Dendam Yang Terbayarkan (Balada Sepiring Martabak)
CHAPTER I
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengunjungi kota Palembang dalam rangka urusan dinas. Diantara keribetan-keribetan urusan kerjaan, tentu saja saya selalu bersukacita untuk berkuliner ria. Saya paling doyan makan, dan saya selalu excited sekali untuk nyobain makanan khas daerah setempat yang belum pernah saya coba.Beberapa makanan khas Palembang memang sudah tidak asing lagi di lidah saya. Pempek misalnya. Makanan yang satu ini mah dimana-mana ada. Nyaris sepopuler rumah makan padang. Kemudian ada lagi mie celor. Makanan ini juga pernah saya coba di Jakarta, di sebuah Rumah Makan Palembang di seberang Blok S. Sampai kemudian seorang kawan merekomendasikan satu lagi makanan khas Palembang lainnya.. "Cobalah Martabak HAR!"Sayang sekali saya ndak bisa berlama-lama di Palembang, dan padatnya urusan kerjaan menjadikan saya harus puas untuk berkuliner pempek saja disana. Sampai mabok malah. Karena di setiap kunjungan ke UPT selalu jamuan oleh tuan rumahnya berupa pempek. "Ajegileee.. Pempek di Jakarta juga banyak Pak, masa sepanjang hari pempek mulu?" demikian keluh saya dalam hati. Memang sih, pempek Palembang asli rasanya mantep bener. Tapi tetep aja mabok bener dua hari dikasih pempek mulu.Akhirnya, saya pada waktu itu terbang pulang ke Jakarta dengan kata-kata Martabak HAR terngiang-ngiang di kepala. Saya cuman bisa gigit jari karena belom sempet nyobain. Mau balik lagi ke Palembang? Gilee.. Kapan?* * *CHAPTER IISiang ini saya dengan raut muka berseri-seri melangkah keluar dari Bus Transjakarta Koridor I Blok M - Kota. Turun di halte Sawah Besar. Saya sedang "bebas tugas" dari kantor untuk menyelesaikan sebuah urusan, dan diantara urusan tersebut saya menyempatkan diri untuk menyambangi sebuah tempat yang sudah lama ingin saya datangi. Saya menyusuri sejenak Jl. Hayam Wuruk di tengah teriknya matahari, kemudian senyum saya mengembang setelah melihat sebuah neon box bertuliskan: "Martabak HAR. Cabang Palembang"Jadi ternyata Restoran Martabak HAR ini menghidangkan aneka masakan a la India. Ada macam-macam nasi briyani, roti prata, aneka martabak, dan tentu saja martabak HAR. Lantas saya memesan satu porsi Martabak HAR.
Singkat cerita, martabak HAR ini beda dengan martabak telor pada umumnya. Baik isi maupun penyajiannya. Beberapa saat setelah saya memesan, yang pertama kali datang adalah sebuah mangkuk dan sebuah cawan kecil. Mangkuknya berisi kuah kari yang di dalamnya berisi beberapa bongkahan (saya menyebutnya bongkahan karena tidak berbentuk potongan rapi) kentang dan sedikit irisan daging, sementara cawan yang kecil berisi kecap asin yang ditaburi irisan cabai.
Beberapa saat kemudian, this is it! Datanglah martabak yang saya pesan. Dan tampilannya sangat minimalis. Kalau martabak biasa kan isinya penuh dengan sayuran, daun bawang, dan daging. Naah, kalau martabak HAR ini hanya berisi telor sahaja. Jadi, seperti telor yang dibungkus kulit martabak gitu. Lantas saya mulai nyobain dengan mengguyurnya dengan sedikit kuah kari dan kecap asin. Awalnya saya mengira akan eneg memakan benda ini, karena saya beberapa kali makan roti cane di tempat nasi goreng aceh, dan entah kenapa merasa sedikit eneg memakannya. Tapi ternyata dugaan saya salah! Martabak dengan kuah kari ini terasa pas di lidah saya. Kuah karinya nggak terlalu tebel banget. Yah, pas. Atau mungkin saya sedang laper aja? Entah. Yang jelas, saya tersenyum puas ketika meninggalkan selembar uang duapuluh ribuan di kasir kemudian melangkah lagi melanjutkan perjalanan.
SEKIAN----------Sent from my non-BlackBerry® device

