C'est La Vie http://fanikovsky.posterous.com a little sneak peek of life posterous.com Fri, 06 Apr 2012 11:30:00 -0700 Mengenang Dan Melintasi Jaman Bersama Kidung Abadi Chrisye http://fanikovsky.posterous.com/kidung-abadi-chrisye http://fanikovsky.posterous.com/kidung-abadi-chrisye

Baiklah. Saya kali ini mau sedikit cerita-cerita tentang Konser Keempat Chrisye bertajuk Kidung Abadi yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center 5 April 2012 kemaren. Awalnya sih saya tidak niat mau nonton, padahal udah dua minggu sebelumnya saya lihat billboard iklannya yang segede gaban terpasang di sekitaran Blok M waktu saya baru pulang dari bandara. Thanks to Just Alvin dengan segala gimmicknya yang mengupas tuntas tentang konser ini, sehingga saya jadi latah dan tergopoh-gopoh nyari tiketnya yang--eheheheh--lumayan jebolin dompet (padahal udah paling murah) :p

Ngomong-ngomong, loh, kok konser keempat Chrisye? Chrisye kan udah meninggal lima tahun yang lalu? Iya, memang benar. Jadi ceritanya, konser Kidung Abadi ini adalah jawaban dari Erwin Gutawa atas keinginan yang sempat dilontarkan Chrisye untuk bikin konser di tahun 2012. Belum sempet dibahas lebih lanjut ternyata Chrisye sudah keburu dipanggil oleh Yang Kuasa karena penyakit yang dideritanya. Nah untuk menghormati keinginan beliau tersebut, jadilah konser Chrisye digelar pada tahun 2012 ini. Walaupun tanpa kehadiran Chrisye sendiri.

Konser ini dimotori oleh Erwin Gutawa yang menangani segala tetek bengek tentang musik, juga oleh Jay Subiakto yang menangani konsep stage dan efek-efek visual. Pada bagian awalnya, konser ini tampak seperti konser tribute biasa, dengan penampilan artis-artis pendukung seperti Gita Gutawa yang tampil anggun, Armand Maulana bersama GIGI yang tampil enerjik bak cacing kepanasan, ada juga Once yang tampil kalem (hampir seperti penampilan Chrisye yang datar dengan minim ekspresi maupun gerakan), serta Vina Panduwinata yang masih lincah bernyanyi dengan vokalnya yang khas. Mereka tampil bergantian membawakan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Chrisye dari album lawas sampai album yang terbaru.

Pada bagian selanjutnya, konser mulai berubah konsep. Di bagian ini, ditampilkan rekaman suara Chrisye dari konser-konser yang terdahulu serta rekaman videonya yang sedang bernyanyi yang kemudian diiringi oleh orkestrasi live yang prima dari Erwin Gutawa orchestra. Yang menarik, disini Chrisye tidak hanya ditampilkan sedang melulu bernyanyi dengan diiringi orkes live saja, tetapi konseptor acara ini secara cerdas juga menyisipkan rekaman bagian-bagian suara dan visual Chrisye yang sedang berinteraksi dengan penonton, sehingga yang tampak adalah seolah-olah Chrisye memang sedang bernyanyi langsung sambil mengajak penonton ngobrol, berdiri atau mengajak penonton ikut bernyanyi pada bagian lagu tertentu. Yah, semua penonton tahu kalau suara Chrisye yang didengarnya adalah rekaman belaka. Tapi toh, semua tampak begitu nyata. Rekaman vokal Chrisye dan iringan orkestranya benar-benar menyatu. Seolah-olah Chrisye saat itu memang sedang berada di atas stage.

Dsc_0992

Kemudian konser menjadi semakin menarik dengan penampilan "duet" antara Sophia Latjuba dengan Chrisye. Bukan Chrisye beneran tentu saja, tetapi visualisasi Chrisye yang ditampilkan dalam sebuah hologram. Tadinya saya agak berekspektasi lebih dan mengira hologram disini akan tampak seperti imaji tiga dimensi yang nyata seperti di film-film science fiction. Tetapi ternyata hologram disini hanyalah sebuah gambar visual Chrisye yang diproyeksikan ke sebuah layar. 

Dan akhirnya, bagian yang paling menarik dan paling ditunggu-tunggu dalam konser ini adalah munculnya sebuah lagu baru yang benar-benar baru diciptakan setelah Chrisye meninggal, namun dinyanyikan oleh suara Chrisye. Asli. Lho kok bisa? Jadi begini ceritanya. Lagu berjudul Kidung Abadi ini adalah sebuah lagu ciptaan Erwin Gutawa yang merasa semacam punya perasaan bersalah karena selama ini belum pernah membuatkan lagu untuk Chrisye padahal udah bertahun-tahun bekerja sama dalam berbagai produksi album. Tapi karena Chrisye sudah tiada, akhirnya dibuatlah lagu ini dengan merekonstruksi sekitar dua ratus lebih suku kata hasil potongan track vokal Chrisye dari ratusan master rekaman lagu-lagu Chrisye yang sudah ada. Bukan pekerjaan yang mudah, karena Erwin harus memotong track-track vokal tersebut per suku kata, memilah-milah mana yang cocok untuk dirangkai, mengubah pitch serta panjang potongan track bila perlu, menggabungkan potongan-potongan track tersebut satu persatu, serta menghaluskan transisi antara potongan satu dengan potongan yang lain itu. Dan hasilnya adalah sebuah lagu yang utuh dan terdengar syahdu. Ditambah animasi Chrisye sedang bernyanyi karya Jay Subiakto yang terlihat di layar membuat penonton semua terpaku dan diliputi rasa haru. Seolah-olah Chrisye benar-benar sedang bernyanyi dari alam lain dan mengucapkan salam perpisahan bagi para penggemarnya.

Akhir kata, konser Kidung Abadi Chrisye kemarin ini memang menjadi semacam obat rindu bagi para penggemar Chrisye. Bagi saya pribadi, yang saya kagumi dari seorang Chrisye adalah dedikasinya, kebersahajaannya yang berkualitas, sangat orisinal, dan jarang-jarang ada penyanyi di Indonesia sini yang konsernya dipenuhi oleh penggemar-penggemar dari segala usia. Seperti kemarin ini, saya menjumpai orang-orang yang hadir ada yang seusia kakek saya, ada yang seusia bapak saya, ada yang seusia saya, juga ada yang seusia adik saya. Tidaklah berlebihan kalau saya menyebut Chrisye sebagai sebuah legenda bagi musik Indonesia. Semoga kelak akan hadir Chrisye-Chrisye baru yang sederhana, bersahaja, orisinil, dan banyak bicara melalui karya. Semoga.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Wed, 25 Jan 2012 00:03:00 -0800 Kisah Tentang Kantor, Wanita, dan Ombus-Ombus http://fanikovsky.posterous.com/kisah-tentang-kantor-wanita-dan-ombus-ombus http://fanikovsky.posterous.com/kisah-tentang-kantor-wanita-dan-ombus-ombus

Chapter I

Tiga tahun terakhir ini saya berjuang mencari nafkah di rimba Jakarta Raya. Kota yang bagi sebagian orang berarti harapan. Seperti cahaya yang bersinar terang menyeruak dari balik cakrawala di kala fajar (halah!). Tak heran Jakarta selalu dikerubuti kaum urban yang sedang menggantungkan asa dan harapan demi masa depan. Persis seperti laron yang berebutan mengerubungi lampu jalan setelah hujan. Dan salah satu dari laron-laron itu ya termasuk saya sendiri.

Kantor saya berada di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah kawasan perkantoran yang (katanya) elit di Jakarta dengan gedung-gedung tinggi menjulang, dengan orang-orang elit seperti saya yang bekerja di berbagai bidang, mulai dari sektor jasa, perdagangan, sampai pemerintahan. Semuanya berebut berladang, berburu dan meramu di kawasan ini, tidak sekedar untuk memberi arti bagi hidupnya masing-masing, tetapi juga demi memanen sejumlah rupiah, segenggam emas, dan sebongkah berlian untuk menyambung hidup.

Beberapa waktu yang lalu, pengamanan kantor tempat saya bekerja tidak seketat sekarang. Orang bebas keluar masuk dan berlalu lalang. Akibatnya, muncul orang-orang dari antah berantah yang secara ajaib masuk ke ruangan-ruangan dari lantai ke lantai menawarkan barang-barang A sampai Z. Kadang muncul pedagang barang-barang elektronik yang barangnya persis seperti dijajakan di metro mini. Ada juga cewek-cewek sales jam tangan berharga miring yang suka sok akrab. Kadang ada juga sales tempat hiburan, penjual kacamata, penjual alat-alat dapur, pedagang makanan, dan bahkan pedagang VCD bajakan! Ampun. Kantor kok kayak pasar.

Semenjak adanya pergantian pucuk pimpinan pada unit kerja yang saya tempati, pemandangan orang-orang ajaib tadi secara drastis menjadi berkurang, walaupun masih ada beberapa pedagang yang bisa berlalu lalang. Sebenarnya kadang saya suka kasihan melihat mereka. Kadang saya membayangkan, gimana kalau saya jadi orang-orang itu. Ngider kesana kemari menawarkan sesuatu produk. Alih-alih barangnya laku, baru nongol nyengir doang di pintu masuk aja para penghuni ruangan udah pada buang muka duluan. Dasar nasib. Makanya saya selalu menjaga untuk sesopan mungkin menolak apabila sudah ndak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan. Karena mereka ya sama seperti kita-kita. Hanya berusaha bertahan hidup di tengah rimba Jakarta ini. Meskipun kadang saya dan partner saya yang jail di ruangan kalo lagi kumat suka ngerjain sales yang tengil. Dengan semangat '45 nanya-nanya ampe berbusa-busa dari A sampai Z sampai A lagi tentang produknya, tapi ujung-ujungnya gak beli dan berkelit dengan 1013 alasan (karena emang dari awal gak niat beli). Salah sendiri tengil. :p

Chapter II

Wanita itu muncul kembali di kantor pada suatu siang. Memang wanita itu cukup sering menyambangi kantor saya, menjajakan dagangannya berkeliling. Wanita itu adalah seorang ibu berumur setengah baya berperawakan agak gemuk, berpenampilan lusuh dan selalu menjinjing sebuah kotak kardus bekas wadah minuman ringan. Saya mengenal wanita itu mungkin hampir selama saya bekerja di kantor ini. Saya masih ingat ketika pertama kali melihatnya muncul di pintu ruangan dan bersuara: “Ombus-ombus, Bu”. Saya ingat bagaimana saya tertegun saat pertama kali mendengar kata asing itu. Hee? Ombus-ombus? Opo kuwi? Tidak perlu terlalu lama saya larut dalam penasaran, kemudian wanita itu berkata lagi: “Ombus-ombus Nang, kue dari Medan.” Lalu saya manggut-manggut dan menyahut dalam hati “Oooo kue dari Medan..” Sebagai orang Jawa tulen, pantas saja saya terheran-heran pertama kali mendengar kata asing yang terkesan agak lucu di telinga itu. Abis jajanan yang saya tau dari Medan cuman bika ambon dan bolu meranti doang. :D

Saya yakin wanita itu tidak pernah ikut mata kuliah teori marketing. Apalagi mengenal Rhenald Kasali atau Philip Kotler. Wanita itu juga tidak sekenes si mbak-mbak pedagang kue dalam menjajakan dagangannya. Produk yang dijajakannya juga terbatas tidak seperti kue-kuenya si mbak-mbak tadi yang lebih menarik dan berwarna warni. Akibatnya, saya lebih sering melihat ibu ini melangkah gontai karena lebih sering mendapat penolakan. Ada juga sih ibu-ibu di ruangan yang kasihan dan membeli dagangannya beberapa buah. Tapi sepanjang pengamatan saya, orang lebih sering berkata “Ndak Bu” ketika wanita ini menawarkan dagangannya. Malah terkadang beliau ini jadi bahan candaan dan ejekan orang-orang--di belakang tentu saja, nggak di depannya. Trenyuh ya? Tapi ibu ini tetap tidak patah semangat dan dengan wajahnya yang polos terus berkeliling menjajakan dagangannya.

Siang itu saya menjumpai wanita itu lagi. Sebelumnya saya sudah berniat membeli dagangannya barang satu atau dua biji saat wanita itu muncul. Dan ketika si Ibu ini nongol di pintu ruangan, saya langsung memanggilnya. “Berapaan ini Bu?”, tanya saya saat si Ibu menggelar dagangannya di meja dan membuka kardus jinjingannya. “Dua ribuan Nang,” jawab si Ibu. “Beli sepuluh ribu aja deh,” kata saya lagi. Dengan berseri-seri si Ibu ini mengeluarkan lima buah kue yang dibalut daun pisang ini dan mengemasnya dalam sebuah kantong plastik. “Jualannya ke mana aja Bu?” tanya saya. “Deket-deket sini aja Nang,” jawab beliau. “Ini segini abis semua Bu tiap hari?” tanya saya lagi. “Biasanya abis kok Nang.” Jawab beliau. Jadi, dalam kardus jinjingannya si Ibu ini membawa beberapa puluh buah kue Ombus-ombus. Sekitar 40-60 buah menurut beliau, saya lupa pastinya. Dan setelah transaksi selesai, lalu Ibu itu melangkah pergi dan berkeliling lagi. Waktu itu dagangannya tinggal sedikit yang tersisa.

Saya buka satu buah kue hasil transaksi tadi. Masih hangat. Ketika saya buka daun pisang yang membalutnya, terpancar aroma wangi. Jadi ternyata Ombus-ombus ini kalau di Jawa mirip-mirip dengan kue putu. Terbuat dari tepung beras, dengan isian gula jawa di dalamnya. Bedanya, ombus-ombus ini dibungkus dengan daun pisang. Enak kalau dimakan selagi hangat. Ombus-ombus sendiri menurut bahasa asalnya berarti “Tiup-tiup”. Jadi ceritanya, di daerah Siborong-borong di Tapanuli Utara tempat asal ombus-ombus, jajanan ini dijual selagi panas sehingga untuk memakannya harus ditiup-tiup dulu. Cocok buat teman ngeteh atau ngopi di sore hari!

Ombus-ombus
Rupa Ombus-Ombus. Saya ndak sempet ambil foto, gambar minjem dari http://www.blogceria.com/userfiles/uploads/Ombus-ombus.jpg

Epilog

“Ombus-ombus Nang.” Saya agak tertegun mendengar suara yang saya kenal itu. Rupanya Ibu si penjual ombus-ombus yang muncul. Memang jam-jam beliau biasa nongol adalah sekitar sebelum jam makan siang. Karena kebetulan sedang sibuk, dan juga pas lagi nggak begitu kepingin jajan—maklum lagi diet, saya menggeleng sambil tersenyum. “Enggak dulu Bu”, kata saya. Tapi saya berjanji dalam hati, nanti sesekali saya akan beli lagi. Bukan karena suka banget sih, apalagi saya kurang suka jajanan manis, saya kan udah manis tapi untuk menghargai keberadaan orang-orang kecil seperti penjual Ombus-ombus ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, beliau ini yah seperti kita-kita juga. Mencoba bertahan hidup di tengah ganasnya rimba kehidupan ini. Banyak kok orang-orang seperti ini di sekitar kita. Orang-orang yang bekerja di sektor informal yang bekerja keras dan pantang meminta-minta walaupun hasilnya tidak seberapa. Dan inilah cara yang tepat untuk peduli dan menghargai keberadaan mereka: dengan menggunakan jasa/membeli dagangan mereka. Kalaupun tidak suka ataupun berkenan, jangan menyakiti mereka. 

Oiya, nanti kalau anda kebetulan bertemu dengan penjual ombus-ombus yang saya ceritakan tadi, cobalah beli dagangannya satu atau dua. Lumayan enak kok rasanya. Tidak ada salahnya mencoba. :)

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 06 Dec 2011 00:25:00 -0800 Lelo Ledhung & Romantisme Masa Lalu http://fanikovsky.posterous.com/lelo-ledhung-dan-kisah-romantisme-masa-lalu http://fanikovsky.posterous.com/lelo-ledhung-dan-kisah-romantisme-masa-lalu

Saya tidak habis pikir, kenapa ada beberapa lagu tertentu yang bisa begitu saja muncul dan berputar-putar terus menerus dalam kepala saya. Salah satunya ya ini, lagu Lelo Ledhung. Not demi not bermunculan di kepala dan membius saya sehingga tanpa sadar saya kadang sering terdengar menggumamkannya. Mungkin banyak yang mengenal lagu ini sebagai lagu tradisional masyarakat Jawa yang biasa didendangkan untuk meninabobokan anaknya. Saya sendiri tidak ingat sih apakah dulu ibu saya juga mendendangkan lagu ini kepada saya waktu saya kecil dulu. Tapi entah kenapa saya seolah-olah merasakan tenggelam dalam romantisme masa lalu ketika mendengar lagu ini. Terus terang ini bukan lagu biasa, bukan lagu Jawa biasa, dan bukan lagu nina bobo biasa. Dalam lirik-liriknya, kita akan menemukan nilai-nilai luhur, harapan dan doa, sekaligus simbol ketulusan orang tua dalam membesarkan anaknya yang seringkali penuh hambatan dan tantangan.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, cep menenga aja pijer nangis; Anakku sing ayu (bagus) rupane, yen nangis ndak ilang ayune (baguse)”

Imajinasi saya melayang-layang membayangkan sebuah suasana pedesaan di Jawa, di depan sebuah rumah berdinding bambu, dalam temaram sinar lampu minyak pada suatu malam, ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terus menerus rewel menangis seraya bersenandung: “Timang-timang anakku sayang, janganlah engkau menangis. Hilang nanti cantik/tampanmu kalau engkau menangis”

“Tak gadang bisa urip mulyo, dadiyo wanito (priyo kang) utomo; Ngluhurke asmane wong tuwa, dadiyo pandekaring bangsa”

Dalam hening malam yang ditimpali derik suara jangkrik, dan desir dedaunan yang tertiup angin, Ibu tersebut terus bersenandung dan mendoakan anaknya: “Semoga kelak engkau bisa hidup sejahtera dalam kemuliaan, nak. Jadilah engkau pribadi yang utama, pribadi yang istimewa, pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur, sebuah pribadi yang mampu mengharumkan nama orang tua, juga mampu berbakti dan memberi arti bagi bangsa dan negara.”

“Wis cep menenga anakku, kae mbulane ndadari; Kaya buto nggegilani, lagi nggoleki cah nangis”

Dalam bayangan saya, Ibu tersebut menjadi agak gelisah. Sambil terus menggendong dan menenangkan anaknya yang menangis, dia bolak balik berdiri, lalu duduk di sebuah bale-bale bambu, lalu bangkit lagi seraya menunjuk ke arah bulan purnama yang bergelantungan di kelamnya langit malam. “Ayo tenanglah anakku, lihatlah disana rembulan bersinar terang laksana raksasa yang hendak menerkam anak-anak yang sedang menangis”

Sebenarnya awalnya saya sedikit terganggu dengan kata-kata dalam bait ini. Seolah-olah kalimat ini menyebarkan paranoid bagi anak-anak kepada penampakan bulan purnama. Lha wong mbulan kok dipadhakke koyo buto. Lantas saya berpikir-pikir lagi lebih jauh, sehingga sampai ke dalam sebuah hipotesis: mungkin makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah bahwa bulan purnama adalah simbolisasi dari penguasa malam, dimana malam adalah simbol dari kegelapan. Dimana kegelapan identik dengan kejahatan atau sifat-sifat buruk yang disimbolkan dengan Buto alias raksasa. Sehingga menurut hipotesis saya, kalimat dalam bait tersebut mengandung makna sebuah pengharapan agar anak yang sedang digadang ini berani untuk melawan segala sifat-sifat buruk dalam dirinya maupun dalam lingkungan di sekitarnya sebagai lawan dari sifat-sifat baik yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, wis cep meneng anakku cah ayu (bagus); Tak emban slendang batik kawung, yen nangis mundak ibu bingung”

Setelah sekian lama, si anak tak kunjung diam dan terus menangis. Tapi si Ibu tetap sabar. Dengan penuh kasih sayang, sang Ibu mengusap-usap wajah anaknya dan terus menenangkannya sampai akhirnya si anak tertidur. “Timang-timang anakku sayang, ayo nak cepatlah diam. Kan kubuai engkai dalam sehelai selendang batik kawung. Kalau engkau menangis terus Ibu nanti bingung.”

Saya sedikit penasaran dengan penggunaan batik kawung dalam lagu ini. Kenapa batik kawung? Kenapa bukan batik yang lain? Batik parangrusak misalnya? Kemudian saya menemukan bahwa penggunaan batik kawung dalam kalimat tersebut tentu bukan semata-mata untuk mencocokkan rima agar nyambung (batik kawung dengan ibu bingung), tetapi karena batik kawung sendiri ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam tataran budaya masyarakat Jawa, dimana batik kawung mempunyai filosofi yang dalam tentang asal muasal penciptaan manusia serta simbol umur panjang dan kehidupan abadi. Kawung disebut juga aren atau kolang kaling. Buahnya yang manis, serta pohonnya yang tegak lurus tak bercabang melambangkan keagungan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam motif batik kawung, penampang buah kawung disusun secara diagonal berjajar terpusat dan simetris sehingga membentuk ilusi optik seolah-olah terlihat seperti bunga yang memiliki empat kelopak. Bunga empat kelopak sendiri menyimbolkan bunga teratai yang memberikan makna kesucian. Perpaduan antara bentuk bunga dan buah membawa arti harapan dan kesuburan. Sedangkan keempat arah dari kelopak bunga juga merefleksikan empat arah mata angin yang akan membawa cahaya kebijaksanaan. (Anne Ahira, "Keanggunan Batik Kawung: Inspirasi Dari Alam") Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dalam kalimat “tak emban slendang batik kawung” tersirat doa serta harapan orang tua yang begitu luar biasa kepada anaknya setelah dewasa nanti.

Kawung

Motif Batik Kawung

Yang jelas, saya mempunyai semacam ikatan emosional tersendiri dengan lagu ini. Peristiwa demi peristiwa di masa lalu ketika masih diasuh oleh ayah dan bunda seakan muncul secara gamblang bagaikan sebuah video yang di-rewind jauh ke belakang ketika mendengarkan lagu ini. Semoga kita tak akan pernah lupa dengan jasa-jasa orang tua yang telah mendoakan, membimbing, serta mengasuh kita tanpa lelah sejak kanak-kanak betapapun besar pengorbanannya, betapapun berat tantangannya, betapapun berliku jalannya, hingga kita seperti kita sekarang dengan peran kita masing-masing. Kelak, saya akan mendendangkan Lelo Ledhung juga buat anak saya nanti.. :)

Tak_Lelo_Ledhung.mp3 Listen on Posterous

Excerpt from “Tak Lelo-Ledhung”, composed by Markasan, performed by Sruti Respati/Sa’unine String Orchestra. © Tembi Rumah Budaya

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Wed, 30 Nov 2011 01:01:13 -0800 Sa' Unine Yang Tidak Asal Bunyi Dari Jogjakarta http://fanikovsky.posterous.com/sa-unine-yang-tidak-asal-bunyi-dari-jogjakart http://fanikovsky.posterous.com/sa-unine-yang-tidak-asal-bunyi-dari-jogjakart

Akhir-akhir ini saya mulai suka beli CD-CD lagu yang boleh dibilang "tidak lazim" dibeli orang. Setelah album Becak Fantasy-nya Jubing Kristianto dan Tafakur-nya Jaya Suprana, kemaren saya membawa pulang dua buah CD Album Masa Lalu Selalu Aktual dan Buaian Sepanjang Masa dari Sa' Unine String Orchestra.

459506435
Sa' Unine adalah kelompok musik gesek jebolan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta yang berdiri sejak tahun 1992. Ketika kuliah di Jogja dulu saya sering main ke ISI jauh di Sewon Bantul sana untuk sekedar menonton home concert mahasiswa-mahasiswa jurusan musik yang menampilkan repertoire lagu-lagu klasik. Tidak melulu lagu-lagu klasik, tetapi juga lagu-lagu populer yang diaransemen ala musik klasik. Lumayan, bisa menikmati musik-musik bermutu hanya dengan membayar 10 ribu rupiah. Dan musik semacam inilah yang coba ditampilkan oleh Sa' Unine dalam kedua albumnya.

Sa' Unine sendiri adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti "Sebunyinya" atau "Asal Bunyi". Walau demikian, karya yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah bunyi-bunyian yang asal bunyi ataupun suara-suara gedombrangan nggak karuan, sebaliknya mereka menampilkan bunyi-bunyian alat musik gesek nan elegan yang mengingatkan saya dengan Serenade for Strings-nya Tchaikovsky atau The Four Seasons-nya Antonio Vivaldi. Namun dalam kedua albumnya, repertoar yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah repertoar komposisi Mozart atau Beethoven, akan tetapi lagu-lagu lokal serta lagu-lagu daerah yang menjadi kekayaan budaya bangsa, sehingga kemudian anda akan menemukan lagu Ilir-Ilir dan Padang Bulan terdengar seperti symphony dari antah berantah, tidak terdengar seperti lagu dolanan rakyat Jawa. Demikian pula dengan lagu Gundul Gundul Pacul, Jaranan, dan Cublak-Cublak Suweng yang diaransemen unik dengan teknik pizzicato (strings yang dimainkan dengan cara dipetik, bukan digesek) yang digubah ke dalam sebuah komposisi medley berjudul Dolanan Pizzicato.

Dalam album Masa Lalu Selalu Aktual memang dominan ditampilkan lagu-lagu daerah (dominan Jawa sih) serta lagu-lagu Indonesia dari masa lampau semacam Sapu Lidi dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama yang walaupun jadul namun masih terasa abadi untuk didengarkan. Sedangkan album Buaian Sepanjang Masa menampilkan lagu-lagu yang akrab diperdengarkan sebagai lagu pengantar tidur semacam lagu Tak Lelo Ledhung atau Timang-Timang yang akan membawa kita melayang dalam lamunan akan kenangan masa kecil ketika kita masih berada dalam buaian ibunda.

Pendek kata, apabila anda sudah mulai bosan dengan lagu-lagu yang sering muncul di tivi sekarang, atau sekedar ingin mencari suasana lain, album dari Sa' Unine ini pantas untuk anda dapatkan. Sekedar informasi, untuk mendapatkan album dari Sa' Unine ini silahkan menghubungi Rumah Budaya Tembi Jakarta di Jl. Gandaria I No. 47 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan karena tidak dijual di toko-toko kaset. Oiya, kalau mau dengerin aja dulu sampel lagu-lagunya di sini.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 07 Jul 2011 11:00:00 -0700 The Social Network http://fanikovsky.posterous.com/the-social-network http://fanikovsky.posterous.com/the-social-network

Bukan, saya tidak sedang membicarakan sebuah judul film. Saya tadi sedang iseng membuka file-file lama saya yang dulu saya titipkan di laptop si adek, dan menemukan "artefak kuno" halaman-halaman website yang dulu saya simpan. Saya dulu suka menyimpan halaman-halaman web yang saya anggap perlu disimpan, dan salah satunya adalah Friendster. Yeah. Friendster inilah jejaring sosial pertama yang saya kenal tahun 2005 silam.

Early

Tampilan awal friendster

Tiba-tiba saja saya tenggelam dalam memori masa lalu. Betapa friendster telah memicu sebuah evolusi masyarakat dalam bersosialisasi. Saya yang tadinya hanya mengenal internet untuk browsing, sedikit chat, dan paling banter berinteraksi lewat milis, tiba-tiba menemukan sebuah euforia ketika berkenalan dengan friendster. Dan tentu saja saya tidak sendiri. Friendster saat itu begitu digandrungi oleh kawula muda khususnya, sebagai sebuah mainan baru, sebagai sebuah ukuran gaul, dan sekaligus sebagai identitas dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun maya.

Running_out
Dengan friendster, orang bisa memasang halaman pribadinya sendiri dan memperkenalkan diri kepada dunia luar, memperoleh kenalan baru, dan berinteraksi dengan cara yang lebih menarik daripada lewat milis ataupun yahoogroups dengan berbagi gambar-gambar ataupun file lagu.

Waktu itu, saling bertukar testimonial adalah hal yang menyenangkan. Banyak hal yang terjadi dari sini. Kisah-kisah cinta, perkenalan dengan orang-orang baru, perjumpaan dengan teman lama, atau sekedar seru-seruan menambah keakraban baik antara teman baru maupun lama. Sampai-sampai, dua orang kawan ketika bertemu di dunia nyata pun akan saling berkata: "Lo punya FS ya? Isiin testi buat gue yaa"

Testimonial & Komentar

Tidak cuma buat lucu-lucuan. Friendster juga bisa dijadikan media "serius". Saya dulu sering menulis review, entah itu lagu, buku, film, maupun pertunjukan. Ngeblog, saya juga suka. Walaupun tidak terlalu sering ngisi.

Tapi belakangan ada satu lagi fitur friendster yang saya suka: Bulletin Board. Sebenarnya, pada awalnya Bulletin Board diciptakan oleh arsitek friendster sebagai media untuk bertukar informasi, entah untuk menyampaikan undangan, berbagi artikel, ataupun informasi lainnya. Tapi entah kenapa, belakangan entah siapa yang memulai, Bulletin Board dijadikan ajang lucu-lucuan dengan menyebarkan semacam kuis berantai dengan deretan pertanyaan konyol yang akan dijawab dengan tak kalah konyol pula oleh si penerus bulletin. Hal ini sempat mewabah dan tentu saja ikut menjangkiti saya :D Dan ujung-ujungnya, kuis-kuis ini malah dijadikan modus operandi bagi sebagian orang--termasuk saya--untuk melakukan perbuatan curcol! Ah, betapa saya merindukan mengisi bulbo lagi... :D

Bulletin Board aka Bulbo

Namun semua itu kini tinggal kenangan seiring dengan ditutupnya layanan jejaring pertemanan friendster beberapa waktu yang lalu. Friendster telah menyerah kalah ditinggalkan pendukungnya di masa lalu yang telah pindah menggandrungi jejaring sosial yang lain yang lebih canggih dan interaktif. Facebook. Belum lagi jejaring-jejaring sosial yang lain semacam Twitter atau Foursquare. Memang, jaman terus berganti. Demikian pula hal-hal ikut berubah. Bahkan kini Facebook pun mulai terasa hilang pamornya. Kabar terkini yang terdengar, Google tengah mempersiapkan senjata andalannya dan ikut terjun dalam dunia jejaring sosial dengan produk barunya yang bernama Google+ yang digadang-gadang akan menjadi pembunuh Facebook dalam waktu dekat. Yah, entahlah apa yang akan terjadi nanti. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Hanya satu yang jelas, sesuai kodratnya manusia adalah makhluk sosial. Dan selama itu pula, manusia akan selalu mencari cara untuk selalu bisa berinteraksi dengan sesamanya. Entah bagaimanapun caranya.

Selamat tinggal, Friendster. Terimakasih atas segala kenangan masa lalu yang telah engkau bagi bersama.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 05 Jul 2011 01:22:45 -0700 Sepenggal Cerita Dari Bumi Manakarra http://fanikovsky.posterous.com/sepenggal-cerita-dari-bumi-manakarra http://fanikovsky.posterous.com/sepenggal-cerita-dari-bumi-manakarra

Tulisan ini sekedar catatan dan dokumentasi perjalanan saya ke Mamuju beberapa waktu yang silam. Saya sebelumnya saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari saya akan nyasar ke tempat ini. Kota yang sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Barat inilah yang menjadi tujuan saya setelah saya dengan pasrah menerima untuk sejenak ditugaskan oleh kantor di tempat ini.

Dsc_0374

Lost in Mamuju

Cara termudah dan tercepat menuju Mamuju adalah dengan pesawat udara. Sebelumnya, saya sempat senewen karena mengira untuk mencapai Mamuju hanya bisa ditempuh dengan berjam-jam melalui jalan darat dari Makassar. Berbagai kisah mengenai begal dan bajing loncat yang sering menghadang di kegelapan malam cukup membuat hati saya kecut. Tapi saya akhirnya bisa bernapas lega setelah mengetahui ada penerbangan langsung menuju Mamuju dari Jakarta.

Sampai saat tulisan ini dibuat, hanya ada satu penerbangan langsung yang melayani rute Jakarta - Mamuju yang disediakan oleh maskapai Lion Air. Maksud saya "penerbangan langsung", bukan dari Jakarta langsung mendarat di Mamuju, tetapi hanya sekali beli tiket untuk penerbangan yang terbagi menjadi dua sesi: Jakarta-Makassar dengan Lion Air dan Makassar-Mamuju dengan Wings Air. Sebenarnya ada juga Merpati yang melayani rute Makassar-Mamuju, tetapi berdiri sendiri dan tidak tersambung dengan penerbangan dari Jakarta.

Pesawat Wings Air seri ATR 72-500 yang saya tumpangi memakan waktu sekitar 50 menit untuk menempuh perjalanan dari Makassar menuju Mamuju. Pesawat berbaling-baling berkapasitas 72 orang ini diluar sangkaan saya mampu meluncur dengan nyaman sampai akhirnya mendarat di bandara Tampa Padang Mamuju.

Ada hal yang mencengangkan ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di bandara Tampa Padang. Bandara ini tampak sepi, tidak terlihat banyak kegiatan. Ketika saya masuk ke dalam bangunan bertuliskan ARRIVAL, saya lebih terheran-heran lagi karena bangunan tersebut kecil, dan bersekat-sekat papan tripleks. Seperti kantor kelurahan di desa terpencil. Bagasi diambil langsung dari trolley bagasi oleh masing-masing pemiliknya secara swalayan. Tidak ada ban berjalan. Wow, ini bandara di ibukota propinsi!

Wings Air ATR 72-500 dan kegiatan di Bandara Tampa Padang

Kota Mamuju yang berjarak sekitar 35 km dari bandara juga tak kalah mencengangkan. Sepi, sama sekali tidak nampak seperti sebuah ibukota propinsi. Malah lebih tampak seperti kota-kota kecil di Jawa. Tidak tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tidak ada bioskop XXI, dan jangan mencari mall. Tidak ada macet, karena jalanan lebih sering tampak lengang. Di beberapa bagian di dalam kota bahkan jalanan tampak rusak berat. Tapi saya sempat terkejut karena disini ada taksi. Ya, taksi seperti yang ada di kota-kota besar di Jawa. Taksi sedan, dengan argo, walaupun katanya hanya ada 10 unit. Saya tidak melihat banyak angkutan umum yang lain, hanya sesekali melihat kendaraan minibus plat kuning, becak, dan ojek. Berjalan-jalan memutari kota ini tidak perlu waktu berhari-hari, karena hanya dalam waktu setengah jam anda sudah bisa melihat seluruh isi kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan kembali lagi ke tempat awal sewaktu berangkat.

Beberapa landmark kota Mamuju

Ibarat manusia, kota Mamuju sebagai ibukota propinsi memang seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Kota ini sedang berbenah. Berbagai pembangunan infrastruktur sedang dikerjakan disini. Konon harga tanah di kota membubung tinggi. Dan banyak orang Mamuju menjadi kaya mendadak. Propinsi Sulawesi Barat seperti sebuah "propinsi kaget", dan banyak orang Mamuju yang juga terkaget-kaget dengan perubahan status kotanya menjadi ibukota propinsi.

Dsc_0294
Kantor Gubernur yang baru. Contoh pembangunan sarana-prasarana yang sedang digalakkan di kota ini.

Tidak sulit menemukan akomodasi di Mamuju. Ada beberapa hotel disini. Yang sempat saya lihat adalah penginapan Srikandi, Samudera Beach, Hotel Mutiara, dan hotel tempat saya menginap, d'Maleo. Hotel d'Maleo yang saya tempati adalah hotel bintang tiga, dengan pelayanan standar hotel bintang tiga pada umumnya. Asyiknya, hotel ini terletak di pinggir pantai, dan kebetulan saya mendapat kamar dengan view menghadap pantai :D

Hotel tempat saya menginap dan view pantai Manakarra dari jendela kamar

Mamuju adalah sebuah kota pesisir. Tak heran, iklim dan kehidupan pesisir mendominasi kota ini. Tetapi posisi geografis Mamuju cukup unik karena walaupun berada di garis pantai, namun sedikit masuk ke dalam kita akan menjumpai kontur tanah perbukitan. Tapi tetap saja udara di Mamuju terasa panas menyengat, seperti daerah pesisir pada umumnya.

Pantai Manakarra dan kontur tanah Mamuju dan sekitarnya

Tidak banyak kuliner khas dari Mamuju. (Atau malah tidak ada?) Karena Mamuju adalah daerah pesisir, banyak dijumpai rumah-rumah makan yang menyediakan olahan ikan laut segar. Selebihnya, kuliner Mamuju banyak didominasi oleh kuliner khas Makassar. Dan yang sedikit mengherankan, lebih banyak lagi warung-warung makan jawa di seantero kota. Rupanya di Mamuju banyak juga pendatang dari Jawa. Agak geli juga jauh-jauh ke Mamuju malah beli nasi goreng mawut. :D Untungnya, saya masih sempet menikmati Sara'ba (sejenis bandrek) ditemani aneka gorengan hangat di tengah dinginnya malam. Tidak lupa mencicipi Mie Titi (sejenis ifumie) khas Makassar.

Kuliner Mamuju. Antara Sara'ba sampai nasi goreng mawut :D

Berkunjung ke Mamuju kita akan sejenak melupakan kepenatan dari hiruk pikuknya kota. Tempat yang tenang, damai, dan jauh dari beringasnya kehidupan metropolitan. Serasa sedang di dunia antah berantah. Walaupun kalau lama-lama disini mati gaya juga sih kalau udah biasa hidup di kota besar :D. Sayang sekali saya tidak sempat menjelajah ke obyek yang lain seperti air terjun yang terletak beberapa kilometer dari kota. Yah, mungkin lain kali. Atau anda sendiri berminat kesana? :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 14 Jun 2011 01:08:21 -0700 Suatu Hari Di Balik Tembok Keraton Putih http://fanikovsky.posterous.com/pada-suatu-ketika-di-balik-tembok-keraton-put http://fanikovsky.posterous.com/pada-suatu-ketika-di-balik-tembok-keraton-put

Akhir pekan yang lalu saya mengunjungi kota Cirebon dalam rangka sebuah urusan. Dan diantara ribetnya urusan tersebut saya masih menyempatkan diri untuk bergaya turis dan mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama membuat saya penasaran: Keraton Kasepuhan. Cirebon memang bukan terkenal sebagai kota wisata, namun kota ini kaya dengan peninggalan dan kisah-kisah sejarah. Saya paling suka mengunjungi tempat-tempat kuno dan bersejarah, dan Keraton Kasepuhan adalah salah satunya.

800px-symbol_keraton_kasepuhan
Dua macan putih penjaga Keraton Kasepuhan. (Photo courtesy of Wikipedia)

Keraton Kasepuhan adalah satu dari tiga situs keraton yang ada di Cirebon. Dua keraton yang lain adalah Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan. Tetapi Keraton Kasepuhanlah yang paling tua dan yang tampak paling bersinar dibandingkan dua keraton yang lain.

Gerbang
Untuk memasuki kompleks keraton ini anda dikenai retribusi cukup lima ribu rupiah sahaja untuk tiap orang. Dan itupun masih mendapat bonus satu orang tour guide apabila anda dateng berombongan. Tapi kemaren saya dateng hanya berdua dan tetap dikasih bonus seorang guide yang setia mengantar kami kemana-mana. Awalnya kami sempet merasa kurang nyaman dengan adanya tour guide ini, tapi ternyata kehadiran beliau ini berguna juga, karena bapak tua berbusana tradisional yang menjadi tour guide kami ini aktif sekali menceritakan kisah-kisah di masa lampau.

Keraton Kasepuhan memang tidak sebesar dan semegah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ataupun Keraton Mangkunegaran Surakarta, bahkan di beberapa sudut nampak kusam tidak terawat, tetapi Keraton Kasepuhan memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan hasil perpaduan dari berbagai budaya mulai dari kebudayaan Hindu, Cina, Islam, sampai kebudayaan Eropa. Hal ini tampak dari motif-motif bunga, piring-piring dari dinasti Ming yang ditempel di dinding, serta keramik-keramik di dinding dari Eropa yang menggambarkan kisah-kisah Injil.

Pengaruh kebudayaan Hindu juga tampak dari Gapura Bentar pada bangunan Siti Hinggil yang didominasi oleh bata merah. Bangunan seperti ini mengingatkan saya pada candi-candi Hindu peninggalan Majapahit di Trowulan seperti candi Wringin Lawang yang juga berbentuk gapura bentar juga candi-candi hindu Majapahit lain yang juga dominan oleh bata merah.

Pengaruh kebudayaan Hindu di Cirebon

Di dalam kompleks keraton juga terdapat sebuah museum yang menyimpan barang-barang peninggalan masa lampau seperti Kereta Singa Barong, berbagai peninggalan perang, serta berbagai perkakas yang digunakan di masa lampau.

Souvenirs_from_the_past

Khusus mengenai Kereta Singa Barong, tour guide kami begitu bangga menceritakan berbagai kelebihan kereta tersebut. Sudah menggunakan shock breaker (bukan menggunakan pegas tetapi menggunakan karet, serta kabin yang mengayun ke depan dan ke belakang, tidak menyatu langsung dengan chassis), dan menggunakan teknologi mekanis sederhana yang bisa menggerakkan sayap sehingga kereta nampak seperti terbang. Untuk ukuran teknologi abad 14, benda ini saya anggap mengagumkan. Dan yang saya salut sekali, kereta ini masih terawat baik sampai sekarang.

Kereta_kencana
Kereta Singa Barong 

Masih di kompleks Keraton Kasepuhan, juga terdapat sebuah Masjid yang tak kalah bersejarah: Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Konon kabarnya masjid ini dibangun berbarengan dengan Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Yang lain dari pada yang lain di masjid ini adalah, azan untuk menandakan waktu shalat dikumandangkan oleh tujuh orang! Sayang sekali kami tidak sempat masuk kedalamnya, dan hanya sempat narsis-narsisan di depan salah satu pintu gerbangnya yang unik.

Sekedar tips, bila anda berniat mengunjungi kompleks keraton ini, siapkan uang recehan banyak-banyak. Bukan untuk diberikan pada pengemis, tetapi untuk menyumbang "dana kebersihan" tiap anda berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Siapkan pula uang seikhlasnya (dan sepantasnya) untuk "uang saku" tour guide anda. Sangat disayangkan, nampaknya dana perawatan untuk memelihara kompleks Keraton Kasepuhan ini masih sangat kurang..

 

Models: Farah Pratiwi, Fanni Anjas Sagita | All photos taken with Sony Ericsson X1i, except on "Dua Macan Putih Penunggu Keraton Kasepuhan". | Edited with PhotoScape 3.5

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 12 May 2011 00:13:00 -0700 Dendam Yang Terbayarkan (Balada Sepiring Martabak) http://fanikovsky.posterous.com/dendam-yang-terbayarkan-balada-sepiring-marta http://fanikovsky.posterous.com/dendam-yang-terbayarkan-balada-sepiring-marta

CHAPTER I

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengunjungi kota Palembang dalam rangka urusan dinas. Diantara keribetan-keribetan urusan kerjaan, tentu saja saya selalu bersukacita untuk berkuliner ria. Saya paling doyan makan, dan saya selalu excited sekali untuk nyobain makanan khas daerah setempat yang belum pernah saya coba.

Beberapa makanan khas Palembang memang sudah tidak asing lagi di lidah saya. Pempek misalnya. Makanan yang satu ini mah dimana-mana ada. Nyaris sepopuler rumah makan padang. Kemudian ada lagi mie celor. Makanan ini juga pernah saya coba di Jakarta, di sebuah Rumah Makan Palembang di seberang Blok S. Sampai kemudian seorang kawan merekomendasikan satu lagi makanan khas Palembang lainnya.. "Cobalah Martabak HAR!"

Sayang sekali saya ndak bisa berlama-lama di Palembang, dan padatnya urusan kerjaan menjadikan saya harus puas untuk berkuliner pempek saja disana. Sampai mabok malah. Karena di setiap kunjungan ke UPT selalu jamuan oleh tuan rumahnya berupa pempek. "Ajegileee.. Pempek di Jakarta juga banyak Pak, masa sepanjang hari pempek mulu?" demikian keluh saya dalam hati. Memang sih, pempek Palembang asli rasanya mantep bener. Tapi tetep aja mabok bener dua hari dikasih pempek mulu.

Akhirnya, saya pada waktu itu terbang pulang ke Jakarta dengan kata-kata Martabak HAR terngiang-ngiang di kepala. Saya cuman bisa gigit jari karena belom sempet nyobain. Mau balik lagi ke Palembang? Gilee.. Kapan?

* * *

CHAPTER II

Siang ini saya dengan raut muka berseri-seri melangkah keluar dari Bus Transjakarta Koridor I Blok M - Kota. Turun di halte Sawah Besar. Saya sedang "bebas tugas" dari kantor untuk menyelesaikan sebuah urusan, dan diantara urusan tersebut saya menyempatkan diri untuk menyambangi sebuah tempat yang sudah lama ingin saya datangi. Saya menyusuri sejenak Jl. Hayam Wuruk di tengah teriknya matahari, kemudian senyum saya mengembang setelah melihat sebuah neon box bertuliskan: "Martabak HAR. Cabang Palembang"

Dsc_0017
Jadi ternyata Restoran Martabak HAR ini menghidangkan aneka masakan a la India. Ada macam-macam nasi briyani, roti prata, aneka martabak, dan tentu saja martabak HAR. Lantas saya memesan satu porsi Martabak HAR.
Dsc_0014
Singkat cerita, martabak HAR ini beda dengan martabak telor pada umumnya. Baik isi maupun penyajiannya. Beberapa saat setelah saya memesan, yang pertama kali datang adalah sebuah mangkuk dan sebuah cawan kecil. Mangkuknya berisi kuah kari yang di dalamnya berisi beberapa bongkahan (saya menyebutnya bongkahan karena tidak berbentuk potongan rapi) kentang dan sedikit irisan daging, sementara cawan yang kecil berisi kecap asin yang ditaburi irisan cabai.
Dsc_0016

 

Beberapa saat kemudian, this is it! Datanglah martabak yang saya pesan. Dan tampilannya sangat minimalis. Kalau martabak biasa kan isinya penuh dengan sayuran, daun bawang, dan daging. Naah, kalau martabak HAR ini hanya berisi telor sahaja. Jadi, seperti telor yang dibungkus kulit martabak gitu. Lantas saya mulai nyobain dengan mengguyurnya dengan sedikit kuah kari dan kecap asin. Awalnya saya mengira akan eneg memakan benda ini, karena saya beberapa kali makan roti cane di tempat nasi goreng aceh, dan entah kenapa merasa sedikit eneg memakannya. Tapi ternyata dugaan saya salah! Martabak dengan kuah kari ini terasa pas di lidah saya. Kuah karinya nggak terlalu tebel banget. Yah, pas. Atau mungkin saya sedang laper aja? Entah. Yang jelas, saya tersenyum puas ketika meninggalkan selembar uang duapuluh ribuan di kasir kemudian melangkah lagi melanjutkan perjalanan.

SEKIAN

----------
Sent from my non-BlackBerry® device

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 29 Mar 2011 23:28:00 -0700 Martian's Rules For Venusian http://fanikovsky.posterous.com/martians-rules-for-venusian http://fanikovsky.posterous.com/martians-rules-for-venusian

Hmm.. lagi ndak kreatip buat ngepost di blog nih. Berikut adalah sebuah tulisan yang saya copas dari note seorang kawan di facebook yang men-tag saya dalam note tersebut (dimana kawan saya itu juga copas entah dari mana :D) Intinya, tulisan ini sangat-sangat relevan dengan yang sedang saya alami sekarang. Perbedaan cara pandang seorang pria dan wanita dalam menyikapi suatu hal memang sebuah hal yang memusingkan yang sering menimbulkan benturan dalam sebuah hubungan. Saya yakin penulis tulisan di bawah ini sama desperate dengan saya yang kadang tidak habis pikir dengan adat kaum wanita yang bagi kami kaum lelaki tampak "ajaib" :

BAHASA PRIA - JERITAN KAMI KAUM LELAKI

Yang selalu kita dengar adalah Girls Rulez, kini saatnya kami para cowok2 mengungkapkan isi hati kami. Ini adalah cerita dari sisi kita, Kaum Cowok!! Kaum Adam!! Aturan kita!!

1. Tidak Semua cowok seperti Dedy Corbuzier.

Jadi jangan harap kami bisa membaca isi pikiranmu disaat kamu manyun tanpa suara. Apa susahnya sih bilang : "Aku Laper, Aku minta dibeliin pakaian, Tolong Rayu Aku...!!"

2. Hari Minggu itu waktunya istirahat setelah 6 hari bekerja, jadi jangan harap kami mau menemani seharian jalan2 ke mall.

3. Berbelanja BUKAN olahraga. Dan kami gak akan berpikir ke arah situ.

Bagi kami belanja ya belanja, kalau sudah pas ya beli saja, perbedaan harga toko A dan B cuma 1,000 perak jadi nggak usah keliling kota untuk cari yang paling murah, buang2 bensin aja.

4. Menangis merupakan suatu pemerasan.

Lebih baik kami mendengar suara petir, guntur , bom meledak daripada suara tangisanmu yang membuat kami tidak bisa berbuat apa2.

5. Tanya apa yang kamu mau. Cobalah untuk sepaham tentang hal ini.

Sindiran halus tidak akan dimengerti.

Sindiran kasar tak akan dimengerti

Terang2an menyindir juga kita gak ngerti!

Ngomong langsung kenapa!?

6. Ya dan Tidak adalah jawaban yang paling dapat diterima hampir semua pertanyaan. Just that simple.!!

7. Cerita ke kami kalo mau masalah kamu diselesaikan. Karena itu yang kami lakukan. Pengen dapet simpati doang sih, cerita aja ke temen2 cewekmu.

8. Sakit kepala selama 17 bulan adalah penyakit. Pergi ke dokter sana !

9. Semua yang kami katakan 6 bulan lalu gak bisa dipertimbangkan dalam suatu argumen. Sebenernya, semua komentar jadi gak berlaku dan batal setelah 7 hari.

Janji kami untuk menyebrangi lautan dan mendaki gunung itu hanyalah klise, jangan dianggap serius.

10. Kalo kamu gak mau pake baju kayak model2 pakaian dalam, jangan harap kita seperti artis sinetron dong.

11. Kalo kamu pikir kamu gendut, mungkin aja. Jangan tanya kami dong. Cermin lebih jujur daripada Lelaki.

12. Kamu boleh meminta kami untuk melakukan sesuatu atau menyuruh kami menyelesaikannya dengan cara kamu. Tapi jangan dua2nya dong. Kalo kamu pikir bias melakukannya lebih baik, kerjain aja sendiri.

13. Kalau bisa, ngomongin apa yang harus kamu omongin pas iklan aja.

Ingat, jangan sekali2 ngomong apalagi pas saat tendangan pinalty.

14. Kami bukan anak kecil lagi

jadi tak perlu mengingatkan jangan lupa makan, selamat tidur, dll. Menurut kami itu hanyalah pemborosan pulsa saja.

15. Kalo gatel kan bisa digaruk sendiri. Kami juga kok.

16. Kalo kami nanya ada apa dan kamu jawab gak ada apa2, kami akan berpikir memang gak ada apa2.

Ingat, seperti no.1 kami bukanlah pembaca pikiran. Ngomong baby...ngomong. ...!!

17. Kalo kita berdua harus pergi ke suatu tempat, pakaian apapun yang kamu pakai, pantes aja kok. Bener. Jadi tidak ada alasan gak mau pergi ke pesta karena tidak ada baju.

18. Jangan tanya apa yang kami pikir tentang sesuatu kecuali kamu memang mau diskusi tentang bola, game, billyard, memancing atau mungkin juga ttg teknik mereparasi mobil.

19. Kami malas berdebat secara hati dan perasaan, ingat!! kami hanya pakai logika.

20. Terima kasih sudah mau baca ini. Iya Mam, aku akan tidur di sofa nanti malam.

(from http://www.facebook.com/notes/fashih-d-pambudi/bahasa-pria-jeritan-kami-kaum-...)

 

Note:

  1. Sebagian besar isi tulisan tersebut merupakan problem yang sama bagi saya.
  2. Point no.20... wakakaka, what a poor guy..

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Mon, 31 Jan 2011 00:50:30 -0800 When I Feel "Galau" http://fanikovsky.posterous.com/when-i-feel-galau http://fanikovsky.posterous.com/when-i-feel-galau

Sepotong lagu "Creep" yang dipopulerkan oleh Radiohead. Piano & vokal oleh saya sendiri pada kunci G. Direkam pada 30 Januari 2011. (Berhubung lagi flu nada tingginya gak bisa keluar :p Nanti direkam ulang lagi deh kalau udah sehat--tapi nggak janji yaa :p)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Tue, 18 Jan 2011 00:52:00 -0800 Foamy Conversation When Stomach Calls http://fanikovsky.posterous.com/foamy-conversation-when-stomach-calls http://fanikovsky.posterous.com/foamy-conversation-when-stomach-calls

Maknyus
Rasa-rasanya pikiran saya akhir-akhir ini gak jauh-jauh dari makanan (Tulisan saya dimana-mana lama kelamaan isinya juga gak jauh-jauh dari makanan :D). Kayak tadi siang. Ada temen nulis apaaa di fesbuk ujung-ujungnya malah komennya nyambung ke makanan. Haduh, jadi pengen bebek sambel korek lagi. Bayangkan, sebuah malam yang dingin di musim ujan, ngadepin piring dengan nasi putih mengepul, sepotong bebek yang digoreng kering yang baru saja diangkat dari pengorengan, dan lengkap dengan secawan sambel korek yang aduhai rasanya. Pedas dan spicy, sampai bulir-bulir keringat menetes dari ubun-ubun diiringi desisan mulut kepedesan. Waaahh.. Sensasinya itu lho, sampai-sampai cuman sekedar membayangkannya aja saya sampai ngiler..

Dsc_0774
Bebek goreng sambel korek langganan saya di Jl. Raya Gandul, Cinere. Lupa nama tempatnya. Tapi rasa bebek dan sambelnya gak kalah sama Bebek H. Slamet. Maknyoss!

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 04 Jan 2011 23:45:32 -0800 Republic Noodlenesia http://fanikovsky.posterous.com/republic-noodlenesia http://fanikovsky.posterous.com/republic-noodlenesia

Kalau ada makanan yang paling saya gemari di jagad perkulineran, mungkin salah satunya adalah mie. Track record saya menggemari varian mie telah berawal sejak saya kecil. Saat itu saya paling suka dengan jajanan Anak Mas, Krip-Krip, dan Mamee, sejenis noodle snack yang sesuai dengan namanya berupa mie yang didesain tidak terlalu keras agar bisa dimakan mentah-mentah kemudian ditaburi bumbu. Jajanan ini begitu saya gemari sehingga kadang saya sering banget terlihat dimana-mana membawa kemasan Anak Mas dan konco-konconya tersebut. 

Anak-mas

Anak Mas

Namun kadang jajanan tersebut kurang memenuhi hasrat saya mengunyah--bagaimana tidak, jajanan anak mas dan konco-konconya tersebut porsinya cuman seupil, dan bisa saya habiskan dalam sekejap. Akhirnya, saya mulai tergoda untuk makan mie instant mentah yang jauh lebih banyak isinya!

Dsc_0825
Dan perbuatan nista ini bahkan masih saya lakukan hingga sekarang! :D 

Tapi saya tidak selalu menikmati mie instant dengan dimakan mentah-mentah, terutama karena mie-nya lebih keras, dan bumbunya lebih asin. Saya juga gemar memakan mie instant tersebut dengan cara yang normal, yaitu dengan dimasak dahulu. Biasanya saya paling hobi nyoba-nyobain berbagai varian mie instant yang ada di supermarket kemudian memasaknya dirumah. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang, walaupun saya mulai menguranginya setelah mulai mendengar berbagai kabar miring tentang dampak terlalu banyak mengkonsumsi mie instant bagi kesehatan. 

Tapi toh, Indomie rebus tetap menjadi favorit saja di warung burjo (istilah populer di Jogja) ketika saya kuliah dulu ataupun di warkop (istilah di Jakarta) saat makan siang di sela-sela jam kantor, tidak peduli sedang bokek atau banyak duit. :D

X2_2141f00
Indomie rebus telor a la burjo aka warkop

Bahkan mie menjadi favorit saya ketika sedang bepergian dengan kereta. Pop Mie yang dijajakan pedagang asongan menjadi teman yang hangat di tengah perjalanan daripada suntuk dan lapar. Kalaupun tidak ada yang jualan Pop Mie pun (karena sedang naik kereta eksekutif yang bebas pedangang asongan), saya juga rela memesan Indomie rebus di restorasi.

Dsc_0814

Pop Mie!

Dsc_0218
Indomie rebus, suatu hari di atas kereta api eksekutif dalam perjalanan ke Jogja. (Kalau di kereta bisnis, mangkoknya tidak ditutup plastik seperti pada gambar.)

Tentu saja, saya tidak melulu hobi makan mie instant. Saya juga menggemari varian-varian mie yang lain seperti Mie Yamin, sejenis Mie Ayam dengan kuah dipisah.

Dsc_0312
Mie Yamin a la Cwie Mie Malang

Mie Baso (ini juga salah satu favorit saya di mana saja. Saya pernah waktu jaman kuliah dulu sempet beberapa hari berturut-turut setiap hari makan mie baso. Mulai dari baso a ala tukang jualan keliling, mie baso deket rumah, juga baso Pak Narto atau Pak Bawor yang populer di Jogja.)

Dsc_0321
Mie Baso a la Es Teler 77

Mie Hot Plate, sesuai dengan namanya adalah mie yang disajikan panas-panas dalam sebuah hot plate. Enak deh.

Mie Hot Plate ala Szechuan foodcourt Plasa Semanggi & Mie Hot Plate Sapi Lada Hitam Kedai Kita Bogor

Ifumie, sejenis mie kering yang disiram dengan kuah kental panas, sehingga mie yang tadinya kering jadi empuk. Enak sih. cuman agak mahal.

Dsc_0313

Ifumie a la Solaria

Lomie, sejenis mie dengan kuah yang amat kental seperti ingus bercita rasa sea food. Saya baru nyoba sekali sih pas main ke Bandung. Menarik. Enak kok. Cobain deh.

Dsc_0274
Lomie lapangan Gasibu, Bandung

Mie Ramen. Hmm. Beberapa teman saya suka sekali dengan Mie Ramen. Terutama mereka yang Japholic alias suka dengan hal-hal yang berbau Jepang. Tapi entah kenapa saya kurang begitu suka. Terlalu banjir kuahnya menurut saya. Biasanya kan Mie Ramen dihidangkan dalam sebuah mangkok besar dalam kuah yang melimpah (tapi mie-nya cuman dikit). Jadi inget, sewaktu saya nyobain Mie Ramen 38 kan ada level kepedasannya tuh. Nilainya antara 1-10. Dan saya milih level 1. Dan....masih kepedesan! Cemen yah.. -_-"

Dsc_0010
Mie Ramen 38 Citos

Ngomong-ngomong mie dengan porsi besar, saya tergila-gila dengan Mie Tarik Leiker. Porsinya bener-bener gila. Mienya buatan sendiri, dan kita bisa ngeliat proses pembuatan mienya di gerainya, dan mienya dibuat dengan ukuran gede-gede. Saya sarankan, jangan kesini kalau hanya sekedar ingin nyari snack diantara waktu makan. Bisa-bisa malah mubazir. Biasanya sih saya suka pesen yang Tom Yam.

Dsc_0573
Mie Tarik Leiker Tempura kalo gak salah.

Mie Koclok. Naah, ini menarik. Mie Koclok adalah mie khas dari daerah Cirebon. Disajikan dengan kuah seperti bubur santan kental. Mungkin agak sedikit neg, tapi lumayan buat temen penghangat badan di malam kelam. Cobain deh kalau lagi main ke Cirebon.

Mie Koclok

Oiya, beberapa waktu yang lalu saya pulang kampung dan menemukan Rumah Makan Mie Pelangi. Sebenernya sih penyajiannya seperti Mie Ayam Yamin biasa, tapi bahan mienya dibuat dengan campuran sayur-sayuran seperti bayam, wortel, sawi, dan lain-lain sehingga menghasilkan mie berwarna warni. Honestly, rasanya sedikit aneh sih. Tapi pastinya mie ini lebih sehat. Berikut gambarnya:

Dsc_0515

Mie Pelangi yang saya temukan di kampung saya di Lasem, Rembang. Pastinya ada di kota lain, tapi saya belum pernah nyoba. :D

Bakmi Jawa. Inilah varian bakmi yang khas dari Jogja. Dimasak di atas anglo dengan api arang. Biasanya digunakan campuran telor bebek didalamnya. Biasanya saya lebih suka bakmi gorengnya, dan cenderung kurang suka dengan bakmie rebus nyemek (mie-nya direbus sampai lembek). Di Jogja, ada beberapa nama terkenal untuk urusan Bakmi Jawa, seperti Bakmi Pak Pele atau Bakmi Kadin. Tapi yang jelas Bakmi Jawa bisa dengan mudah ditemui di seantero Jogja, dengan rasa yang memuaskan. Yang jelas, citarasanya khas, apalagi bila ditambah dengan nyeplus cabe rawit. Wuaahh..saat nulis kalimat ini saya aja sampai ngiler. Dan hingga saya hijrah ke Jakarta pun, saya masih sering hunting bakmi Jawa..

Dsc_0050

Penampakan Bakmi Jawa Jape Methe Pasarminggu, Jakarta Selatan.

Terus.. apa lagi ya? Masih ada lagi sih mie unik yang pernah saya coba, yaitu Mie Ongklok. Tapi saya nggak sempet ambil fotonya. Mie Ongklok ini khas dari Wonosobo. Bentuknya mirip lomie kali ya, dengan kuah yang kental juga. Tapi saya agak-agak lupa rasanya.

Pendek kata, saya cinta sekali dengan mie. Oiya, di kantor saya juga kadang suka beli Indomie rebus buatan Aa' Sadeli di lantai dua. Rasanya khas, nggak seperti Indomie rebus di warkop atau burjo. Rupanya dia menggunakan kuah yang dibuat sendiri dengan menggunakan kaldu. Mie yang komplit oleh si Aa' dimasak bersama tahu, telor, dan baso. Berikut penampakannya:

Dsc_0944

Indomie si Aa'

Yasudahlah. Sekian saja cerita-cerita tentang mie. Saya harus kembali bekerja. Oiya, tadi siang saya makan siang dengan mie juga. Ada boss yang ulang tahun, dan satu lantai dibeliin makan siang semua. Lumayan. Makan siang gratisan.. :D

Gratisaaaaannn

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 09 Dec 2010 02:35:00 -0800 Frightening Sound In The Early Morning http://fanikovsky.posterous.com/frightening-sound-in-the-early-morning http://fanikovsky.posterous.com/frightening-sound-in-the-early-morning

Akhir-akhir ini saya susah sekali bangun pagi. Tiga alarm dari tiga ponsel yang berbeda yang sengaja dibunyikan tiap pagi seolah jadi sia-sia belaka, karena begitu alarm berbunyi, secara otomatis di alam bawah sadar, saya akan mematikan alarm-alarm tersebut dan……tidur lagi! Akibatnya, bangun jadi kesiangan. Menyebalkan.

 

Kesiangan bangun tiap pagi adalah sesuatu yang meresahkan. Kesiangan bangun pagi berarti kesiangan berangkat ngantor. Kesiangan berangkat ngantor berarti Bude akan ngomel--minimal menyindir. Dan kesiangan berangkat ngantor berarti kesiangan pula sampai di kantor. Ini tentu tidak bagus bagi reputasi saya di kantor.

Akhirnya saya keluarkan jurus andalan. Nada dering alarm harus diganti dengan sesuatu yang lebih ekstrim. Inilah ringtone alarm yang saya pakai sekarang. Sampai sejauh ini sih manjur. Kalau pada akhirnya lama kelamaan tidak manjur, nanti deh saya cari jurus lain. =))

BLAST OFF!
It's party time!
And we don't live in a fascist nation
BLAST OFF!

It's party time!
And
where the f#*k are you?

Where the f#*k are you?
Where the f#*k are you?
Why don't presidents fight the war?
Why do they always send the poor?
Why don't presidents fight the war?
Why do they always send the poor?
Why do they always send the poor?
Why do t
hey always send the poor?
WHY DO THEY ALWAYS SEND THE POOR
?

(suara lengkingan Daron Malakian dari System Of A Down pada lagu "BYOB". Sebenarnya saya agak malas memakai ringtone ini sebagai alarm. Karena selain bisa bikin jantungan, juga bisa berpotensi mengganggu ketenteraman lingkungan. Silahkan pakai juga sebagai alarm jikalau anda juga mengalami problem sama seperti saya. WARNING: segala resiko yang dapat ditimbulkan tidak ditanggung penulis :p )

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Fri, 24 Sep 2010 01:23:00 -0700 What A Wonderful World http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world http://fanikovsky.posterous.com/what-a-wonderful-world

Dulu saya sering make nada sambung pribadi untuk nomor ponsel saya. Iseng aja, sekedar ngasih hiburan buat orang-orang yang mau nelfon. (Halah, kayak banyak yang nelpon aja :p) Sekarang-sekarang sih udah males pake nada sambung semacem itu. Sayang aja buang-buang beberapa ribu pulsa buat bayar biaya bulanannya :D Nah, salah satu lagu yang pernah saya pakai sebagai nada sambung pribadi adalah "What A Wonderful World" milik Louis Armstrong. Dan saya masih ingat waktu itu beberapa teman yang pernah mendengarkan nada sambung pribadi itu suka komentar yang menyebalkan: “Lagu apaan seh? Gak jelas…” atau “Woi, apaan nih? Kagak ada lagu yang kerènan dikit apa?” Ayolah guys, emang gak pernah denger? Lagu keren ini mah. Biarpun jadul tapi punya makna yang mendalam. Coba aja denger lagunya:

Louis Armstrong, yang juga memiliki nama samaran Satchmo, semasa hidupnya dari tahun 1901 hingga 1971 dikenal sebagai musisi jazz yang piawai. Tidak hanya sebagai penyanyi, namun juga sebagai pemain trumpet, band leader, juga sekaligus sebagai entertainer yang dicintai banyak orang. Satchmo pula lah yang dikenal banyak mengembangkan style swing, yang kemudian menjadi dasar dari kebanyakan musik jazz dan RnB saat ini. Juga jangan lupakan pula jasanya dalam mengembangkan bentuk dasar improvisasi dalam musik jazz.

Kontras sekali dengan kehidupan awalnya yang didera kemiskinan dan bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah, Louis Armstrong menuai kesuksesan dalam karir musiknya dan kemudian menjadi semacam duta tak resmi bagi Amerika dalam bidang musik. Dalam perjalanan karirnya Louis Armstrong telah tampil di berbagai belahan dunia dan mengeluarkan banyak hits seperti “Mack The Knife”, “Hello Dolly”, “Blueberry Hill”, “When You Wish Upon a Star”, dan juga tentu saja “What A Wonderful World”.

Nah, bicara tentang “What A Wonderful World”, lagu ini menjadi menarik untuk dibahas karena dalam pemahaman saya seolah-olah di dalam lagu ini Louis Armstrong mengajak kita untuk senantiasa memandang dunia dari sisi positif, memandang dunia dengan penuh rasa optimis, seburuk apapun keadaan nyatanya. Sekarang coba bayangkan. Semasa Louis Armstrong hidup, rasisme hidup begitu subur di Amerika. Adanya rasisme menyebabkan warga kulit hitam—tak terkecuali Louis Armstrong—kehilangan banyak haknya di ruang publik. Warga kulit hitam dibedakan dengan warga kulit putih hanya untuk sekedar menikmati fasilitas umum, bahkan warga kulit hitam juga diburu dikejar-kejar untuk kemudian dibunuh—seperti yang dilakukan oleh organisasi teror Ku Klux Klan (KKK). Pendek kata, saat itu warga kulit hitam tak lebih dari hanya sekedar warga negara kelas kambing, dan saya yakin ini bukanlah hal yang menyenangkan bagi para warga Afro-American tersebut. Tapi secara kontras, Louis Armstrong malah berkata-kata dalam lagunya:

I see trees are green, red roses too..

I see them bloom for me and you..

And I think to myself:

"What a wonderful world…"

Wah, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa..

Nah, kalau kita lihat kondisi dunia saat ini yang acakadut—perang di satu sisi, ketimpangan sosial merajalela, kejahatan menggila, bencana alam mendera, terorisme dimana-mana, belum lagi kekerasan antar umat beragama—lantas timbul pertanyaan skeptis: “Masihkah dunia dapat menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman bagi kita semua?”, mari kita dengarkan lagi kata-kata Louis Armstrong:

The colours of the rainbow so pretty in the sky

Are also on the faces of people going by

I see friends shaking hands, sayin' "how do you do?"

They're really sayin' "I love you"

I hear babies cryin', I watch them grow

They'll learn much more than I'll ever know

And I think to myself: "what a wonderful world"

 

Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog friendster saya pada 18 Desember 2006. Telah diedit seperlunya.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 23 Sep 2010 21:39:00 -0700 Classical For Life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life http://fanikovsky.posterous.com/classical-for-life

Saya penggila musik klasik. (Walaupun akhir-akhir ini sedang jarang dengerin.) Mungkin bukan selera musik yang terlalu umum ya, tapi entah kenapa saya suka sekali mendengarkan nada-nada yang mungkin terdengar ruwet bagi banyak orang itu. Saya suka mendengarkan detilnya, dan seolah-olah nada-nada dari tiap komposisi klasik tersebut menari-nari berlompatan nakal dalam telinga saya. Nokturno melankolis Chopin, sonata-sonata piano Beethoven, lagu-lagu balet serta beberapa simfoni Tchaikovsky, komposisi ceria Mozart, serta beberapa karya biola yang riang milik Kreisler adalah beberapa komposisi yang saya suka. 

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi kesenangan saya terhadap musik klasik dengan seorang teman yang (pada waktu itu) akan mempunyai bayi. Teman saya ini memerlukan bantuan untuk mencarikan lagu-lagu klasik yang bagus buat si jabang bayinya ini, dan saya senang sekali berbagi beberapa lagu yang saya punya. Udah tau kan kalau musik klasik katanya bagus buat janin dan bayi? Yeah, nggak cuman buat janin saja sih, tapi juga bermanfaat bagi kehidupan manusia secara umum. Nah, disini saya nggak akan membahas bagaimana manfaat musik klasik tersebut bagi kehidupan, silahkan aja anda googling sendiri dan anda akan menemukan ratusan bahkan ribuan hasil pencarian yang terkait. Melanjutkan cerita tentang teman saya tadi, pada akhirnya saya cukup takjub ketika setelah bayinya lahir, teman saya ini memberikan kesaksian tentang pengaruh musik klasik bagi bayinya. Demikian kesaksian teman saya tersebut dalam sebuah jejaring sosial (nama sengaja disamarkan) :

Plurk-2

Keren. Saya juga akan memperdengarkan musik klasik buat anak saya kelak. :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 23 Sep 2010 00:52:00 -0700 Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get. http://fanikovsky.posterous.com/life-was-like-a-box-of-chocolates-you-never-k http://fanikovsky.posterous.com/life-was-like-a-box-of-chocolates-you-never-k

Dsc_0357

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

Barangkali itulah kutipan yang paling diingat orang dari film Forrest Gump. Tapi saya sih ndak ambil pusing dengan kata-kata Mr. Gump tersebut. Dan empat butir coklat diatas-lah yang saya pilih ketika saya disodorin sekotak coklat sisa lebaran yang dibawa rekan kantor tadi pagi. Lumayan buat kudapan sebelum makan siang.. =))

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Tue, 21 Sep 2010 02:56:00 -0700 un fabuleux voyage là.. http://fanikovsky.posterous.com/un-fabuleux-voyage-la http://fanikovsky.posterous.com/un-fabuleux-voyage-la

Libur lebaran tahun ini bener-bener nampol buat saya. Waktu liburan selama 11 hari (dengan 6 hari cuti) bener-bener saya manfaatkan sebaik-baiknya dan sepuas-puasnya untuk jalan-jalan. Berikut adalah beberapa snapshot yang sempat terambil dengan kamera ponsel saya:

 

Prologue: The Journey of Backpain

Dengan partner mudik saya, neng Karina, saya sukses menempuh perjalanan Jakarta - Semarang 8-9 September 2010 selama 21,5 jam. :D

 

--------------------


Chapter #1: Magelang

Biasanya saya melewatkan hari pertama lebaran di Desa Rambeanak, sebuah desa di pedalaman Magelang, Jawa Tengah. Di desa yang sejuk, tenang dan damai inilah tinggal nenek saya. Kakek sendiri sudah meninggal bertahun-tahun yang lampau.

 

Lebaran is Granny's Birthday

Ada tradisi unik yang sudah berlangsung beberapa tahun ini di rumah nenek saya di Magelang setiap lebaran. Setiap lebaran beliau akan membagi-bagikan bingkisan buat anak-anak di  kampung yang datang bersilaturahmi. Bingkisan tersebut dibuat semeriah mungkin seolah-olah menyerupai bingkisan ulang tahun. Jadi, sekarang setiap lebaran diistilahkan sebagai Hari Ulang Tahun Mbah Putri. :D


Dsc00339
Nenek, duduk nomor 2 dari kiri, setelah acara sungkeman.


Dsc_0090
Di daerah Magelang dan sekitarnya,Tape Ketan adalah salah satu hidangan wajib di meja tamu yang selalu terselip diantara stoples-stoples berisi Kastangels, Nastar, dan kue-kue kering lainnya.

 

-----------------------

 

Chapter #2: Pekalongan

 

The Vintage View of Granny's Cribs

Ini adalah pemandangan di seputar rumah eyang di Gebangkerep, sebuah desa di pedalaman Pekalongan. Rumah beliau yang sangat vintage, tipikal rumah-rumah petani di daerah tersebut, sangatlah menarik perhatian saya.

 

Megono

Dsc_0214
Ini termasuk salah satu kuliner khas dari pekalongan: sego megono. berupa nasi yang dicampur dengan urap sayur nangka. Gurih!

 

Soto Tauto Pak Tjarlam

Soto Khas Pekalongan lebih dikenal sebagai Tauto. Kombinasi dari kata Tauco dan Soto. Tauco? Ya. Bumbu utama soto Pekalongan ini adalah Tauco. Inilah yang membedakan soto Pekalongan dengan soto-soto dari daerah lain. Isian yang utama dari Tauto adalah lontong, jeroan, dan bihun. Bila anda sempat berkunjung ke kota ini, soto Pak Tjarlam boleh saya rekomendasikan. Kalau siang, dia buka di warung permanen pada sebuah gang sempit di depan Matahari. Kalau malam, dia menjelma sebagai warung tenda di alun-alun.

 

----------------------

 

Chapter #3: Malang & Surabaya

 

Disaster Tourism of Lapindo

Dalam perjalanan ke Malang, saya sempat mampir di lokasi musibah lumpur Lapindo yang termasyhur itu. Yang cukup membuat saya terkejut, tempat tersebut telah bertransformasi sebagai sebuah lahan bisnis dadakan yang subur. Mulai dari bisnis parkir (satu mobil dipatok Rp. 10.000), tiket masuk tak resmi seharga Rp. 5000, pedagang VCD, serta tukang ojek keliling lokasi. Belum lagi para pedagang makanan yang ikut memeriahkan lokasi. Ternyata musibah bisa menjadi sebuah industri pariwisata tersendiri.

 

A Day At Batu Malang

Lokasi: Desa Sekarputih Kecamatan Junrejo, Batu.

 

Nengokin Kebun di Agrowisata Kusuma :D

Ini kali kedua saya ke Agrowisata Kusuma. Sialnya, sama seperti pada kunjungan sebelumnya, kali ini saya juga gak kebagian paket metik Strawberry. Harus puas hanya metik Tomat cherry saja. :(

 

Cwie Mie Malang

Saat berkunjung ke Malang dua atau tiga tahun lalu, saya begitu penasaran sekali dengan Cwie Mie Malang. Saat berkunjung kembali kesini, barulah saya sempat menjajal mie yang begitu membuat saya penasaran ini. Enak sih, cuman mungkin saya terlalu berekspektasi berlebihan. Rasanya ya, hehe, seperti mie yamin biasa.. :D

 

The Story of The Bridge

Percaya atau tidak, Jembatan Suramadu adalah sebuah tempat tujuan wisata tersendiri bagi orang-orang yang norak yang belum pernah liat jembatan keren (seperti saya). Jembatan yang panjangnya 5.438 m ini dapat dilewati dengan membayar Rp. 30.000 untuk satu mobil sekali jalan. Statusnya yang sekaligus sebagai sebuah jalan tol--dengan tanda dilarang berhenti dimana-mana--tidak menyurutkan niat kami untuk nekat berhenti untuk sekedar berfoto-foto dengan background jembatan ini. Hasilnya, Patroli Jalan Raya segera datang mengusir kami pergi. :D

 

-----------------------

 

Chapter #4: Jogjakarta

 

Dan perjalanan liburan saya ditutup dengan Jogjakarta. Tidak banyak tempat yang saya kunjungi, hanya sekedar bernostalgia mengenang masa lampau saja. Tempat yang saya kunjungi antara lain...:

 

Soto Sapi Pak Ngadiran aka Soto Klebengan

Ini adalah tempat legendaris bagi saya semasa kos di Jogja dulu, Sebuah tempat andalan untuk melewatkan waktu sarapan bersama kawan-kawan kos. Murah, dengan cita rasa yang tebal, ditambah mengudap tempe hangat-hangat, merupakan sebuah kenangan yang sayang untuk dilupakan..

 

Bale Raos: A Taste of Heritage

Sebuah resto di lingkungan keraton dengan nuansa etnik yang kental. Sebuah tempat makan yang menyenangkan dengan hiburan musik akustik ala hiburan raja-raja jaman dahulu. Menu-menu yang disajikan konon adalah kesukaan Sri Sultan Hamengkubuwono. Salah satunya adalah Bebek Suwar-Suwir (gambar terakhir). Yang jelas, semasa saya jadi mahasiswa dulu, saya tidak pernah berani menyambangi tempat ini. Sebenarnya tidak mahal-mahal amat sih, cuman emang agak mahal buat kantong mahasiswa dengan pendapatan perkapita mahasiswa kebanyakan seperti saya pada waktu itu. :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Thu, 09 Sep 2010 19:02:00 -0700 In A Deep Silence http://fanikovsky.posterous.com/in-a-deep-silence http://fanikovsky.posterous.com/in-a-deep-silence

Dsc_0098_m
Mumpung masih mendapat kesempatan hidup dan kesehatan di dunia saat ini, jangan lupa bahwa kelak setelah tiba waktunya kita akan tinggal di hunian yang tenteram dan damai ini. Dingin, sunyi, tanpa ada siaran televisi. Sudahkah kita punya cukup bekal untuk menuju kesana seandainya tiba giliran kita nanti?


-Magelang, 10 September 2010
 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky
Sat, 04 Sep 2010 09:25:00 -0700 Sendiri http://fanikovsky.posterous.com/sendiri http://fanikovsky.posterous.com/sendiri

sendiri berjalan ditengah malam nan sepi 

kian jauh melangkah semakin gelisah.

sendiri termenung di larut malam nan hening

hatiku s'makin gundah oh mata membasah.

bayu dingin lalu dan bintang mengedip sayu

rembulan menyuram tiada terbayang harapan...

sendiri melangkah di jalan remang membisu

kunanti engkau sinar bersama sang fajar...


"Sendiri", dipopulerkan oleh Chrisye. Ciptaan Guruh Soekarno Putra. Bagian dari album Chrisye berjudul sama produksi tahun 1984. Lagu yang sudah lama saya cari-cari dan baru-baru ini saja secara kebetulan saya temukan di postingan teman di salah satu jejaring sosial. Konyolnya, saya baru nyadar kalau ternyata saya mengenal kaset album ini sebagai salah satu album di rak-rak kaset jadul milik ayah saya di rumah.

Lagu ini terdengar begitu muram dan kelam. Terlebih lagi dengan iringan arpeggio piano Addie MS yang emosional. Yang jelas, lagu ini sedang mengendap di kepala saya dan terngiang terus dalam benak. Karena--yah--itulah yang sedang saya rasakan sekarang.
Sendiri.

 

Chrisye_-_Sendiri.mp3 Listen on Posterous


Chrisye_sendiri

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -
Thu, 01 Jul 2010 02:42:00 -0700 un moment musicaux http://fanikovsky.posterous.com/un-moment-musicaux http://fanikovsky.posterous.com/un-moment-musicaux

Saya cinta sekali dengan piano. Walaupun gak jago-jago amat sih mainnya. Terlebih lagi udah lama banget saya gak megang alat musik ini. Tapi tiba-tiba saja saya dua malam yang lalu kumat mellow. Seisi rumah sedang pada pergi, dan sayang sekali apabila benda ini saya biarin nganggur begitu saja. Beberapa hari sebelumnya, lagu "Ben" milik mendiang Michael Jackson terus terngiang-ngiang di kepala saya. Dan malam itu, lagu ini saya dedikasikan untuk mengenang beliau..

(piano & vokal oleh saya sendiri. dimainkan dalam tangga nada F major. direkam seadanya dengan ponsel saya pada 29 juni 2010. telah mengalami proses edit seperlunya.)

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://posterous.com/images/profile/missing-user-75.png http://posterous.com/users/5AfDQiFQ70YN Anjas Fanikovsky Mas Anjas Anjas Fanikovsky -