C'est La Vie http://fanikovsky.posterous.com a little sneak peek of life posterous.com Tue, 18 Jan 2011 00:52:00 -0800 Foamy Conversation When Stomach Calls http://fanikovsky.posterous.com/foamy-conversation-when-stomach-calls http://fanikovsky.posterous.com/foamy-conversation-when-stomach-calls

Maknyus
Rasa-rasanya pikiran saya akhir-akhir ini gak jauh-jauh dari makanan (Tulisan saya dimana-mana lama kelamaan isinya juga gak jauh-jauh dari makanan :D). Kayak tadi siang. Ada temen nulis apaaa di fesbuk ujung-ujungnya malah komennya nyambung ke makanan. Haduh, jadi pengen bebek sambel korek lagi. Bayangkan, sebuah malam yang dingin di musim ujan, ngadepin piring dengan nasi putih mengepul, sepotong bebek yang digoreng kering yang baru saja diangkat dari pengorengan, dan lengkap dengan secawan sambel korek yang aduhai rasanya. Pedas dan spicy, sampai bulir-bulir keringat menetes dari ubun-ubun diiringi desisan mulut kepedesan. Waaahh.. Sensasinya itu lho, sampai-sampai cuman sekedar membayangkannya aja saya sampai ngiler..

Dsc_0774
Bebek goreng sambel korek langganan saya di Jl. Raya Gandul, Cinere. Lupa nama tempatnya. Tapi rasa bebek dan sambelnya gak kalah sama Bebek H. Slamet. Maknyoss!

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 04 Jan 2011 23:45:32 -0800 Republic Noodlenesia http://fanikovsky.posterous.com/republic-noodlenesia http://fanikovsky.posterous.com/republic-noodlenesia

Kalau ada makanan yang paling saya gemari di jagad perkulineran, mungkin salah satunya adalah mie. Track record saya menggemari varian mie telah berawal sejak saya kecil. Saat itu saya paling suka dengan jajanan Anak Mas, Krip-Krip, dan Mamee, sejenis noodle snack yang sesuai dengan namanya berupa mie yang didesain tidak terlalu keras agar bisa dimakan mentah-mentah kemudian ditaburi bumbu. Jajanan ini begitu saya gemari sehingga kadang saya sering banget terlihat dimana-mana membawa kemasan Anak Mas dan konco-konconya tersebut. 

Anak-mas

Anak Mas

Namun kadang jajanan tersebut kurang memenuhi hasrat saya mengunyah--bagaimana tidak, jajanan anak mas dan konco-konconya tersebut porsinya cuman seupil, dan bisa saya habiskan dalam sekejap. Akhirnya, saya mulai tergoda untuk makan mie instant mentah yang jauh lebih banyak isinya!

Dsc_0825
Dan perbuatan nista ini bahkan masih saya lakukan hingga sekarang! :D 

Tapi saya tidak selalu menikmati mie instant dengan dimakan mentah-mentah, terutama karena mie-nya lebih keras, dan bumbunya lebih asin. Saya juga gemar memakan mie instant tersebut dengan cara yang normal, yaitu dengan dimasak dahulu. Biasanya saya paling hobi nyoba-nyobain berbagai varian mie instant yang ada di supermarket kemudian memasaknya dirumah. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang, walaupun saya mulai menguranginya setelah mulai mendengar berbagai kabar miring tentang dampak terlalu banyak mengkonsumsi mie instant bagi kesehatan. 

Tapi toh, Indomie rebus tetap menjadi favorit saja di warung burjo (istilah populer di Jogja) ketika saya kuliah dulu ataupun di warkop (istilah di Jakarta) saat makan siang di sela-sela jam kantor, tidak peduli sedang bokek atau banyak duit. :D

X2_2141f00
Indomie rebus telor a la burjo aka warkop

Bahkan mie menjadi favorit saya ketika sedang bepergian dengan kereta. Pop Mie yang dijajakan pedagang asongan menjadi teman yang hangat di tengah perjalanan daripada suntuk dan lapar. Kalaupun tidak ada yang jualan Pop Mie pun (karena sedang naik kereta eksekutif yang bebas pedangang asongan), saya juga rela memesan Indomie rebus di restorasi.

Dsc_0814

Pop Mie!

Dsc_0218
Indomie rebus, suatu hari di atas kereta api eksekutif dalam perjalanan ke Jogja. (Kalau di kereta bisnis, mangkoknya tidak ditutup plastik seperti pada gambar.)

Tentu saja, saya tidak melulu hobi makan mie instant. Saya juga menggemari varian-varian mie yang lain seperti Mie Yamin, sejenis Mie Ayam dengan kuah dipisah.

Dsc_0312
Mie Yamin a la Cwie Mie Malang

Mie Baso (ini juga salah satu favorit saya di mana saja. Saya pernah waktu jaman kuliah dulu sempet beberapa hari berturut-turut setiap hari makan mie baso. Mulai dari baso a ala tukang jualan keliling, mie baso deket rumah, juga baso Pak Narto atau Pak Bawor yang populer di Jogja.)

Dsc_0321
Mie Baso a la Es Teler 77

Mie Hot Plate, sesuai dengan namanya adalah mie yang disajikan panas-panas dalam sebuah hot plate. Enak deh.

Mie Hot Plate ala Szechuan foodcourt Plasa Semanggi & Mie Hot Plate Sapi Lada Hitam Kedai Kita Bogor

Ifumie, sejenis mie kering yang disiram dengan kuah kental panas, sehingga mie yang tadinya kering jadi empuk. Enak sih. cuman agak mahal.

Dsc_0313

Ifumie a la Solaria

Lomie, sejenis mie dengan kuah yang amat kental seperti ingus bercita rasa sea food. Saya baru nyoba sekali sih pas main ke Bandung. Menarik. Enak kok. Cobain deh.

Dsc_0274
Lomie lapangan Gasibu, Bandung

Mie Ramen. Hmm. Beberapa teman saya suka sekali dengan Mie Ramen. Terutama mereka yang Japholic alias suka dengan hal-hal yang berbau Jepang. Tapi entah kenapa saya kurang begitu suka. Terlalu banjir kuahnya menurut saya. Biasanya kan Mie Ramen dihidangkan dalam sebuah mangkok besar dalam kuah yang melimpah (tapi mie-nya cuman dikit). Jadi inget, sewaktu saya nyobain Mie Ramen 38 kan ada level kepedasannya tuh. Nilainya antara 1-10. Dan saya milih level 1. Dan....masih kepedesan! Cemen yah.. -_-"

Dsc_0010
Mie Ramen 38 Citos

Ngomong-ngomong mie dengan porsi besar, saya tergila-gila dengan Mie Tarik Leiker. Porsinya bener-bener gila. Mienya buatan sendiri, dan kita bisa ngeliat proses pembuatan mienya di gerainya, dan mienya dibuat dengan ukuran gede-gede. Saya sarankan, jangan kesini kalau hanya sekedar ingin nyari snack diantara waktu makan. Bisa-bisa malah mubazir. Biasanya sih saya suka pesen yang Tom Yam.

Dsc_0573
Mie Tarik Leiker Tempura kalo gak salah.

Mie Koclok. Naah, ini menarik. Mie Koclok adalah mie khas dari daerah Cirebon. Disajikan dengan kuah seperti bubur santan kental. Mungkin agak sedikit neg, tapi lumayan buat temen penghangat badan di malam kelam. Cobain deh kalau lagi main ke Cirebon.

Mie Koclok

Oiya, beberapa waktu yang lalu saya pulang kampung dan menemukan Rumah Makan Mie Pelangi. Sebenernya sih penyajiannya seperti Mie Ayam Yamin biasa, tapi bahan mienya dibuat dengan campuran sayur-sayuran seperti bayam, wortel, sawi, dan lain-lain sehingga menghasilkan mie berwarna warni. Honestly, rasanya sedikit aneh sih. Tapi pastinya mie ini lebih sehat. Berikut gambarnya:

Dsc_0515

Mie Pelangi yang saya temukan di kampung saya di Lasem, Rembang. Pastinya ada di kota lain, tapi saya belum pernah nyoba. :D

Bakmi Jawa. Inilah varian bakmi yang khas dari Jogja. Dimasak di atas anglo dengan api arang. Biasanya digunakan campuran telor bebek didalamnya. Biasanya saya lebih suka bakmi gorengnya, dan cenderung kurang suka dengan bakmie rebus nyemek (mie-nya direbus sampai lembek). Di Jogja, ada beberapa nama terkenal untuk urusan Bakmi Jawa, seperti Bakmi Pak Pele atau Bakmi Kadin. Tapi yang jelas Bakmi Jawa bisa dengan mudah ditemui di seantero Jogja, dengan rasa yang memuaskan. Yang jelas, citarasanya khas, apalagi bila ditambah dengan nyeplus cabe rawit. Wuaahh..saat nulis kalimat ini saya aja sampai ngiler. Dan hingga saya hijrah ke Jakarta pun, saya masih sering hunting bakmi Jawa..

Dsc_0050

Penampakan Bakmi Jawa Jape Methe Pasarminggu, Jakarta Selatan.

Terus.. apa lagi ya? Masih ada lagi sih mie unik yang pernah saya coba, yaitu Mie Ongklok. Tapi saya nggak sempet ambil fotonya. Mie Ongklok ini khas dari Wonosobo. Bentuknya mirip lomie kali ya, dengan kuah yang kental juga. Tapi saya agak-agak lupa rasanya.

Pendek kata, saya cinta sekali dengan mie. Oiya, di kantor saya juga kadang suka beli Indomie rebus buatan Aa' Sadeli di lantai dua. Rasanya khas, nggak seperti Indomie rebus di warkop atau burjo. Rupanya dia menggunakan kuah yang dibuat sendiri dengan menggunakan kaldu. Mie yang komplit oleh si Aa' dimasak bersama tahu, telor, dan baso. Berikut penampakannya:

Dsc_0944

Indomie si Aa'

Yasudahlah. Sekian saja cerita-cerita tentang mie. Saya harus kembali bekerja. Oiya, tadi siang saya makan siang dengan mie juga. Ada boss yang ulang tahun, dan satu lantai dibeliin makan siang semua. Lumayan. Makan siang gratisan.. :D

Gratisaaaaannn

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 21 Sep 2010 02:56:00 -0700 un fabuleux voyage là.. http://fanikovsky.posterous.com/un-fabuleux-voyage-la http://fanikovsky.posterous.com/un-fabuleux-voyage-la

Libur lebaran tahun ini bener-bener nampol buat saya. Waktu liburan selama 11 hari (dengan 6 hari cuti) bener-bener saya manfaatkan sebaik-baiknya dan sepuas-puasnya untuk jalan-jalan. Berikut adalah beberapa snapshot yang sempat terambil dengan kamera ponsel saya:

 

Prologue: The Journey of Backpain

Dengan partner mudik saya, neng Karina, saya sukses menempuh perjalanan Jakarta - Semarang 8-9 September 2010 selama 21,5 jam. :D

 

--------------------


Chapter #1: Magelang

Biasanya saya melewatkan hari pertama lebaran di Desa Rambeanak, sebuah desa di pedalaman Magelang, Jawa Tengah. Di desa yang sejuk, tenang dan damai inilah tinggal nenek saya. Kakek sendiri sudah meninggal bertahun-tahun yang lampau.

 

Lebaran is Granny's Birthday

Ada tradisi unik yang sudah berlangsung beberapa tahun ini di rumah nenek saya di Magelang setiap lebaran. Setiap lebaran beliau akan membagi-bagikan bingkisan buat anak-anak di  kampung yang datang bersilaturahmi. Bingkisan tersebut dibuat semeriah mungkin seolah-olah menyerupai bingkisan ulang tahun. Jadi, sekarang setiap lebaran diistilahkan sebagai Hari Ulang Tahun Mbah Putri. :D


Dsc00339
Nenek, duduk nomor 2 dari kiri, setelah acara sungkeman.


Dsc_0090
Di daerah Magelang dan sekitarnya,Tape Ketan adalah salah satu hidangan wajib di meja tamu yang selalu terselip diantara stoples-stoples berisi Kastangels, Nastar, dan kue-kue kering lainnya.

 

-----------------------

 

Chapter #2: Pekalongan

 

The Vintage View of Granny's Cribs

Ini adalah pemandangan di seputar rumah eyang di Gebangkerep, sebuah desa di pedalaman Pekalongan. Rumah beliau yang sangat vintage, tipikal rumah-rumah petani di daerah tersebut, sangatlah menarik perhatian saya.

 

Megono

Dsc_0214
Ini termasuk salah satu kuliner khas dari pekalongan: sego megono. berupa nasi yang dicampur dengan urap sayur nangka. Gurih!

 

Soto Tauto Pak Tjarlam

Soto Khas Pekalongan lebih dikenal sebagai Tauto. Kombinasi dari kata Tauco dan Soto. Tauco? Ya. Bumbu utama soto Pekalongan ini adalah Tauco. Inilah yang membedakan soto Pekalongan dengan soto-soto dari daerah lain. Isian yang utama dari Tauto adalah lontong, jeroan, dan bihun. Bila anda sempat berkunjung ke kota ini, soto Pak Tjarlam boleh saya rekomendasikan. Kalau siang, dia buka di warung permanen pada sebuah gang sempit di depan Matahari. Kalau malam, dia menjelma sebagai warung tenda di alun-alun.

 

----------------------

 

Chapter #3: Malang & Surabaya

 

Disaster Tourism of Lapindo

Dalam perjalanan ke Malang, saya sempat mampir di lokasi musibah lumpur Lapindo yang termasyhur itu. Yang cukup membuat saya terkejut, tempat tersebut telah bertransformasi sebagai sebuah lahan bisnis dadakan yang subur. Mulai dari bisnis parkir (satu mobil dipatok Rp. 10.000), tiket masuk tak resmi seharga Rp. 5000, pedagang VCD, serta tukang ojek keliling lokasi. Belum lagi para pedagang makanan yang ikut memeriahkan lokasi. Ternyata musibah bisa menjadi sebuah industri pariwisata tersendiri.

 

A Day At Batu Malang

Lokasi: Desa Sekarputih Kecamatan Junrejo, Batu.

 

Nengokin Kebun di Agrowisata Kusuma :D

Ini kali kedua saya ke Agrowisata Kusuma. Sialnya, sama seperti pada kunjungan sebelumnya, kali ini saya juga gak kebagian paket metik Strawberry. Harus puas hanya metik Tomat cherry saja. :(

 

Cwie Mie Malang

Saat berkunjung ke Malang dua atau tiga tahun lalu, saya begitu penasaran sekali dengan Cwie Mie Malang. Saat berkunjung kembali kesini, barulah saya sempat menjajal mie yang begitu membuat saya penasaran ini. Enak sih, cuman mungkin saya terlalu berekspektasi berlebihan. Rasanya ya, hehe, seperti mie yamin biasa.. :D

 

The Story of The Bridge

Percaya atau tidak, Jembatan Suramadu adalah sebuah tempat tujuan wisata tersendiri bagi orang-orang yang norak yang belum pernah liat jembatan keren (seperti saya). Jembatan yang panjangnya 5.438 m ini dapat dilewati dengan membayar Rp. 30.000 untuk satu mobil sekali jalan. Statusnya yang sekaligus sebagai sebuah jalan tol--dengan tanda dilarang berhenti dimana-mana--tidak menyurutkan niat kami untuk nekat berhenti untuk sekedar berfoto-foto dengan background jembatan ini. Hasilnya, Patroli Jalan Raya segera datang mengusir kami pergi. :D

 

-----------------------

 

Chapter #4: Jogjakarta

 

Dan perjalanan liburan saya ditutup dengan Jogjakarta. Tidak banyak tempat yang saya kunjungi, hanya sekedar bernostalgia mengenang masa lampau saja. Tempat yang saya kunjungi antara lain...:

 

Soto Sapi Pak Ngadiran aka Soto Klebengan

Ini adalah tempat legendaris bagi saya semasa kos di Jogja dulu, Sebuah tempat andalan untuk melewatkan waktu sarapan bersama kawan-kawan kos. Murah, dengan cita rasa yang tebal, ditambah mengudap tempe hangat-hangat, merupakan sebuah kenangan yang sayang untuk dilupakan..

 

Bale Raos: A Taste of Heritage

Sebuah resto di lingkungan keraton dengan nuansa etnik yang kental. Sebuah tempat makan yang menyenangkan dengan hiburan musik akustik ala hiburan raja-raja jaman dahulu. Menu-menu yang disajikan konon adalah kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono. Salah satunya adalah Bebek Suwar-Suwir (gambar terakhir). Yang jelas, semasa saya jadi mahasiswa dulu, saya tidak pernah berani menyambangi tempat ini. Sebenarnya tidak mahal-mahal amat sih, cuman emang agak mahal buat kantong mahasiswa dengan pendapatan perkapita mahasiswa kebanyakan seperti saya pada waktu itu. :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Mon, 31 May 2010 22:01:00 -0700 From Tasik With Full Stomach http://fanikovsky.posterous.com/bubur-ayam-tasik http://fanikovsky.posterous.com/bubur-ayam-tasik

Sekedar test posting perdana di Posterous. Ini adalah bubur ayam buat sarapan sewaktu saya mengunjungi Tasik pada Jumat 28 Mei yang lalu. Lokasi silahkan dilihat disini. Mari dicicipi.. :D

Dsc_0017

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky