Akhir-akhir ini saya susah sekali bangun pagi. Tiga alarm dari tiga ponsel yang berbeda yang sengaja dibunyikan tiap pagi seolah jadi sia-sia belaka, karena begitu alarm berbunyi, secara otomatis di alam bawah sadar, saya akan mematikan alarm-alarm tersebut dan……tidur lagi! Akibatnya, bangun jadi kesiangan. Menyebalkan.
Kesiangan bangun tiap pagi adalah sesuatu yang meresahkan. Kesiangan bangun pagi berarti kesiangan berangkat ngantor. Kesiangan berangkat ngantor berarti Bude akan ngomel--minimal menyindir. Dan kesiangan berangkat ngantor berarti kesiangan pula sampai di kantor. Ini tentu tidak bagus bagi reputasi saya di kantor.
Akhirnya saya keluarkan jurus andalan. Nada dering alarm harus diganti dengan sesuatu yang lebih ekstrim. Inilah ringtone alarm yang saya pakai sekarang. Sampai sejauh ini sih manjur. Kalau pada akhirnya lama kelamaan tidak manjur, nanti deh saya cari jurus lain. =))
BLAST OFF! It's party time! And we don't live in a fascist nation BLAST OFF! It's party time! And where the f#*k are you?
Where the f#*k are you? Where the f#*k are you? Why don't presidents fight the war? Why do they always send the poor? Why don't presidents fight the war? Why do they always send the poor? Why do they always send the poor? Why do they always send the poor? WHY DO THEY ALWAYS SEND THE POOR?
(suara lengkingan Daron Malakian dari System Of A Down pada lagu "BYOB". Sebenarnya saya agak malas memakai ringtone ini sebagai alarm. Karena selain bisa bikin jantungan, juga bisa berpotensi mengganggu ketenteraman lingkungan. Silahkan pakai juga sebagai alarm jikalau anda juga mengalami problem sama seperti saya. WARNING: segala resiko yang dapat ditimbulkan tidak ditanggung penulis :p )
Dulu saya sering make nada sambung pribadi untuk nomor ponsel saya. Iseng aja, sekedar ngasih hiburan buat orang-orang yang mau nelfon. (Halah, kayak banyak yang nelpon aja :p) Sekarang-sekarang sih udah males pake nada sambung semacem itu. Sayang aja buang-buang beberapa ribu pulsa buat bayar biaya bulanannya :D Nah, salah satu lagu yang pernah saya pakai sebagai nada sambung pribadi adalah "What A Wonderful World" milik Louis Armstrong. Dan saya masih ingat waktu itu beberapa teman yang pernah mendengarkan nada sambung pribadi itu suka komentar yang menyebalkan: “Lagu apaan seh? Gak jelas…” atau “Woi, apaan nih? Kagak ada lagu yang kerènan dikit apa?” Ayolah guys, emang gak pernah denger? Lagu keren ini mah. Biarpun jadul tapi punya makna yang mendalam. Coba aja denger lagunya:
Louis Armstrong, yang juga memiliki nama samaran Satchmo, semasa hidupnya dari tahun 1901 hingga 1971 dikenal sebagai musisi jazz yang piawai. Tidak hanya sebagai penyanyi, namun juga sebagai pemain trumpet, band leader, juga sekaligus sebagai entertainer yang dicintai banyak orang. Satchmo pula lah yang dikenal banyak mengembangkan style swing, yang kemudian menjadi dasar dari kebanyakan musik jazz dan RnB saat ini. Juga jangan lupakan pula jasanya dalam mengembangkan bentuk dasar improvisasi dalam musik jazz.
Kontras sekali dengan kehidupan awalnya yang didera kemiskinan dan bahkan tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah, Louis Armstrong menuai kesuksesan dalam karir musiknya dan kemudian menjadi semacam duta tak resmi bagi Amerika dalam bidang musik. Dalam perjalanan karirnya Louis Armstrong telah tampil di berbagai belahan dunia dan mengeluarkan banyak hits seperti “Mack The Knife”, “Hello Dolly”, “Blueberry Hill”, “When You Wish Upon a Star”, dan juga tentu saja “What A Wonderful World”.
Nah, bicara tentang “What A Wonderful World”, lagu ini menjadi menarik untuk dibahas karena dalam pemahaman saya seolah-olah di dalam lagu ini Louis Armstrong mengajak kita untuk senantiasa memandang dunia dari sisi positif, memandang dunia dengan penuh rasa optimis, seburuk apapun keadaan nyatanya. Sekarang coba bayangkan. Semasa Louis Armstrong hidup, rasisme hidup begitu subur di Amerika. Adanya rasisme menyebabkan warga kulit hitam—tak terkecuali Louis Armstrong—kehilangan banyak haknya di ruang publik. Warga kulit hitam dibedakan dengan warga kulit putih hanya untuk sekedar menikmati fasilitas umum, bahkan warga kulit hitam juga diburu dikejar-kejar untuk kemudian dibunuh—seperti yang dilakukan oleh organisasi teror Ku Klux Klan (KKK). Pendek kata, saat itu warga kulit hitam tak lebih dari hanya sekedar warga negara kelas kambing, dan saya yakin ini bukanlah hal yang menyenangkan bagi para warga Afro-American tersebut. Tapi secara kontras, Louis Armstrong malah berkata-kata dalam lagunya:
I see trees are green, red roses too..
I see them bloom for me and you..
And I think to myself:
"What a wonderful world…"
Wah, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa..
Nah, kalau kita lihat kondisi dunia saat ini yang acakadut—perang di satu sisi, ketimpangan sosial merajalela, kejahatan menggila, bencana alam mendera, terorisme dimana-mana, belum lagi kekerasan antar umat beragama—lantas timbul pertanyaan skeptis: “Masihkah dunia dapat menjadi tempat tinggal yang indah dan nyaman bagi kita semua?”, mari kita dengarkan lagi kata-kata Louis Armstrong:
The colours of the rainbow so pretty in the sky
Are also on the faces of people going by
I see friends shaking hands, sayin' "how do you do?"
They're really sayin' "I love you"
I hear babies cryin', I watch them grow
They'll learn much more than I'll ever know
And I think to myself: "what a wonderful world"
Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog friendster saya pada 18 Desember 2006. Telah diedit seperlunya.
Saya penggila musik klasik. (Walaupun akhir-akhir ini sedang jarang dengerin.) Mungkin bukan selera musik yang terlalu umum ya, tapi entah kenapa saya suka sekali mendengarkan nada-nada yang mungkin terdengar ruwet bagi banyak orang itu. Saya suka mendengarkan detilnya, dan seolah-olah nada-nada dari tiap komposisi klasik tersebut menari-nari berlompatan nakal dalam telinga saya. Nokturno melankolis Chopin, sonata-sonata piano Beethoven, lagu-lagu balet serta beberapa simfoni Tchaikovsky, komposisi ceria Mozart, serta beberapa karya biola yang riang milik Kreisler adalah beberapa komposisi yang saya suka.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbagi kesenangan saya terhadap musik klasik dengan seorang teman yang (pada waktu itu) akan mempunyai bayi. Teman saya ini memerlukan bantuan untuk mencarikan lagu-lagu klasik yang bagus buat si jabang bayinya ini, dan saya senang sekali berbagi beberapa lagu yang saya punya. Udah tau kan kalau musik klasik katanya bagus buat janin dan bayi? Yeah, nggak cuman buat janin saja sih, tapi juga bermanfaat bagi kehidupan manusia secara umum. Nah, disini saya nggak akan membahas bagaimana manfaat musik klasik tersebut bagi kehidupan, silahkan aja anda googling sendiri dan anda akan menemukan ratusan bahkan ribuan hasil pencarian yang terkait. Melanjutkan cerita tentang teman saya tadi, pada akhirnya saya cukup takjub ketika setelah bayinya lahir, teman saya ini memberikan kesaksian tentang pengaruh musik klasik bagi bayinya. Demikian kesaksian teman saya tersebut dalam sebuah jejaring sosial (nama sengaja disamarkan) :
Keren. Saya juga akan memperdengarkan musik klasik buat anak saya kelak. :D
"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."
Barangkali itulah kutipan yang paling diingat orang dari film Forrest Gump. Tapi saya sih ndak ambil pusing dengan kata-kata Mr. Gump tersebut. Dan empat butir coklat diatas-lah yang saya pilih ketika saya disodorin sekotak coklat sisa lebaran yang dibawa rekan kantor tadi pagi. Lumayan buat kudapan sebelum makan siang.. =))