyanyi di Indonesia sini yang konsernya dipenuhi oleh penggemar-penggemar dari segala usia. Seperti kemarin ini, saya menjumpai orang-orang yang hadir ada yang seusia kakek saya, ada yang seusia bapak saya, ada yang seusia saya, juga ada yang seusia adik saya. Tidaklah berlebihan kalau saya menyebut Chrisye sebagai sebuah legenda bagi musik Indonesia. Semoga kelak akan hadir Chrisye-Chrisye baru yang sederhana, bersahaja, orisinil, dan banyak bicara melalui karya. Semoga.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 06 Dec 2011 00:25:00 -0800 Lelo Ledhung & Romantisme Masa Lalu http://fanikovsky.posterous.com/lelo-ledhung-dan-kisah-romantisme-masa-lalu http://fanikovsky.posterous.com/lelo-ledhung-dan-kisah-romantisme-masa-lalu

Saya tidak habis pikir, kenapa ada beberapa lagu tertentu yang bisa begitu saja muncul dan berputar-putar terus menerus dalam kepala saya. Salah satunya ya ini, lagu Lelo Ledhung. Not demi not bermunculan di kepala dan membius saya sehingga tanpa sadar saya kadang sering terdengar menggumamkannya. Mungkin banyak yang mengenal lagu ini sebagai lagu tradisional masyarakat Jawa yang biasa didendangkan untuk meninabobokan anaknya. Saya sendiri tidak ingat sih apakah dulu ibu saya juga mendendangkan lagu ini kepada saya waktu saya kecil dulu. Tapi entah kenapa saya seolah-olah merasakan tenggelam dalam romantisme masa lalu ketika mendengar lagu ini. Terus terang ini bukan lagu biasa, bukan lagu Jawa biasa, dan bukan lagu nina bobo biasa. Dalam lirik-liriknya, kita akan menemukan nilai-nilai luhur, harapan dan doa, sekaligus simbol ketulusan orang tua dalam membesarkan anaknya yang seringkali penuh hambatan dan tantangan.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, cep menenga aja pijer nangis; Anakku sing ayu (bagus) rupane, yen nangis ndak ilang ayune (baguse)”

Imajinasi saya melayang-layang membayangkan sebuah suasana pedesaan di Jawa, di depan sebuah rumah berdinding bambu, dalam temaram sinar lampu minyak pada suatu malam, ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terus menerus rewel menangis seraya bersenandung: “Timang-timang anakku sayang, janganlah engkau menangis. Hilang nanti cantik/tampanmu kalau engkau menangis”

“Tak gadang bisa urip mulyo, dadiyo wanito (priyo kang) utomo; Ngluhurke asmane wong tuwa, dadiyo pandekaring bangsa”

Dalam hening malam yang ditimpali derik suara jangkrik, dan desir dedaunan yang tertiup angin, Ibu tersebut terus bersenandung dan mendoakan anaknya: “Semoga kelak engkau bisa hidup sejahtera dalam kemuliaan, nak. Jadilah engkau pribadi yang utama, pribadi yang istimewa, pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur, sebuah pribadi yang mampu mengharumkan nama orang tua, juga mampu berbakti dan memberi arti bagi bangsa dan negara.”

“Wis cep menenga anakku, kae mbulane ndadari; Kaya buto nggegilani, lagi nggoleki cah nangis”

Dalam bayangan saya, Ibu tersebut menjadi agak gelisah. Sambil terus menggendong dan menenangkan anaknya yang menangis, dia bolak balik berdiri, lalu duduk di sebuah bale-bale bambu, lalu bangkit lagi seraya menunjuk ke arah bulan purnama yang bergelantungan di kelamnya langit malam. “Ayo tenanglah anakku, lihatlah disana rembulan bersinar terang laksana raksasa yang hendak menerkam anak-anak yang sedang menangis”

Sebenarnya awalnya saya sedikit terganggu dengan kata-kata dalam bait ini. Seolah-olah kalimat ini menyebarkan paranoid bagi anak-anak kepada penampakan bulan purnama. Lha wong mbulan kok dipadhakke koyo buto. Lantas saya berpikir-pikir lagi lebih jauh, sehingga sampai ke dalam sebuah hipotesis: mungkin makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah bahwa bulan purnama adalah simbolisasi dari penguasa malam, dimana malam adalah simbol dari kegelapan. Dimana kegelapan identik dengan kejahatan atau sifat-sifat buruk yang disimbolkan dengan Buto alias raksasa. Sehingga menurut hipotesis saya, kalimat dalam bait tersebut mengandung makna sebuah pengharapan agar anak yang sedang digadang ini berani untuk melawan segala sifat-sifat buruk dalam dirinya maupun dalam lingkungan di sekitarnya sebagai lawan dari sifat-sifat baik yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, wis cep meneng anakku cah ayu (bagus); Tak emban slendang batik kawung, yen nangis mundak ibu bingung”

Setelah sekian lama, si anak tak kunjung diam dan terus menangis. Tapi si Ibu tetap sabar. Dengan penuh kasih sayang, sang Ibu mengusap-usap wajah anaknya dan terus menenangkannya sampai akhirnya si anak tertidur. “Timang-timang anakku sayang, ayo nak cepatlah diam. Kan kubuai engkai dalam sehelai selendang batik kawung. Kalau engkau menangis terus Ibu nanti bingung.”

Saya sedikit penasaran dengan penggunaan batik kawung dalam lagu ini. Kenapa batik kawung? Kenapa bukan batik yang lain? Batik parangrusak misalnya? Kemudian saya menemukan bahwa penggunaan batik kawung dalam kalimat tersebut tentu bukan semata-mata untuk mencocokkan rima agar nyambung (batik kawung dengan ibu bingung), tetapi karena batik kawung sendiri ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam tataran budaya masyarakat Jawa, dimana batik kawung mempunyai filosofi yang dalam tentang asal muasal penciptaan manusia serta simbol umur panjang dan kehidupan abadi. Kawung disebut juga aren atau kolang kaling. Buahnya yang manis, serta pohonnya yang tegak lurus tak bercabang melambangkan keagungan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam motif batik kawung, penampang buah kawung disusun secara diagonal berjajar terpusat dan simetris sehingga membentuk ilusi optik seolah-olah terlihat seperti bunga yang memiliki empat kelopak. Bunga empat kelopak sendiri menyimbolkan bunga teratai yang memberikan makna kesucian. Perpaduan antara bentuk bunga dan buah membawa arti harapan dan kesuburan. Sedangkan keempat arah dari kelopak bunga juga merefleksikan empat arah mata angin yang akan membawa cahaya kebijaksanaan. (Anne Ahira, "Keanggunan Batik Kawung: Inspirasi Dari Alam") Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dalam kalimat “tak emban slendang batik kawung” tersirat doa serta harapan orang tua yang begitu luar biasa kepada anaknya setelah dewasa nanti.

Kawung

Motif Batik Kawung

Yang jelas, saya mempunyai semacam ikatan emosional tersendiri dengan lagu ini. Peristiwa demi peristiwa di masa lalu ketika masih diasuh oleh ayah dan bunda seakan muncul secara gamblang bagaikan sebuah video yang di-rewind jauh ke belakang ketika mendengarkan lagu ini. Semoga kita tak akan pernah lupa dengan jasa-jasa orang tua yang telah mendoakan, membimbing, serta mengasuh kita tanpa lelah sejak kanak-kanak betapapun besar pengorbanannya, betapapun berat tantangannya, betapapun berliku jalannya, hingga kita seperti kita sekarang dengan peran kita masing-masing. Kelak, saya akan mendendangkan Lelo Ledhung juga buat anak saya nanti.. :)

Tak_Lelo_Ledhung.mp3 Listen on Posterous

Excerpt from “Tak Lelo-Ledhung”, composed by Markasan, performed by Sruti Respati/Sa’unine String Orchestra. © Tembi Rumah Budaya

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Wed, 30 Nov 2011 01:01:13 -0800 Sa' Unine Yang Tidak Asal Bunyi Dari Jogjakarta http://fanikovsky.posterous.com/sa-unine-yang-tidak-asal-bunyi-dari-jogjakart http://fanikovsky.posterous.com/sa-unine-yang-tidak-asal-bunyi-dari-jogjakart

Akhir-akhir ini saya mulai suka beli CD-CD lagu yang boleh dibilang "tidak lazim" dibeli orang. Setelah album Becak Fantasy-nya Jubing Kristianto dan Tafakur-nya Jaya Suprana, kemaren saya membawa pulang dua buah CD Album Masa Lalu Selalu Aktual dan Buaian Sepanjang Masa dari Sa' Unine String Orchestra.

459506435
Sa' Unine adalah kelompok musik gesek jebolan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta yang berdiri sejak tahun 1992. Ketika kuliah di Jogja dulu saya sering main ke ISI jauh di Sewon Bantul sana untuk sekedar menonton home concert mahasiswa-mahasiswa jurusan musik yang menampilkan repertoire lagu-lagu klasik. Tidak melulu lagu-lagu klasik, tetapi juga lagu-lagu populer yang diaransemen ala musik klasik. Lumayan, bisa menikmati musik-musik bermutu hanya dengan membayar 10 ribu rupiah. Dan musik semacam inilah yang coba ditampilkan oleh Sa' Unine dalam kedua albumnya.

Sa' Unine sendiri adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti "Sebunyinya" atau "Asal Bunyi". Walau demikian, karya yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah bunyi-bunyian yang asal bunyi ataupun suara-suara gedombrangan nggak karuan, sebaliknya mereka menampilkan bunyi-bunyian alat musik gesek nan elegan yang mengingatkan saya dengan Serenade for Strings-nya Tchaikovsky atau The Four Seasons-nya Antonio Vivaldi. Namun dalam kedua albumnya, repertoar yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah repertoar komposisi Mozart atau Beethoven, akan tetapi lagu-lagu lokal serta lagu-lagu daerah yang menjadi kekayaan budaya bangsa, sehingga kemudian anda akan menemukan lagu Ilir-Ilir dan Padang Bulan terdengar seperti symphony dari antah berantah, tidak terdengar seperti lagu dolanan rakyat Jawa. Demikian pula dengan lagu Gundul Gundul Pacul, Jaranan, dan Cublak-Cublak Suweng yang diaransemen unik dengan teknik pizzicato (strings yang dimainkan dengan cara dipetik, bukan digesek) yang digubah ke dalam sebuah komposisi medley berjudul Dolanan Pizzicato.

Dalam album Masa Lalu Selalu Aktual memang dominan ditampilkan lagu-lagu daerah (dominan Jawa sih) serta lagu-lagu Indonesia dari masa lampau semacam Sapu Lidi dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama yang walaupun jadul namun masih terasa abadi untuk didengarkan. Sedangkan album Buaian Sepanjang Masa menampilkan lagu-lagu yang akrab diperdengarkan sebagai lagu pengantar tidur semacam lagu Tak Lelo Ledhung atau Timang-Timang yang akan membawa kita melayang dalam lamunan akan kenangan masa kecil ketika kita masih berada dalam buaian ibunda.

Pendek kata, apabila anda sudah mulai bosan dengan lagu-lagu yang sering muncul di tivi sekarang, atau sekedar ingin mencari suasana lain, album dari Sa' Unine ini pantas untuk anda dapatkan. Sekedar informasi, untuk mendapatkan album dari Sa' Unine ini silahkan menghubungi Rumah Budaya Tembi Jakarta di Jl. Gandaria I No. 47 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan karena tidak dijual di toko-toko kaset. Oiya, kalau mau dengerin aja dulu sampel lagu-lagunya di sini.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Fri, 24 Sep 2010 01:23:00 -0700 What A Wonderful World http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world

Dulu saya sering make nada sambung pribadi untuk nomor ponsel saya. Iseng aja, sekedar ngasih hiburan buat orang-orang yang mau nelfon. (Halah, kayak banyak yang nelpon aja :p) Sekarang-sekarang sih udah males pake nada sambung semacem itu. Sayang aja buang-buang beberapa ribu pulsa buat bayar biaya bulanannya :D Nah, salah satu lagu yang pernah saya pakai sebagai nada sambung pribadi adalah "What A Wonderful World" milik Louis Armstrong. Dan saya masih ingat waktu itu beberapa teman yang pernah mendengarkan nada sambung pribadi itu suka komentar yang menyebalkan: “Lagu apaan seh? Gak jelas…” atau “Woi, apaan nih? Kagak ada lagu yang kerènan dikit apa?” Ayolah guys, emang gak pernah denger? Lagu keren ini mah. Biarpun jadul tapi punya makna yang mendalam. Coba aja denger lagunya:

Louis Armstrong, yang juga memiliki nama samaran Satchmo, semasa hidupnya dari tahun 1901 hingga 1971 dikenal sebagai musisi jazz yang piawai. Tidak hanya sebagai penyanyi, namun juga sebagai pemain trumpet, band leader, juga sekaligus sebagai entertainer yang dicintai banyak orang. Satchmo pula lah yang dikenal banyak mengembangkan style swing, yang kemudian menjadi dasar dari kebanyakan musik jazz dan RnB saat ini. Juga jangan lupakan pula jasanya dalam mengembangkan bentuk dasar improvisasi dalam musik jazz.

Kontras sekali dengan kehidupan awalnya yang didera kemiskinan dan bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah, Louis Armstrong menuai kesuksesan dalam karir musiknya dan kemudian menjadi semacam duta tak resmi bagi Amerika dalam bidang musik. Dalam perjalanan karirnya Louis Armstrong telah tampil di berbagai belahan dunia dan mengeluarkan banyak hits seperti “Mack The Knife”, “Hello Dolly”, “Blueberry Hill”, “When You Wish Upon a Star”, dan juga tentu saja “What A Wonderful World”.

Nah, bicara tentang “What A Wonderful World”, lagu ini menjadi menarik untuk dibahas karena dalam pemahaman saya seolah-olah di dalam lagu ini Louis Armstrong mengajak kita untuk senantiasa memandang dunia dari sisi positif, memandang dunia dengan penuh rasa optimis, seburuk apapun keadaan nyatanya. Sekarang coba bayangkan. Semasa Louis Armstrong hidup, rasisme hidup begitu subur di Amerika. Adanya rasisme menyebabkan warga kulit hitam—tak terkecuali Louis Armstrong—kehilangan banyak haknya di ruang publik. Warga kulit hitam dibedakan dengan warga kulit putih hanya untuk sekedar menikmati fasilitas umum, bahkan warga kulit hitam juga diburu dikejar-kejar untuk kemudian dibunuh—seperti yang dilakukan oleh organisasi teror Ku Klux Klan (KKK). Pendek kata, saat itu warga kulit hitam tak lebih dari hanya sekedar warga negara kelas kambing, dan saya yakin ini bukanlah hal yang menyenangkan bagi para warga Afro-American tersebut. Tapi secara kontras, Louis Armstrong malah berkata-kata dalam lagunya:

I see trees are green, red roses too..

I see them bloom for me and you..

And I think to myself:

"What a wonderful world…"

Wah, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa..

Nah, kalau kita lihat kondisi dunia saat ini yang acakadut—perang di satu sisi, ketimpangan sosial merajalela, kejahatan menggila, bencana alam mendera, terorisme dimana-mana, belum lagi kekerasan antar umat beragama—lantas timbul pertanyaan skeptis: “Masihkah dunia dapat menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman bagi kita semua?”, mari kita dengarkan lagi kata-kata Louis Armstrong:

The colours of the rainbow so pretty in the sky

Are also on the faces of people going by

I see friends shaking hands, sayin' "how do you do?"

They're really sayin' "I love you"

I hear babies cryin', I watch them grow

They'll learn much more than I'll ever know

And I think to myself: "what a wonderful world"

 

Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog friendster saya pada 18 Desember 2006. Telah diedit seperlunya.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 23 Sep 2010 21:39:00 -0700 Classical For Life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life

Saya penggila musik klasik. (Walaupun akhir-akhir ini sedang jarang dengerin.) Mungkin bukan selera musik yang terlalu umum ya, tapi entah kenapa saya suka sekali mendengarkan nada-nada yang mungkin terdengar ruwet bagi banyak orang itu. Saya suka mendengarkan detilnya, dan seolah-olah nada-nada dari tiap komposisi klasik tersebut menari-nari berlompatan nakal dalam telinga saya. Nokturno melankolis Chopin, sonata-sonata piano Beethoven, lagu-lagu balet serta beberapa simfoni Tchaikovsky, komposisi ceria Mozart, serta beberapa karya biola yang riang milik Kreisler adalah beberapa komposisi yang saya suka. 

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi kesenangan saya terhadap musik klasik dengan seorang teman yang (pada waktu itu) akan mempunyai bayi. Teman saya ini memerlukan bantuan untuk mencarikan lagu-lagu klasik yang bagus buat si jabang bayinya ini, dan saya senang sekali berbagi beberapa lagu yang saya punya. Udah tau kan kalau musik klasik katanya bagus buat janin dan bayi? Yeah, nggak cuman buat janin saja sih, tapi juga bermanfaat bagi kehidupan manusia secara umum. Nah, disini saya nggak akan membahas bagaimana manfaat musik klasik tersebut bagi kehidupan, silahkan aja anda googling sendiri dan anda akan menemukan ratusan bahkan ribuan hasil pencarian yang terkait. Melanjutkan cerita tentang teman saya tadi, pada akhirnya saya cukup takjub ketika setelah bayinya lahir, teman saya ini memberikan kesaksian tentang pengaruh musik klasik bagi bayinya. Demikian kesaksian teman saya tersebut dalam sebuah jejaring sosial (nama sengaja disamarkan) :

Plurk-2

Keren. Saya juga akan memperdengarkan musik klasik buat anak saya kelak. :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Sat, 04 Sep 2010 09:25:00 -0700 Sendiri http://fanikovsky.posterous.com/sendiri http://fanikovsky.posterous.com/sendiri

sendiri berjalan ditengah malam nan sepi 

kian jauh melangkah semakin gelisah.

sendiri termenung di larut malam nan hening

hatiku s'makin gundah oh mata membasah.

bayu dingin lalu dan bintang mengedip sayu

rembulan menyuram tiada terbayang harapan...

sendiri melangkah di jalan remang membisu

kunanti engkau sinar bersama sang fajar...


"Sendiri", dipopulerkan oleh Chrisye. Ciptaan Guruh Soekarno Putra. Bagian dari album Chrisye berjudul sama produksi tahun 1984. Lagu yang sudah lama saya cari-cari dan baru-baru ini saja secara kebetulan saya temukan di postingan teman di salah satu jejaring sosial. Konyolnya, saya baru nyadar kalau ternyata saya mengenal kaset album ini sebagai salah satu album di rak-rak kaset jadul milik ayah saya di rumah.

Lagu ini terdengar begitu muram dan kelam. Terlebih lagi dengan iringan arpeggio piano Addie MS yang emosional. Yang jelas, lagu ini sedang mengendap di kepala saya dan terngiang terus dalam benak. Karena--yah--itulah yang sedang saya rasakan sekarang.
Sendiri.

 

Chrisye_-_Sendiri.mp3 Listen on Posterous


Chrisye_sendiri

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Thu, 01 Jul 2010 02:42:00 -0700 un moment musicaux http://fanikovsky.posterous.com/un-moment-musicaux http://fanikovsky.posterous.com/un-moment-musicaux

Saya cinta sekali dengan piano. Walaupun gak jago-jago amat sih mainnya. Terlebih lagi udah lama banget saya gak megang alat musik ini. Tapi tiba-tiba saja saya dua malam yang lalu kumat mellow. Seisi rumah sedang pada pergi, dan sayang sekali apabila benda ini saya biarin nganggur begitu saja. Beberapa hari sebelumnya, lagu "Ben" milik mendiang Michael Jackson terus terngiang-ngiang di kepala saya. Dan malam itu, lagu ini saya dedikasikan untuk mengenang beliau..

(piano & vokal oleh saya sendiri. dimainkan dalam tangga nada F major. direkam seadanya dengan ponsel saya pada 29 juni 2010. telah mengalami proses edit seperlunya.)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Tue, 01 Jun 2010 01:57:00 -0700 Wavin' Flag http://fanikovsky.posterous.com/wavin-flag-11 http://fanikovsky.posterous.com/wavin-flag-11

Ini lagu yang sedang saya suka akhir-akhir ini. Menjelang Piala Dunia, lagu ini sangat populer dan sering sekali diperdengarkan di televisi sebagai Theme Song Piala Dunia 2010. Tapi tidak banyak yang tau bahwa lagu ini mempunyai versi asli yang berbeda dari apa yang banyak dikenal orang. Lirik yang berbeda, dan pesan yang berbeda. Versi asli lagu ini ada di dalam Album "Troubadour" milik K'Naan, sebagai singel ketiga. Ini dia liriknya:

When i get older, they'll call me freedom
Just like a Waving Flag.

[Chorus]
When I get older, I will be stronger,
They'll call me freedom, just like a Waving Flag,
And then it goes back, and then it goes back,
And then it goes back

Born to a throne, stronger than Rome
but Violent prone, poor people zone,
But it's my home, all I have known,
Where I got grown, streets we would roam.
But out of the darkness, I came the farthest,
Among the hardest survival.
Learn from these streets, it can be bleak,
Except no defeat, surrender retreat,

So we struggling, fighting to eat and
We wondering when we'll be free,
So we patiently wait, for that fateful day,
It's not far away, so for now we say

[Chorus]

So many wars, settling scores,
Bringing us promises, leaving us poor,
I heard them say, love is the way,
Love is the answer, that's what they say,
But look how they treat us, Make us believers,
We fight their battles, then they deceive us,
Try to control us, they couldn't hold us,
Cause we just move forward like Buffalo Soldiers.

But we struggling, fighting to eat,
And we wondering, when we'll be free
So we patiently wait, for that faithful day,
It's not far away, but for now we say,

[Chorus] 2x

(Ohhhh Ohhhh Ohhhhh Ohhhh)
And everybody will be singing it
(Ohhhh Ohhhh Ohhhhh Ohhhh)
And you and I will be singing it
(Ohhhh Ohhhh Ohhhhh Ohhhh)
And we all will be singing it
(Ohhh Ohh Ohh Ohh)

[Chorus] 2x

When I get older, when I get older
I will be stronger, just like a Waving Flag,
Just like a Waving Flag, just like a Waving flag
Flag, flag, Just like a Waving Flag

K'Naan_-_Wavin'_Flag.wma Listen on Posterous

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -