C'est La Vie http://fanikovsky.posterous.com a little sneak peek of life posterous.com Wed, 25 Jan 2012 00:03:00 -0800 Kisah Tentang Kantor, Wanita, dan Ombus-Ombus http://fanikovsky.posterous.com/kisah-tentang-kantor-wanita-dan-ombus-ombus http://fanikovsky.posterous.com/kisah-tentang-kantor-wanita-dan-ombus-ombus

Chapter I

Tiga tahun terakhir ini saya berjuang mencari nafkah di rimba Jakarta Raya. Kota yang bagi sebagian orang berarti harapan. Seperti cahaya yang bersinar terang menyeruak dari balik cakrawala di kala fajar (halah!). Tak heran Jakarta selalu dikerubuti kaum urban yang sedang menggantungkan asa dan harapan demi masa depan. Persis seperti laron yang berebutan mengerubungi lampu jalan setelah hujan. Dan salah satu dari laron-laron itu ya termasuk saya sendiri.

Kantor saya berada di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah kawasan perkantoran yang (katanya) elit di Jakarta dengan gedung-gedung tinggi menjulang, dengan orang-orang elit seperti saya yang bekerja di berbagai bidang, mulai dari sektor jasa, perdagangan, sampai pemerintahan. Semuanya berebut berladang, berburu dan meramu di kawasan ini, tidak sekedar untuk memberi arti bagi hidupnya masing-masing, tetapi juga demi memanen sejumlah rupiah, segenggam emas, dan sebongkah berlian untuk menyambung hidup.

Beberapa waktu yang lalu, pengamanan kantor tempat saya bekerja tidak seketat sekarang. Orang bebas keluar masuk dan berlalu lalang. Akibatnya, muncul orang-orang dari antah berantah yang secara ajaib masuk ke ruangan-ruangan dari lantai ke lantai menawarkan barang-barang A sampai Z. Kadang muncul pedagang barang-barang elektronik yang barangnya persis seperti dijajakan di metro mini. Ada juga cewek-cewek sales jam tangan berharga miring yang suka sok akrab. Kadang ada juga sales tempat hiburan, penjual kacamata, penjual alat-alat dapur, pedagang makanan, dan bahkan pedagang VCD bajakan! Ampun. Kantor kok kayak pasar.

Semenjak adanya pergantian pucuk pimpinan pada unit kerja yang saya tempati, pemandangan orang-orang ajaib tadi secara drastis menjadi berkurang, walaupun masih ada beberapa pedagang yang bisa berlalu lalang. Sebenarnya kadang saya suka kasihan melihat mereka. Kadang saya membayangkan, gimana kalau saya jadi orang-orang itu. Ngider kesana kemari menawarkan sesuatu produk. Alih-alih barangnya laku, baru nongol nyengir doang di pintu masuk aja para penghuni ruangan udah pada buang muka duluan. Dasar nasib. Makanya saya selalu menjaga untuk sesopan mungkin menolak apabila sudah ndak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan. Karena mereka ya sama seperti kita-kita. Hanya berusaha bertahan hidup di tengah rimba Jakarta ini. Meskipun kadang saya dan partner saya yang jail di ruangan kalo lagi kumat suka ngerjain sales yang tengil. Dengan semangat '45 nanya-nanya ampe berbusa-busa dari A sampai Z sampai A lagi tentang produknya, tapi ujung-ujungnya gak beli dan berkelit dengan 1013 alasan (karena emang dari awal gak niat beli). Salah sendiri tengil. :p

Chapter II

Wanita itu muncul kembali di kantor pada suatu siang. Memang wanita itu cukup sering menyambangi kantor saya, menjajakan dagangannya berkeliling. Wanita itu adalah seorang ibu berumur setengah baya berperawakan agak gemuk, berpenampilan lusuh dan selalu menjinjing sebuah kotak kardus bekas wadah minuman ringan. Saya mengenal wanita itu mungkin hampir selama saya bekerja di kantor ini. Saya masih ingat ketika pertama kali melihatnya muncul di pintu ruangan dan bersuara: “Ombus-ombus, Bu”. Saya ingat bagaimana saya tertegun saat pertama kali mendengar kata asing itu. Hee? Ombus-ombus? Opo kuwi? Tidak perlu terlalu lama saya larut dalam penasaran, kemudian wanita itu berkata lagi: “Ombus-ombus Nang, kue dari Medan.” Lalu saya manggut-manggut dan menyahut dalam hati “Oooo kue dari Medan..” Sebagai orang Jawa tulen, pantas saja saya terheran-heran pertama kali mendengar kata asing yang terkesan agak lucu di telinga itu. Abis jajanan yang saya tau dari Medan cuman bika ambon dan bolu meranti doang. :D

Saya yakin wanita itu tidak pernah ikut mata kuliah teori marketing. Apalagi mengenal Rhenald Kasali atau Philip Kotler. Wanita itu juga tidak sekenes si mbak-mbak pedagang kue dalam menjajakan dagangannya. Produk yang dijajakannya juga terbatas tidak seperti kue-kuenya si mbak-mbak tadi yang lebih menarik dan berwarna warni. Akibatnya, saya lebih sering melihat ibu ini melangkah gontai karena lebih sering mendapat penolakan. Ada juga sih ibu-ibu di ruangan yang kasihan dan membeli dagangannya beberapa buah. Tapi sepanjang pengamatan saya, orang lebih sering berkata “Ndak Bu” ketika wanita ini menawarkan dagangannya. Malah terkadang beliau ini jadi bahan candaan dan ejekan orang-orang--di belakang tentu saja, nggak di depannya. Trenyuh ya? Tapi ibu ini tetap tidak patah semangat dan dengan wajahnya yang polos terus berkeliling menjajakan dagangannya.

Siang itu saya menjumpai wanita itu lagi. Sebelumnya saya sudah berniat membeli dagangannya barang satu atau dua biji saat wanita itu muncul. Dan ketika si Ibu ini nongol di pintu ruangan, saya langsung memanggilnya. “Berapaan ini Bu?”, tanya saya saat si Ibu menggelar dagangannya di meja dan membuka kardus jinjingannya. “Dua ribuan Nang,” jawab si Ibu. “Beli sepuluh ribu aja deh,” kata saya lagi. Dengan berseri-seri si Ibu ini mengeluarkan lima buah kue yang dibalut daun pisang ini dan mengemasnya dalam sebuah kantong plastik. “Jualannya ke mana aja Bu?” tanya saya. “Deket-deket sini aja Nang,” jawab beliau. “Ini segini abis semua Bu tiap hari?” tanya saya lagi. “Biasanya abis kok Nang.” Jawab beliau. Jadi, dalam kardus jinjingannya si Ibu ini membawa beberapa puluh buah kue Ombus-ombus. Sekitar 40-60 buah menurut beliau, saya lupa pastinya. Dan setelah transaksi selesai, lalu Ibu itu melangkah pergi dan berkeliling lagi. Waktu itu dagangannya tinggal sedikit yang tersisa.

Saya buka satu buah kue hasil transaksi tadi. Masih hangat. Ketika saya buka daun pisang yang membalutnya, terpancar aroma wangi. Jadi ternyata Ombus-ombus ini kalau di Jawa mirip-mirip dengan kue putu. Terbuat dari tepung beras, dengan isian gula jawa di dalamnya. Bedanya, ombus-ombus ini dibungkus dengan daun pisang. Enak kalau dimakan selagi hangat. Ombus-ombus sendiri menurut bahasa asalnya berarti “Tiup-tiup”. Jadi ceritanya, di daerah Siborong-borong di Tapanuli Utara tempat asal ombus-ombus, jajanan ini dijual selagi panas sehingga untuk memakannya harus ditiup-tiup dulu. Cocok buat teman ngeteh atau ngopi di sore hari!

Ombus-ombus
Rupa Ombus-Ombus. Saya ndak sempet ambil foto, gambar minjem dari http://www.blogceria.com/userfiles/uploads/Ombus-ombus.jpg

Epilog

“Ombus-ombus Nang.” Saya agak tertegun mendengar suara yang saya kenal itu. Rupanya Ibu si penjual ombus-ombus yang muncul. Memang jam-jam beliau biasa nongol adalah sekitar sebelum jam makan siang. Karena kebetulan sedang sibuk, dan juga pas lagi nggak begitu kepingin jajan—maklum lagi diet, saya menggeleng sambil tersenyum. “Enggak dulu Bu”, kata saya. Tapi saya berjanji dalam hati, nanti sesekali saya akan beli lagi. Bukan karena suka banget sih, apalagi saya kurang suka jajanan manis, saya kan udah manis tapi untuk menghargai keberadaan orang-orang kecil seperti penjual Ombus-ombus ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, beliau ini yah seperti kita-kita juga. Mencoba bertahan hidup di tengah ganasnya rimba kehidupan ini. Banyak kok orang-orang seperti ini di sekitar kita. Orang-orang yang bekerja di sektor informal yang bekerja keras dan pantang meminta-minta walaupun hasilnya tidak seberapa. Dan inilah cara yang tepat untuk peduli dan menghargai keberadaan mereka: dengan menggunakan jasa/membeli dagangan mereka. Kalaupun tidak suka ataupun berkenan, jangan menyakiti mereka. 

Oiya, nanti kalau anda kebetulan bertemu dengan penjual ombus-ombus yang saya ceritakan tadi, cobalah beli dagangannya satu atau dua. Lumayan enak kok rasanya. Tidak ada salahnya mencoba. :)

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 06 Dec 2011 00:25:00 -0800 Lelo Ledhung & Romantisme Masa Lalu http://fanikovsky.posterous.com/lelo-ledhung-dan-kisah-romantisme-masa-lalu http://fanikovsky.posterous.com/lelo-ledhung-dan-kisah-romantisme-masa-lalu

Saya tidak habis pikir, kenapa ada beberapa lagu tertentu yang bisa begitu saja muncul dan berputar-putar terus menerus dalam kepala saya. Salah satunya ya ini, lagu Lelo Ledhung. Not demi not bermunculan di kepala dan membius saya sehingga tanpa sadar saya kadang sering terdengar menggumamkannya. Mungkin banyak yang mengenal lagu ini sebagai lagu tradisional masyarakat Jawa yang biasa didendangkan untuk meninabobokan anaknya. Saya sendiri tidak ingat sih apakah dulu ibu saya juga mendendangkan lagu ini kepada saya waktu saya kecil dulu. Tapi entah kenapa saya seolah-olah merasakan tenggelam dalam romantisme masa lalu ketika mendengar lagu ini. Terus terang ini bukan lagu biasa, bukan lagu Jawa biasa, dan bukan lagu nina bobo biasa. Dalam lirik-liriknya, kita akan menemukan nilai-nilai luhur, harapan dan doa, sekaligus simbol ketulusan orang tua dalam membesarkan anaknya yang seringkali penuh hambatan dan tantangan.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, cep menenga aja pijer nangis; Anakku sing ayu (bagus) rupane, yen nangis ndak ilang ayune (baguse)”

Imajinasi saya melayang-layang membayangkan sebuah suasana pedesaan di Jawa, di depan sebuah rumah berdinding bambu, dalam temaram sinar lampu minyak pada suatu malam, ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terus menerus rewel menangis seraya bersenandung: “Timang-timang anakku sayang, janganlah engkau menangis. Hilang nanti cantik/tampanmu kalau engkau menangis”

“Tak gadang bisa urip mulyo, dadiyo wanito (priyo kang) utomo; Ngluhurke asmane wong tuwa, dadiyo pandekaring bangsa”

Dalam hening malam yang ditimpali derik suara jangkrik, dan desir dedaunan yang tertiup angin, Ibu tersebut terus bersenandung dan mendoakan anaknya: “Semoga kelak engkau bisa hidup sejahtera dalam kemuliaan, nak. Jadilah engkau pribadi yang utama, pribadi yang istimewa, pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur, sebuah pribadi yang mampu mengharumkan nama orang tua, juga mampu berbakti dan memberi arti bagi bangsa dan negara.”

“Wis cep menenga anakku, kae mbulane ndadari; Kaya buto nggegilani, lagi nggoleki cah nangis”

Dalam bayangan saya, Ibu tersebut menjadi agak gelisah. Sambil terus menggendong dan menenangkan anaknya yang menangis, dia bolak balik berdiri, lalu duduk di sebuah bale-bale bambu, lalu bangkit lagi seraya menunjuk ke arah bulan purnama yang bergelantungan di kelamnya langit malam. “Ayo tenanglah anakku, lihatlah disana rembulan bersinar terang laksana raksasa yang hendak menerkam anak-anak yang sedang menangis”

Sebenarnya awalnya saya sedikit terganggu dengan kata-kata dalam bait ini. Seolah-olah kalimat ini menyebarkan paranoid bagi anak-anak kepada penampakan bulan purnama. Lha wong mbulan kok dipadhakke koyo buto. Lantas saya berpikir-pikir lagi lebih jauh, sehingga sampai ke dalam sebuah hipotesis: mungkin makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah bahwa bulan purnama adalah simbolisasi dari penguasa malam, dimana malam adalah simbol dari kegelapan. Dimana kegelapan identik dengan kejahatan atau sifat-sifat buruk yang disimbolkan dengan Buto alias raksasa. Sehingga menurut hipotesis saya, kalimat dalam bait tersebut mengandung makna sebuah pengharapan agar anak yang sedang digadang ini berani untuk melawan segala sifat-sifat buruk dalam dirinya maupun dalam lingkungan di sekitarnya sebagai lawan dari sifat-sifat baik yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, wis cep meneng anakku cah ayu (bagus); Tak emban slendang batik kawung, yen nangis mundak ibu bingung”

Setelah sekian lama, si anak tak kunjung diam dan terus menangis. Tapi si Ibu tetap sabar. Dengan penuh kasih sayang, sang Ibu mengusap-usap wajah anaknya dan terus menenangkannya sampai akhirnya si anak tertidur. “Timang-timang anakku sayang, ayo nak cepatlah diam. Kan kubuai engkai dalam sehelai selendang batik kawung. Kalau engkau menangis terus Ibu nanti bingung.”

Saya sedikit penasaran dengan penggunaan batik kawung dalam lagu ini. Kenapa batik kawung? Kenapa bukan batik yang lain? Batik parangrusak misalnya? Kemudian saya menemukan bahwa penggunaan batik kawung dalam kalimat tersebut tentu bukan semata-mata untuk mencocokkan rima agar nyambung (batik kawung dengan ibu bingung), tetapi karena batik kawung sendiri ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam tataran budaya masyarakat Jawa, dimana batik kawung mempunyai filosofi yang dalam tentang asal muasal penciptaan manusia serta simbol umur panjang dan kehidupan abadi. Kawung disebut juga aren atau kolang kaling. Buahnya yang manis, serta pohonnya yang tegak lurus tak bercabang melambangkan keagungan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam motif batik kawung, penampang buah kawung disusun secara diagonal berjajar terpusat dan simetris sehingga membentuk ilusi optik seolah-olah terlihat seperti bunga yang memiliki empat kelopak. Bunga empat kelopak sendiri menyimbolkan bunga teratai yang memberikan makna kesucian. Perpaduan antara bentuk bunga dan buah membawa arti harapan dan kesuburan. Sedangkan keempat arah dari kelopak bunga juga merefleksikan empat arah mata angin yang akan membawa cahaya kebijaksanaan. (Anne Ahira, "Keanggunan Batik Kawung: Inspirasi Dari Alam") Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dalam kalimat “tak emban slendang batik kawung” tersirat doa serta harapan orang tua yang begitu luar biasa kepada anaknya setelah dewasa nanti.

Kawung

Motif Batik Kawung

Yang jelas, saya mempunyai semacam ikatan emosional tersendiri dengan lagu ini. Peristiwa demi peristiwa di masa lalu ketika masih diasuh oleh ayah dan bunda seakan muncul secara gamblang bagaikan sebuah video yang di-rewind jauh ke belakang ketika mendengarkan lagu ini. Semoga kita tak akan pernah lupa dengan jasa-jasa orang tua yang telah mendoakan, membimbing, serta mengasuh kita tanpa lelah sejak kanak-kanak betapapun besar pengorbanannya, betapapun berat tantangannya, betapapun berliku jalannya, hingga kita seperti kita sekarang dengan peran kita masing-masing. Kelak, saya akan mendendangkan Lelo Ledhung juga buat anak saya nanti.. :)

Tak_Lelo_Ledhung.mp3 Listen on Posterous

Excerpt from “Tak Lelo-Ledhung”, composed by Markasan, performed by Sruti Respati/Sa’unine String Orchestra. © Tembi Rumah Budaya

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Fri, 24 Sep 2010 01:23:00 -0700 What A Wonderful World http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world

Dulu saya sering make nada sambung pribadi untuk nomor ponsel saya. Iseng aja, sekedar ngasih hiburan buat orang-orang yang mau nelfon. (Halah, kayak banyak yang nelpon aja :p) Sekarang-sekarang sih udah males pake nada sambung semacem itu. Sayang aja buang-buang beberapa ribu pulsa buat bayar biaya bulanannya :D Nah, salah satu lagu yang pernah saya pakai sebagai nada sambung pribadi adalah "What A Wonderful World" milik Louis Armstrong. Dan saya masih ingat waktu itu beberapa teman yang pernah mendengarkan nada sambung pribadi itu suka komentar yang menyebalkan: “Lagu apaan seh? Gak jelas…” atau “Woi, apaan nih? Kagak ada lagu yang kerènan dikit apa?” Ayolah guys, emang gak pernah denger? Lagu keren ini mah. Biarpun jadul tapi punya makna yang mendalam. Coba aja denger lagunya:

Louis Armstrong, yang juga memiliki nama samaran Satchmo, semasa hidupnya dari tahun 1901 hingga 1971 dikenal sebagai musisi jazz yang piawai. Tidak hanya sebagai penyanyi, namun juga sebagai pemain trumpet, band leader, juga sekaligus sebagai entertainer yang dicintai banyak orang. Satchmo pula lah yang dikenal banyak mengembangkan style swing, yang kemudian menjadi dasar dari kebanyakan musik jazz dan RnB saat ini. Juga jangan lupakan pula jasanya dalam mengembangkan bentuk dasar improvisasi dalam musik jazz.

Kontras sekali dengan kehidupan awalnya yang didera kemiskinan dan bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah, Louis Armstrong menuai kesuksesan dalam karir musiknya dan kemudian menjadi semacam duta tak resmi bagi Amerika dalam bidang musik. Dalam perjalanan karirnya Louis Armstrong telah tampil di berbagai belahan dunia dan mengeluarkan banyak hits seperti “Mack The Knife”, “Hello Dolly”, “Blueberry Hill”, “When You Wish Upon a Star”, dan juga tentu saja “What A Wonderful World”.

Nah, bicara tentang “What A Wonderful World”, lagu ini menjadi menarik untuk dibahas karena dalam pemahaman saya seolah-olah di dalam lagu ini Louis Armstrong mengajak kita untuk senantiasa memandang dunia dari sisi positif, memandang dunia dengan penuh rasa optimis, seburuk apapun keadaan nyatanya. Sekarang coba bayangkan. Semasa Louis Armstrong hidup, rasisme hidup begitu subur di Amerika. Adanya rasisme menyebabkan warga kulit hitam—tak terkecuali Louis Armstrong—kehilangan banyak haknya di ruang publik. Warga kulit hitam dibedakan dengan warga kulit putih hanya untuk sekedar menikmati fasilitas umum, bahkan warga kulit hitam juga diburu dikejar-kejar untuk kemudian dibunuh—seperti yang dilakukan oleh organisasi teror Ku Klux Klan (KKK). Pendek kata, saat itu warga kulit hitam tak lebih dari hanya sekedar warga negara kelas kambing, dan saya yakin ini bukanlah hal yang menyenangkan bagi para warga Afro-American tersebut. Tapi secara kontras, Louis Armstrong malah berkata-kata dalam lagunya:

I see trees are green, red roses too..

I see them bloom for me and you..

And I think to myself:

"What a wonderful world…"

Wah, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa..

Nah, kalau kita lihat kondisi dunia saat ini yang acakadut—perang di satu sisi, ketimpangan sosial merajalela, kejahatan menggila, bencana alam mendera, terorisme dimana-mana, belum lagi kekerasan antar umat beragama—lantas timbul pertanyaan skeptis: “Masihkah dunia dapat menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman bagi kita semua?”, mari kita dengarkan lagi kata-kata Louis Armstrong:

The colours of the rainbow so pretty in the sky

Are also on the faces of people going by

I see friends shaking hands, sayin' "how do you do?"

They're really sayin' "I love you"

I hear babies cryin', I watch them grow

They'll learn much more than I'll ever know

And I think to myself: "what a wonderful world"

 

Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog friendster saya pada 18 Desember 2006. Telah diedit seperlunya.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 23 Sep 2010 21:39:00 -0700 Classical For Life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life

Saya penggila musik klasik. (Walaupun akhir-akhir ini sedang jarang dengerin.) Mungkin bukan selera musik yang terlalu umum ya, tapi entah kenapa saya suka sekali mendengarkan nada-nada yang mungkin terdengar ruwet bagi banyak orang itu. Saya suka mendengarkan detilnya, dan seolah-olah nada-nada dari tiap komposisi klasik tersebut menari-nari berlompatan nakal dalam telinga saya. Nokturno melankolis Chopin, sonata-sonata piano Beethoven, lagu-lagu balet serta beberapa simfoni Tchaikovsky, komposisi ceria Mozart, serta beberapa karya biola yang riang milik Kreisler adalah beberapa komposisi yang saya suka. 

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi kesenangan saya terhadap musik klasik dengan seorang teman yang (pada waktu itu) akan mempunyai bayi. Teman saya ini memerlukan bantuan untuk mencarikan lagu-lagu klasik yang bagus buat si jabang bayinya ini, dan saya senang sekali berbagi beberapa lagu yang saya punya. Udah tau kan kalau musik klasik katanya bagus buat janin dan bayi? Yeah, nggak cuman buat janin saja sih, tapi juga bermanfaat bagi kehidupan manusia secara umum. Nah, disini saya nggak akan membahas bagaimana manfaat musik klasik tersebut bagi kehidupan, silahkan aja anda googling sendiri dan anda akan menemukan ratusan bahkan ribuan hasil pencarian yang terkait. Melanjutkan cerita tentang teman saya tadi, pada akhirnya saya cukup takjub ketika setelah bayinya lahir, teman saya ini memberikan kesaksian tentang pengaruh musik klasik bagi bayinya. Demikian kesaksian teman saya tersebut dalam sebuah jejaring sosial (nama sengaja disamarkan) :

Plurk-2

Keren. Saya juga akan memperdengarkan musik klasik buat anak saya kelak. :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 23 Sep 2010 00:52:00 -0700 Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get. http://fanikovsky.posterous.com/life-was-like-a-box-of-chocolates-you-never-k http://fanikovsky.posterous.com/life-was-like-a-box-of-chocolates-you-never-k

Dsc_0357

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

Barangkali itulah kutipan yang paling diingat orang dari film Forrest Gump. Tapi saya sih ndak ambil pusing dengan kata-kata Mr. Gump tersebut. Dan empat butir coklat diatas-lah yang saya pilih ketika saya disodorin sekotak coklat sisa lebaran yang dibawa rekan kantor tadi pagi. Lumayan buat kudapan sebelum makan siang.. =))

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky