Posterous theme by Cory Watilo

The Social Network

Bukan, saya tidak sedang membicarakan sebuah judul film. Saya tadi sedang iseng membuka file-file lama saya yang dulu saya titipkan di laptop si adek, dan menemukan "artefak kuno" halaman-halaman website yang dulu saya simpan. Saya dulu suka menyimpan halaman-halaman web yang saya anggap perlu disimpan, dan salah satunya adalah Friendster. Yeah. Friendster inilah jejaring sosial pertama yang saya kenal tahun 2005 silam.

Early

Tampilan awal friendster

Tiba-tiba saja saya tenggelam dalam memori masa lalu. Betapa friendster telah memicu sebuah evolusi masyarakat dalam bersosialisasi. Saya yang tadinya hanya mengenal internet untuk browsing, sedikit chat, dan paling banter berinteraksi lewat milis, tiba-tiba menemukan sebuah euforia ketika berkenalan dengan friendster. Dan tentu saja saya tidak sendiri. Friendster saat itu begitu digandrungi oleh kawula muda khususnya, sebagai sebuah mainan baru, sebagai sebuah ukuran gaul, dan sekaligus sebagai identitas dalam pergaulan, baik di dunia nyata maupun maya.

Running_out
Dengan friendster, orang bisa memasang halaman pribadinya sendiri dan memperkenalkan diri kepada dunia luar, memperoleh kenalan baru, dan berinteraksi dengan cara yang lebih menarik daripada lewat milis ataupun yahoogroups dengan berbagi gambar-gambar ataupun file lagu.

(download)
Waktu itu, saling bertukar testimonial adalah hal yang menyenangkan. Banyak hal yang terjadi dari sini. Kisah-kisah cinta, perkenalan dengan orang-orang baru, perjumpaan dengan teman lama, atau sekedar seru-seruan menambah keakraban baik antara teman baru maupun lama. Sampai-sampai, dua orang kawan ketika bertemu di dunia nyata pun akan saling berkata: "Lo punya FS ya? Isiin testi buat gue yaa"

(download)

Testimonial & Komentar

Tidak cuma buat lucu-lucuan. Friendster juga bisa dijadikan media "serius". Saya dulu sering menulis review, entah itu lagu, buku, film, maupun pertunjukan. Ngeblog, saya juga suka. Walaupun tidak terlalu sering ngisi.

(download)
Tapi belakangan ada satu lagi fitur friendster yang saya suka: Bulletin Board. Sebenarnya, pada awalnya Bulletin Board diciptakan oleh arsitek friendster sebagai media untuk bertukar informasi, entah untuk menyampaikan undangan, berbagi artikel, ataupun informasi lainnya. Tapi entah kenapa, belakangan entah siapa yang memulai, Bulletin Board dijadikan ajang lucu-lucuan dengan menyebarkan semacam kuis berantai dengan deretan pertanyaan konyol yang akan dijawab dengan tak kalah konyol pula oleh si penerus bulletin. Hal ini sempat mewabah dan tentu saja ikut menjangkiti saya :D Dan ujung-ujungnya, kuis-kuis ini malah dijadikan modus operandi bagi sebagian orang--termasuk saya--untuk melakukan perbuatan curcol! Ah, betapa saya merindukan mengisi bulbo lagi... :D

(download)
Bulletin Board aka Bulbo

Namun semua itu kini tinggal kenangan seiring dengan ditutupnya layanan jejaring pertemanan friendster beberapa waktu yang lalu. Friendster telah menyerah kalah ditinggalkan pendukungnya di masa lalu yang telah pindah menggandrungi jejaring sosial yang lain yang lebih canggih dan interaktif. Facebook. Belum lagi jejaring-jejaring sosial yang lain semacam Twitter atau Foursquare. Memang, jaman terus berganti. Demikian pula hal-hal ikut berubah. Bahkan kini Facebook pun mulai terasa hilang pamornya. Kabar terkini yang terdengar, Google tengah mempersiapkan senjata andalannya dan ikut terjun dalam dunia jejaring sosial dengan produk barunya yang bernama Google+ yang digadang-gadang akan menjadi pembunuh Facebook dalam waktu dekat. Yah, entahlah apa yang akan terjadi nanti. Hanya waktu yang akan menjawabnya. Hanya satu yang jelas, sesuai kodratnya manusia adalah makhluk sosial. Dan selama itu pula, manusia akan selalu mencari cara untuk selalu bisa berinteraksi dengan sesamanya. Entah bagaimanapun caranya.

Selamat tinggal, Friendster. Terimakasih atas segala kenangan masa lalu yang telah engkau bagi bersama.

 

Sepenggal Cerita Dari Bumi Manakarra

Tulisan ini sekedar catatan dan dokumentasi perjalanan saya ke Mamuju beberapa waktu yang silam. Saya sebelumnya saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari saya akan nyasar ke tempat ini. Kota yang sekaligus menjadi ibukota Propinsi Sulawesi Barat inilah yang menjadi tujuan saya setelah saya dengan pasrah menerima untuk sejenak ditugaskan oleh kantor di tempat ini.

Dsc_0374

Lost in Mamuju

Cara termudah dan tercepat menuju Mamuju adalah dengan pesawat udara. Sebelumnya, saya sempat senewen karena mengira untuk mencapai Mamuju hanya bisa ditempuh dengan berjam-jam melalui jalan darat dari Makassar. Berbagai kisah mengenai begal dan bajing loncat yang sering menghadang di kegelapan malam cukup membuat hati saya kecut. Tapi saya akhirnya bisa bernapas lega setelah mengetahui ada penerbangan langsung menuju Mamuju dari Jakarta.

Sampai saat tulisan ini dibuat, hanya ada satu penerbangan langsung yang melayani rute Jakarta - Mamuju yang disediakan oleh maskapai Lion Air. Maksud saya "penerbangan langsung", bukan dari Jakarta langsung mendarat di Mamuju, tetapi hanya sekali beli tiket untuk penerbangan yang terbagi menjadi dua sesi: Jakarta-Makassar dengan Lion Air dan Makassar-Mamuju dengan Wings Air. Sebenarnya ada juga Merpati yang melayani rute Makassar-Mamuju, tetapi berdiri sendiri dan tidak tersambung dengan penerbangan dari Jakarta.

Pesawat Wings Air seri ATR 72-500 yang saya tumpangi memakan waktu sekitar 50 menit untuk menempuh perjalanan dari Makassar menuju Mamuju. Pesawat berbaling-baling berkapasitas 72 orang ini diluar sangkaan saya mampu meluncur dengan nyaman sampai akhirnya mendarat di bandara Tampa Padang Mamuju.

Ada hal yang mencengangkan ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di bandara Tampa Padang. Bandara ini tampak sepi, tidak terlihat banyak kegiatan. Ketika saya masuk ke dalam bangunan bertuliskan ARRIVAL, saya lebih terheran-heran lagi karena bangunan tersebut kecil, dan bersekat-sekat papan tripleks. Seperti kantor kelurahan di desa terpencil. Bagasi diambil langsung dari trolley bagasi oleh masing-masing pemiliknya secara swalayan. Tidak ada ban berjalan. Wow, ini bandara di ibukota propinsi!

(download)

Wings Air ATR 72-500 dan kegiatan di Bandara Tampa Padang

Kota Mamuju yang berjarak sekitar 35 km dari bandara juga tak kalah mencengangkan. Sepi, sama sekali tidak nampak seperti sebuah ibukota propinsi. Malah lebih tampak seperti kota-kota kecil di Jawa. Tidak tampak banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tidak ada bioskop XXI, dan jangan mencari mall. Tidak ada macet, karena jalanan lebih sering tampak lengang. Di beberapa bagian di dalam kota bahkan jalanan tampak rusak berat. Tapi saya sempat terkejut karena disini ada taksi. Ya, taksi seperti yang ada di kota-kota besar di Jawa. Taksi sedan, dengan argo, walaupun katanya hanya ada 10 unit. Saya tidak melihat banyak angkutan umum yang lain, hanya sesekali melihat kendaraan minibus plat kuning, becak, dan ojek. Berjalan-jalan memutari kota ini tidak perlu waktu berhari-hari, karena hanya dalam waktu setengah jam anda sudah bisa melihat seluruh isi kota dari ujung yang satu ke ujung yang lain, dan kembali lagi ke tempat awal sewaktu berangkat.

(download)

Beberapa landmark kota Mamuju

Ibarat manusia, kota Mamuju sebagai ibukota propinsi memang seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Kota ini sedang berbenah. Berbagai pembangunan infrastruktur sedang dikerjakan disini. Konon harga tanah di kota membubung tinggi. Dan banyak orang Mamuju menjadi kaya mendadak. Propinsi Sulawesi Barat seperti sebuah "propinsi kaget", dan banyak orang Mamuju yang juga terkaget-kaget dengan perubahan status kotanya menjadi ibukota propinsi.

Dsc_0294
Kantor Gubernur yang baru. Contoh pembangunan sarana-prasarana yang sedang digalakkan di kota ini.

Tidak sulit menemukan akomodasi di Mamuju. Ada beberapa hotel disini. Yang sempat saya lihat adalah penginapan Srikandi, Samudera Beach, Hotel Mutiara, dan hotel tempat saya menginap, d'Maleo. Hotel d'Maleo yang saya tempati adalah hotel bintang tiga, dengan pelayanan standar hotel bintang tiga pada umumnya. Asyiknya, hotel ini terletak di pinggir pantai, dan kebetulan saya mendapat kamar dengan view menghadap pantai :D

(download)
Hotel tempat saya menginap dan view pantai Manakarra dari jendela kamar

Mamuju adalah sebuah kota pesisir. Tak heran, iklim dan kehidupan pesisir mendominasi kota ini. Tetapi posisi geografis Mamuju cukup unik karena walaupun berada di garis pantai, namun sedikit masuk ke dalam kita akan menjumpai kontur tanah perbukitan. Tapi tetap saja udara di Mamuju terasa panas menyengat, seperti daerah pesisir pada umumnya.

(download)
Pantai Manakarra dan kontur tanah Mamuju dan sekitarnya

Tidak banyak kuliner khas dari Mamuju. (Atau malah tidak ada?) Karena Mamuju adalah daerah pesisir, banyak dijumpai rumah-rumah makan yang menyediakan olahan ikan laut segar. Selebihnya, kuliner Mamuju banyak didominasi oleh kuliner khas Makassar. Dan yang sedikit mengherankan, lebih banyak lagi warung-warung makan jawa di seantero kota. Rupanya di Mamuju banyak juga pendatang dari Jawa. Agak geli juga jauh-jauh ke Mamuju malah beli nasi goreng mawut. :D Untungnya, saya masih sempet menikmati Sara'ba (sejenis bandrek) ditemani aneka gorengan hangat di tengah dinginnya malam. Tidak lupa mencicipi Mie Titi (sejenis ifumie) khas Makassar.

(download)

Kuliner Mamuju. Antara Sara'ba sampai nasi goreng mawut :D

Berkunjung ke Mamuju kita akan sejenak melupakan kepenatan dari hiruk pikuknya kota. Tempat yang tenang, damai, dan jauh dari beringasnya kehidupan metropolitan. Serasa sedang di dunia antah berantah. Walaupun kalau lama-lama disini mati gaya juga sih kalau udah biasa hidup di kota besar :D. Sayang sekali saya tidak sempat menjelajah ke obyek yang lain seperti air terjun yang terletak beberapa kilometer dari kota. Yah, mungkin lain kali. Atau anda sendiri berminat kesana? :D

Suatu Hari Di Balik Tembok Keraton Putih

Akhir pekan yang lalu saya mengunjungi kota Cirebon dalam rangka sebuah urusan. Dan diantara ribetnya urusan tersebut saya masih menyempatkan diri untuk bergaya turis dan mengunjungi sebuah tempat yang sudah lama membuat saya penasaran: Keraton Kasepuhan. Cirebon memang bukan terkenal sebagai kota wisata, namun kota ini kaya dengan peninggalan dan kisah-kisah sejarah. Saya paling suka mengunjungi tempat-tempat kuno dan bersejarah, dan Keraton Kasepuhan adalah salah satunya.

800px-symbol_keraton_kasepuhan
Dua macan putih penjaga Keraton Kasepuhan. (Photo courtesy of Wikipedia)

Keraton Kasepuhan adalah satu dari tiga situs keraton yang ada di Cirebon. Dua keraton yang lain adalah Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan. Tetapi Keraton Kasepuhanlah yang paling tua dan yang tampak paling bersinar dibandingkan dua keraton yang lain.

Gerbang
Untuk memasuki kompleks keraton ini anda dikenai retribusi cukup lima ribu rupiah sahaja untuk tiap orang. Dan itupun masih mendapat bonus satu orang tour guide apabila anda dateng berombongan. Tapi kemaren saya dateng hanya berdua dan tetap dikasih bonus seorang guide yang setia mengantar kami kemana-mana. Awalnya kami sempet merasa kurang nyaman dengan adanya tour guide ini, tapi ternyata kehadiran beliau ini berguna juga, karena bapak tua berbusana tradisional yang menjadi tour guide kami ini aktif sekali menceritakan kisah-kisah di masa lampau.

(download)
Keraton Kasepuhan memang tidak sebesar dan semegah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ataupun Keraton Mangkunegaran Surakarta, bahkan di beberapa sudut nampak kusam tidak terawat, tetapi Keraton Kasepuhan memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan hasil perpaduan dari berbagai budaya mulai dari kebudayaan Hindu, Cina, Islam, sampai kebudayaan Eropa. Hal ini tampak dari motif-motif bunga, piring-piring dari dinasti Ming yang ditempel di dinding, serta keramik-keramik di dinding dari Eropa yang menggambarkan kisah-kisah Injil.

(download)

Pengaruh kebudayaan Hindu juga tampak dari Gapura Bentar pada bangunan Siti Hinggil yang didominasi oleh bata merah. Bangunan seperti ini mengingatkan saya pada candi-candi Hindu peninggalan Majapahit di Trowulan seperti candi Wringin Lawang yang juga berbentuk gapura bentar juga candi-candi hindu Majapahit lain yang juga dominan oleh bata merah.

(download)
Pengaruh kebudayaan Hindu di Cirebon

Di dalam kompleks keraton juga terdapat sebuah museum yang menyimpan barang-barang peninggalan masa lampau seperti Kereta Singa Barong, berbagai peninggalan perang, serta berbagai perkakas yang digunakan di masa lampau.

Souvenirs_from_the_past

Khusus mengenai Kereta Singa Barong, tour guide kami begitu bangga menceritakan berbagai kelebihan kereta tersebut. Sudah menggunakan shock breaker (bukan menggunakan pegas tetapi menggunakan karet, serta kabin yang mengayun ke depan dan ke belakang, tidak menyatu langsung dengan chassis), dan menggunakan teknologi mekanis sederhana yang bisa menggerakkan sayap sehingga kereta nampak seperti terbang. Untuk ukuran teknologi abad 14, benda ini saya anggap mengagumkan. Dan yang saya salut sekali, kereta ini masih terawat baik sampai sekarang.

Kereta_kencana
Kereta Singa Barong 

Masih di kompleks Keraton Kasepuhan, juga terdapat sebuah Masjid yang tak kalah bersejarah: Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Konon kabarnya masjid ini dibangun berbarengan dengan Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Yang lain dari pada yang lain di masjid ini adalah, azan untuk menandakan waktu shalat dikumandangkan oleh tujuh orang! Sayang sekali kami tidak sempat masuk kedalamnya, dan hanya sempat narsis-narsisan di depan salah satu pintu gerbangnya yang unik.

(download)

Sekedar tips, bila anda berniat mengunjungi kompleks keraton ini, siapkan uang recehan banyak-banyak. Bukan untuk diberikan pada pengemis, tetapi untuk menyumbang "dana kebersihan" tiap anda berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Siapkan pula uang seikhlasnya (dan sepantasnya) untuk "uang saku" tour guide anda. Sangat disayangkan, nampaknya dana perawatan untuk memelihara kompleks Keraton Kasepuhan ini masih sangat kurang..

 

Models: Farah Pratiwi, Fanni Anjas Sagita | All photos taken with Sony Ericsson X1i, except on "Dua Macan Putih Penunggu Keraton Kasepuhan". | Edited with PhotoScape 3.5

 

Dendam Yang Terbayarkan (Balada Sepiring Martabak)

CHAPTER I

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengunjungi kota Palembang dalam rangka urusan dinas. Diantara keribetan-keribetan urusan kerjaan, tentu saja saya selalu bersukacita untuk berkuliner ria. Saya paling doyan makan, dan saya selalu excited sekali untuk nyobain makanan khas daerah setempat yang belum pernah saya coba.

Beberapa makanan khas Palembang memang sudah tidak asing lagi di lidah saya. Pempek misalnya. Makanan yang satu ini mah dimana-mana ada. Nyaris sepopuler rumah makan padang. Kemudian ada lagi mie celor. Makanan ini juga pernah saya coba di Jakarta, di sebuah Rumah Makan Palembang di seberang Blok S. Sampai kemudian seorang kawan merekomendasikan satu lagi makanan khas Palembang lainnya.. "Cobalah Martabak HAR!"

Sayang sekali saya ndak bisa berlama-lama di Palembang, dan padatnya urusan kerjaan menjadikan saya harus puas untuk berkuliner pempek saja disana. Sampai mabok malah. Karena di setiap kunjungan ke UPT selalu jamuan oleh tuan rumahnya berupa pempek. "Ajegileee.. Pempek di Jakarta juga banyak Pak, masa sepanjang hari pempek mulu?" demikian keluh saya dalam hati. Memang sih, pempek Palembang asli rasanya mantep bener. Tapi tetep aja mabok bener dua hari dikasih pempek mulu.

Akhirnya, saya pada waktu itu terbang pulang ke Jakarta dengan kata-kata Martabak HAR terngiang-ngiang di kepala. Saya cuman bisa gigit jari karena belom sempet nyobain. Mau balik lagi ke Palembang? Gilee.. Kapan?

* * *

CHAPTER II

Siang ini saya dengan raut muka berseri-seri melangkah keluar dari Bus Transjakarta Koridor I Blok M - Kota. Turun di halte Sawah Besar. Saya sedang "bebas tugas" dari kantor untuk menyelesaikan sebuah urusan, dan diantara urusan tersebut saya menyempatkan diri untuk menyambangi sebuah tempat yang sudah lama ingin saya datangi. Saya menyusuri sejenak Jl. Hayam Wuruk di tengah teriknya matahari, kemudian senyum saya mengembang setelah melihat sebuah neon box bertuliskan: "Martabak HAR. Cabang Palembang"

Dsc_0017
Jadi ternyata Restoran Martabak HAR ini menghidangkan aneka masakan a la India. Ada macam-macam nasi briyani, roti prata, aneka martabak, dan tentu saja martabak HAR. Lantas saya memesan satu porsi Martabak HAR.
Dsc_0014
Singkat cerita, martabak HAR ini beda dengan martabak telor pada umumnya. Baik isi maupun penyajiannya. Beberapa saat setelah saya memesan, yang pertama kali datang adalah sebuah mangkuk dan sebuah cawan kecil. Mangkuknya berisi kuah kari yang di dalamnya berisi beberapa bongkahan (saya menyebutnya bongkahan karena tidak berbentuk potongan rapi) kentang dan sedikit irisan daging, sementara cawan yang kecil berisi kecap asin yang ditaburi irisan cabai.
Dsc_0016

 

Beberapa saat kemudian, this is it! Datanglah martabak yang saya pesan. Dan tampilannya sangat minimalis. Kalau martabak biasa kan isinya penuh dengan sayuran, daun bawang, dan daging. Naah, kalau martabak HAR ini hanya berisi telor sahaja. Jadi, seperti telor yang dibungkus kulit martabak gitu. Lantas saya mulai nyobain dengan mengguyurnya dengan sedikit kuah kari dan kecap asin. Awalnya saya mengira akan eneg memakan benda ini, karena saya beberapa kali makan roti cane di tempat nasi goreng aceh, dan entah kenapa merasa sedikit eneg memakannya. Tapi ternyata dugaan saya salah! Martabak dengan kuah kari ini terasa pas di lidah saya. Kuah karinya nggak terlalu tebel banget. Yah, pas. Atau mungkin saya sedang laper aja? Entah. Yang jelas, saya tersenyum puas ketika meninggalkan selembar uang duapuluh ribuan di kasir kemudian melangkah lagi melanjutkan perjalanan.

SEKIAN

----------
Sent from my non-BlackBerry® device