Posterous theme by Cory Watilo

Mengenang Dan Melintasi Jaman Bersama Kidung Abadi Chrisye

Baiklah. Saya kali ini mau sedikit cerita-cerita tentang Konser Keempat Chrisye bertajuk Kidung Abadi yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center 5 April 2012 kemaren. Awalnya sih saya tidak niat mau nonton, padahal udah dua minggu sebelumnya saya lihat billboard iklannya yang segede gaban terpasang di sekitaran Blok M waktu saya baru pulang dari bandara. Thanks to Just Alvin dengan segala gimmicknya yang mengupas tuntas tentang konser ini, sehingga saya jadi latah dan tergopoh-gopoh nyari tiketnya yang--eheheheh--lumayan jebolin dompet (padahal udah paling murah) :p

Ngomong-ngomong, loh, kok konser keempat Chrisye? Chrisye kan udah meninggal lima tahun yang lalu? Iya, memang benar. Jadi ceritanya, konser Kidung Abadi ini adalah jawaban dari Erwin Gutawa atas keinginan yang sempat dilontarkan Chrisye untuk bikin konser di tahun 2012. Belum sempet dibahas lebih lanjut ternyata Chrisye sudah keburu dipanggil oleh Yang Kuasa karena penyakit yang dideritanya. Nah untuk menghormati keinginan beliau tersebut, jadilah konser Chrisye digelar pada tahun 2012 ini. Walaupun tanpa kehadiran Chrisye sendiri.

Konser ini dimotori oleh Erwin Gutawa yang menangani segala tetek bengek tentang musik, juga oleh Jay Subiakto yang menangani konsep stage dan efek-efek visual. Pada bagian awalnya, konser ini tampak seperti konser tribute biasa, dengan penampilan artis-artis pendukung seperti Gita Gutawa yang tampil anggun, Armand Maulana bersama GIGI yang tampil enerjik bak cacing kepanasan, ada juga Once yang tampil kalem (hampir seperti penampilan Chrisye yang datar dengan minim ekspresi maupun gerakan), serta Vina Panduwinata yang masih lincah bernyanyi dengan vokalnya yang khas. Mereka tampil bergantian membawakan lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Chrisye dari album lawas sampai album yang terbaru.

Pada bagian selanjutnya, konser mulai berubah konsep. Di bagian ini, ditampilkan rekaman suara Chrisye dari konser-konser yang terdahulu serta rekaman videonya yang sedang bernyanyi yang kemudian diiringi oleh orkestrasi live yang prima dari Erwin Gutawa orchestra. Yang menarik, disini Chrisye tidak hanya ditampilkan sedang melulu bernyanyi dengan diiringi orkes live saja, tetapi konseptor acara ini secara cerdas juga menyisipkan rekaman bagian-bagian suara dan visual Chrisye yang sedang berinteraksi dengan penonton, sehingga yang tampak adalah seolah-olah Chrisye memang sedang bernyanyi langsung sambil mengajak penonton ngobrol, berdiri atau mengajak penonton ikut bernyanyi pada bagian lagu tertentu. Yah, semua penonton tahu kalau suara Chrisye yang didengarnya adalah rekaman belaka. Tapi toh, semua tampak begitu nyata. Rekaman vokal Chrisye dan iringan orkestranya benar-benar menyatu. Seolah-olah Chrisye saat itu memang sedang berada di atas stage.

Dsc_0992

Kemudian konser menjadi semakin menarik dengan penampilan "duet" antara Sophia Latjuba dengan Chrisye. Bukan Chrisye beneran tentu saja, tetapi visualisasi Chrisye yang ditampilkan dalam sebuah hologram. Tadinya saya agak berekspektasi lebih dan mengira hologram disini akan tampak seperti imaji tiga dimensi yang nyata seperti di film-film science fiction. Tetapi ternyata hologram disini hanyalah sebuah gambar visual Chrisye yang diproyeksikan ke sebuah layar. 

Dan akhirnya, bagian yang paling menarik dan paling ditunggu-tunggu dalam konser ini adalah munculnya sebuah lagu baru yang benar-benar baru diciptakan setelah Chrisye meninggal, namun dinyanyikan oleh suara Chrisye. Asli. Lho kok bisa? Jadi begini ceritanya. Lagu berjudul Kidung Abadi ini adalah sebuah lagu ciptaan Erwin Gutawa yang merasa semacam punya perasaan bersalah karena selama ini belum pernah membuatkan lagu untuk Chrisye padahal udah bertahun-tahun bekerja sama dalam berbagai produksi album. Tapi karena Chrisye sudah tiada, akhirnya dibuatlah lagu ini dengan merekonstruksi sekitar dua ratus lebih suku kata hasil potongan track vokal Chrisye dari ratusan master rekaman lagu-lagu Chrisye yang sudah ada. Bukan pekerjaan yang mudah, karena Erwin harus memotong track-track vokal tersebut per suku kata, memilah-milah mana yang cocok untuk dirangkai, mengubah pitch serta panjang potongan track bila perlu, menggabungkan potongan-potongan track tersebut satu persatu, serta menghaluskan transisi antara potongan satu dengan potongan yang lain itu. Dan hasilnya adalah sebuah lagu yang utuh dan terdengar syahdu. Ditambah animasi Chrisye sedang bernyanyi karya Jay Subiakto yang terlihat di layar membuat penonton semua terpaku dan diliputi rasa haru. Seolah-olah Chrisye benar-benar sedang bernyanyi dari alam lain dan mengucapkan salam perpisahan bagi para penggemarnya.

Akhir kata, konser Kidung Abadi Chrisye kemarin ini memang menjadi semacam obat rindu bagi para penggemar Chrisye. Bagi saya pribadi, yang saya kagumi dari seorang Chrisye adalah dedikasinya, kebersahajaannya yang berkualitas, sangat orisinal, dan jarang-jarang ada penyanyi di Indonesia sini yang konsernya dipenuhi oleh penggemar-penggemar dari segala usia. Seperti kemarin ini, saya menjumpai orang-orang yang hadir ada yang seusia kakek saya, ada yang seusia bapak saya, ada yang seusia saya, juga ada yang seusia adik saya. Tidaklah berlebihan kalau saya menyebut Chrisye sebagai sebuah legenda bagi musik Indonesia. Semoga kelak akan hadir Chrisye-Chrisye baru yang sederhana, bersahaja, orisinil, dan banyak bicara melalui karya. Semoga.

 

Kisah Tentang Kantor, Wanita, dan Ombus-Ombus

Chapter I

Tiga tahun terakhir ini saya berjuang mencari nafkah di rimba Jakarta Raya. Kota yang bagi sebagian orang berarti harapan. Seperti cahaya yang bersinar terang menyeruak dari balik cakrawala di kala fajar (halah!). Tak heran Jakarta selalu dikerubuti kaum urban yang sedang menggantungkan asa dan harapan demi masa depan. Persis seperti laron yang berebutan mengerubungi lampu jalan setelah hujan. Dan salah satu dari laron-laron itu ya termasuk saya sendiri.

Kantor saya berada di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Sebuah kawasan perkantoran yang (katanya) elit di Jakarta dengan gedung-gedung tinggi menjulang, dengan orang-orang elit seperti saya yang bekerja di berbagai bidang, mulai dari sektor jasa, perdagangan, sampai pemerintahan. Semuanya berebut berladang, berburu dan meramu di kawasan ini, tidak sekedar untuk memberi arti bagi hidupnya masing-masing, tetapi juga demi memanen sejumlah rupiah, segenggam emas, dan sebongkah berlian untuk menyambung hidup.

Beberapa waktu yang lalu, pengamanan kantor tempat saya bekerja tidak seketat sekarang. Orang bebas keluar masuk dan berlalu lalang. Akibatnya, muncul orang-orang dari antah berantah yang secara ajaib masuk ke ruangan-ruangan dari lantai ke lantai menawarkan barang-barang A sampai Z. Kadang muncul pedagang barang-barang elektronik yang barangnya persis seperti dijajakan di metro mini. Ada juga cewek-cewek sales jam tangan berharga miring yang suka sok akrab. Kadang ada juga sales tempat hiburan, penjual kacamata, penjual alat-alat dapur, pedagang makanan, dan bahkan pedagang VCD bajakan! Ampun. Kantor kok kayak pasar.

Semenjak adanya pergantian pucuk pimpinan pada unit kerja yang saya tempati, pemandangan orang-orang ajaib tadi secara drastis menjadi berkurang, walaupun masih ada beberapa pedagang yang bisa berlalu lalang. Sebenarnya kadang saya suka kasihan melihat mereka. Kadang saya membayangkan, gimana kalau saya jadi orang-orang itu. Ngider kesana kemari menawarkan sesuatu produk. Alih-alih barangnya laku, baru nongol nyengir doang di pintu masuk aja para penghuni ruangan udah pada buang muka duluan. Dasar nasib. Makanya saya selalu menjaga untuk sesopan mungkin menolak apabila sudah ndak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan. Karena mereka ya sama seperti kita-kita. Hanya berusaha bertahan hidup di tengah rimba Jakarta ini. Meskipun kadang saya dan partner saya yang jail di ruangan kalo lagi kumat suka ngerjain sales yang tengil. Dengan semangat '45 nanya-nanya ampe berbusa-busa dari A sampai Z sampai A lagi tentang produknya, tapi ujung-ujungnya gak beli dan berkelit dengan 1013 alasan (karena emang dari awal gak niat beli). Salah sendiri tengil. :p

Chapter II

Wanita itu muncul kembali di kantor pada suatu siang. Memang wanita itu cukup sering menyambangi kantor saya, menjajakan dagangannya berkeliling. Wanita itu adalah seorang ibu berumur setengah baya berperawakan agak gemuk, berpenampilan lusuh dan selalu menjinjing sebuah kotak kardus bekas wadah minuman ringan. Saya mengenal wanita itu mungkin hampir selama saya bekerja di kantor ini. Saya masih ingat ketika pertama kali melihatnya muncul di pintu ruangan dan bersuara: “Ombus-ombus, Bu”. Saya ingat bagaimana saya tertegun saat pertama kali mendengar kata asing itu. Hee? Ombus-ombus? Opo kuwi? Tidak perlu terlalu lama saya larut dalam penasaran, kemudian wanita itu berkata lagi: “Ombus-ombus Nang, kue dari Medan.” Lalu saya manggut-manggut dan menyahut dalam hati “Oooo kue dari Medan..” Sebagai orang Jawa tulen, pantas saja saya terheran-heran pertama kali mendengar kata asing yang terkesan agak lucu di telinga itu. Abis jajanan yang saya tau dari Medan cuman bika ambon dan bolu meranti doang. :D

Saya yakin wanita itu tidak pernah ikut mata kuliah teori marketing. Apalagi mengenal Rhenald Kasali atau Philip Kotler. Wanita itu juga tidak sekenes si mbak-mbak pedagang kue dalam menjajakan dagangannya. Produk yang dijajakannya juga terbatas tidak seperti kue-kuenya si mbak-mbak tadi yang lebih menarik dan berwarna warni. Akibatnya, saya lebih sering melihat ibu ini melangkah gontai karena lebih sering mendapat penolakan. Ada juga sih ibu-ibu di ruangan yang kasihan dan membeli dagangannya beberapa buah. Tapi sepanjang pengamatan saya, orang lebih sering berkata “Ndak Bu” ketika wanita ini menawarkan dagangannya. Malah terkadang beliau ini jadi bahan candaan dan ejekan orang-orang--di belakang tentu saja, nggak di depannya. Trenyuh ya? Tapi ibu ini tetap tidak patah semangat dan dengan wajahnya yang polos terus berkeliling menjajakan dagangannya.

Siang itu saya menjumpai wanita itu lagi. Sebelumnya saya sudah berniat membeli dagangannya barang satu atau dua biji saat wanita itu muncul. Dan ketika si Ibu ini nongol di pintu ruangan, saya langsung memanggilnya. “Berapaan ini Bu?”, tanya saya saat si Ibu menggelar dagangannya di meja dan membuka kardus jinjingannya. “Dua ribuan Nang,” jawab si Ibu. “Beli sepuluh ribu aja deh,” kata saya lagi. Dengan berseri-seri si Ibu ini mengeluarkan lima buah kue yang dibalut daun pisang ini dan mengemasnya dalam sebuah kantong plastik. “Jualannya ke mana aja Bu?” tanya saya. “Deket-deket sini aja Nang,” jawab beliau. “Ini segini abis semua Bu tiap hari?” tanya saya lagi. “Biasanya abis kok Nang.” Jawab beliau. Jadi, dalam kardus jinjingannya si Ibu ini membawa beberapa puluh buah kue Ombus-ombus. Sekitar 40-60 buah menurut beliau, saya lupa pastinya. Dan setelah transaksi selesai, lalu Ibu itu melangkah pergi dan berkeliling lagi. Waktu itu dagangannya tinggal sedikit yang tersisa.

Saya buka satu buah kue hasil transaksi tadi. Masih hangat. Ketika saya buka daun pisang yang membalutnya, terpancar aroma wangi. Jadi ternyata Ombus-ombus ini kalau di Jawa mirip-mirip dengan kue putu. Terbuat dari tepung beras, dengan isian gula jawa di dalamnya. Bedanya, ombus-ombus ini dibungkus dengan daun pisang. Enak kalau dimakan selagi hangat. Ombus-ombus sendiri menurut bahasa asalnya berarti “Tiup-tiup”. Jadi ceritanya, di daerah Siborong-borong di Tapanuli Utara tempat asal ombus-ombus, jajanan ini dijual selagi panas sehingga untuk memakannya harus ditiup-tiup dulu. Cocok buat teman ngeteh atau ngopi di sore hari!

Ombus-ombus
Rupa Ombus-Ombus. Saya ndak sempet ambil foto, gambar minjem dari http://www.blogceria.com/userfiles/uploads/Ombus-ombus.jpg

Epilog

“Ombus-ombus Nang.” Saya agak tertegun mendengar suara yang saya kenal itu. Rupanya Ibu si penjual ombus-ombus yang muncul. Memang jam-jam beliau biasa nongol adalah sekitar sebelum jam makan siang. Karena kebetulan sedang sibuk, dan juga pas lagi nggak begitu kepingin jajan—maklum lagi diet, saya menggeleng sambil tersenyum. “Enggak dulu Bu”, kata saya. Tapi saya berjanji dalam hati, nanti sesekali saya akan beli lagi. Bukan karena suka banget sih, apalagi saya kurang suka jajanan manis, saya kan udah manis tapi untuk menghargai keberadaan orang-orang kecil seperti penjual Ombus-ombus ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, beliau ini yah seperti kita-kita juga. Mencoba bertahan hidup di tengah ganasnya rimba kehidupan ini. Banyak kok orang-orang seperti ini di sekitar kita. Orang-orang yang bekerja di sektor informal yang bekerja keras dan pantang meminta-minta walaupun hasilnya tidak seberapa. Dan inilah cara yang tepat untuk peduli dan menghargai keberadaan mereka: dengan menggunakan jasa/membeli dagangan mereka. Kalaupun tidak suka ataupun berkenan, jangan menyakiti mereka. 

Oiya, nanti kalau anda kebetulan bertemu dengan penjual ombus-ombus yang saya ceritakan tadi, cobalah beli dagangannya satu atau dua. Lumayan enak kok rasanya. Tidak ada salahnya mencoba. :)

 

 

Lelo Ledhung & Romantisme Masa Lalu

Saya tidak habis pikir, kenapa ada beberapa lagu tertentu yang bisa begitu saja muncul dan berputar-putar terus menerus dalam kepala saya. Salah satunya ya ini, lagu Lelo Ledhung. Not demi not bermunculan di kepala dan membius saya sehingga tanpa sadar saya kadang sering terdengar menggumamkannya. Mungkin banyak yang mengenal lagu ini sebagai lagu tradisional masyarakat Jawa yang biasa didendangkan untuk meninabobokan anaknya. Saya sendiri tidak ingat sih apakah dulu ibu saya juga mendendangkan lagu ini kepada saya waktu saya kecil dulu. Tapi entah kenapa saya seolah-olah merasakan tenggelam dalam romantisme masa lalu ketika mendengar lagu ini. Terus terang ini bukan lagu biasa, bukan lagu Jawa biasa, dan bukan lagu nina bobo biasa. Dalam lirik-liriknya, kita akan menemukan nilai-nilai luhur, harapan dan doa, sekaligus simbol ketulusan orang tua dalam membesarkan anaknya yang seringkali penuh hambatan dan tantangan.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, cep menenga aja pijer nangis; Anakku sing ayu (bagus) rupane, yen nangis ndak ilang ayune (baguse)”

Imajinasi saya melayang-layang membayangkan sebuah suasana pedesaan di Jawa, di depan sebuah rumah berdinding bambu, dalam temaram sinar lampu minyak pada suatu malam, ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang terus menerus rewel menangis seraya bersenandung: “Timang-timang anakku sayang, janganlah engkau menangis. Hilang nanti cantik/tampanmu kalau engkau menangis”

“Tak gadang bisa urip mulyo, dadiyo wanito (priyo kang) utomo; Ngluhurke asmane wong tuwa, dadiyo pandekaring bangsa”

Dalam hening malam yang ditimpali derik suara jangkrik, dan desir dedaunan yang tertiup angin, Ibu tersebut terus bersenandung dan mendoakan anaknya: “Semoga kelak engkau bisa hidup sejahtera dalam kemuliaan, nak. Jadilah engkau pribadi yang utama, pribadi yang istimewa, pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur, sebuah pribadi yang mampu mengharumkan nama orang tua, juga mampu berbakti dan memberi arti bagi bangsa dan negara.”

“Wis cep menenga anakku, kae mbulane ndadari; Kaya buto nggegilani, lagi nggoleki cah nangis”

Dalam bayangan saya, Ibu tersebut menjadi agak gelisah. Sambil terus menggendong dan menenangkan anaknya yang menangis, dia bolak balik berdiri, lalu duduk di sebuah bale-bale bambu, lalu bangkit lagi seraya menunjuk ke arah bulan purnama yang bergelantungan di kelamnya langit malam. “Ayo tenanglah anakku, lihatlah disana rembulan bersinar terang laksana raksasa yang hendak menerkam anak-anak yang sedang menangis”

Sebenarnya awalnya saya sedikit terganggu dengan kata-kata dalam bait ini. Seolah-olah kalimat ini menyebarkan paranoid bagi anak-anak kepada penampakan bulan purnama. Lha wong mbulan kok dipadhakke koyo buto. Lantas saya berpikir-pikir lagi lebih jauh, sehingga sampai ke dalam sebuah hipotesis: mungkin makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah bahwa bulan purnama adalah simbolisasi dari penguasa malam, dimana malam adalah simbol dari kegelapan. Dimana kegelapan identik dengan kejahatan atau sifat-sifat buruk yang disimbolkan dengan Buto alias raksasa. Sehingga menurut hipotesis saya, kalimat dalam bait tersebut mengandung makna sebuah pengharapan agar anak yang sedang digadang ini berani untuk melawan segala sifat-sifat buruk dalam dirinya maupun dalam lingkungan di sekitarnya sebagai lawan dari sifat-sifat baik yang telah disebutkan dalam bait sebelumnya.

“Tak lelo lelo lelo ledhung, wis cep meneng anakku cah ayu (bagus); Tak emban slendang batik kawung, yen nangis mundak ibu bingung”

Setelah sekian lama, si anak tak kunjung diam dan terus menangis. Tapi si Ibu tetap sabar. Dengan penuh kasih sayang, sang Ibu mengusap-usap wajah anaknya dan terus menenangkannya sampai akhirnya si anak tertidur. “Timang-timang anakku sayang, ayo nak cepatlah diam. Kan kubuai engkai dalam sehelai selendang batik kawung. Kalau engkau menangis terus Ibu nanti bingung.”

Saya sedikit penasaran dengan penggunaan batik kawung dalam lagu ini. Kenapa batik kawung? Kenapa bukan batik yang lain? Batik parangrusak misalnya? Kemudian saya menemukan bahwa penggunaan batik kawung dalam kalimat tersebut tentu bukan semata-mata untuk mencocokkan rima agar nyambung (batik kawung dengan ibu bingung), tetapi karena batik kawung sendiri ternyata mempunyai tempat tersendiri dalam tataran budaya masyarakat Jawa, dimana batik kawung mempunyai filosofi yang dalam tentang asal muasal penciptaan manusia serta simbol umur panjang dan kehidupan abadi. Kawung disebut juga aren atau kolang kaling. Buahnya yang manis, serta pohonnya yang tegak lurus tak bercabang melambangkan keagungan, keadilan, dan kebijaksanaan. Dalam motif batik kawung, penampang buah kawung disusun secara diagonal berjajar terpusat dan simetris sehingga membentuk ilusi optik seolah-olah terlihat seperti bunga yang memiliki empat kelopak. Bunga empat kelopak sendiri menyimbolkan bunga teratai yang memberikan makna kesucian. Perpaduan antara bentuk bunga dan buah membawa arti harapan dan kesuburan. Sedangkan keempat arah dari kelopak bunga juga merefleksikan empat arah mata angin yang akan membawa cahaya kebijaksanaan. (Anne Ahira, "Keanggunan Batik Kawung: Inspirasi Dari Alam") Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa dalam kalimat “tak emban slendang batik kawung” tersirat doa serta harapan orang tua yang begitu luar biasa kepada anaknya setelah dewasa nanti.

Kawung

Motif Batik Kawung

Yang jelas, saya mempunyai semacam ikatan emosional tersendiri dengan lagu ini. Peristiwa demi peristiwa di masa lalu ketika masih diasuh oleh ayah dan bunda seakan muncul secara gamblang bagaikan sebuah video yang di-rewind jauh ke belakang ketika mendengarkan lagu ini. Semoga kita tak akan pernah lupa dengan jasa-jasa orang tua yang telah mendoakan, membimbing, serta mengasuh kita tanpa lelah sejak kanak-kanak betapapun besar pengorbanannya, betapapun berat tantangannya, betapapun berliku jalannya, hingga kita seperti kita sekarang dengan peran kita masing-masing. Kelak, saya akan mendendangkan Lelo Ledhung juga buat anak saya nanti.. :)

(download)

Excerpt from “Tak Lelo-Ledhung”, composed by Markasan, performed by Sruti Respati/Sa’unine String Orchestra. © Tembi Rumah Budaya

Sa' Unine Yang Tidak Asal Bunyi Dari Jogjakarta

Akhir-akhir ini saya mulai suka beli CD-CD lagu yang boleh dibilang "tidak lazim" dibeli orang. Setelah album Becak Fantasy-nya Jubing Kristianto dan Tafakur-nya Jaya Suprana, kemaren saya membawa pulang dua buah CD Album Masa Lalu Selalu Aktual dan Buaian Sepanjang Masa dari Sa' Unine String Orchestra.

459506435
Sa' Unine adalah kelompok musik gesek jebolan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta yang berdiri sejak tahun 1992. Ketika kuliah di Jogja dulu saya sering main ke ISI jauh di Sewon Bantul sana untuk sekedar menonton home concert mahasiswa-mahasiswa jurusan musik yang menampilkan repertoire lagu-lagu klasik. Tidak melulu lagu-lagu klasik, tetapi juga lagu-lagu populer yang diaransemen ala musik klasik. Lumayan, bisa menikmati musik-musik bermutu hanya dengan membayar 10 ribu rupiah. Dan musik semacam inilah yang coba ditampilkan oleh Sa' Unine dalam kedua albumnya.

Sa' Unine sendiri adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti "Sebunyinya" atau "Asal Bunyi". Walau demikian, karya yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah bunyi-bunyian yang asal bunyi ataupun suara-suara gedombrangan nggak karuan, sebaliknya mereka menampilkan bunyi-bunyian alat musik gesek nan elegan yang mengingatkan saya dengan Serenade for Strings-nya Tchaikovsky atau The Four Seasons-nya Antonio Vivaldi. Namun dalam kedua albumnya, repertoar yang ditampilkan oleh Sa' Unine bukanlah repertoar komposisi Mozart atau Beethoven, akan tetapi lagu-lagu lokal serta lagu-lagu daerah yang menjadi kekayaan budaya bangsa, sehingga kemudian anda akan menemukan lagu Ilir-Ilir dan Padang Bulan terdengar seperti symphony dari antah berantah, tidak terdengar seperti lagu dolanan rakyat Jawa. Demikian pula dengan lagu Gundul Gundul Pacul, Jaranan, dan Cublak-Cublak Suweng yang diaransemen unik dengan teknik pizzicato (strings yang dimainkan dengan cara dipetik, bukan digesek) yang digubah ke dalam sebuah komposisi medley berjudul Dolanan Pizzicato.

Dalam album Masa Lalu Selalu Aktual memang dominan ditampilkan lagu-lagu daerah (dominan Jawa sih) serta lagu-lagu Indonesia dari masa lampau semacam Sapu Lidi dan Di Bawah Sinar Bulan Purnama yang walaupun jadul namun masih terasa abadi untuk didengarkan. Sedangkan album Buaian Sepanjang Masa menampilkan lagu-lagu yang akrab diperdengarkan sebagai lagu pengantar tidur semacam lagu Tak Lelo Ledhung atau Timang-Timang yang akan membawa kita melayang dalam lamunan akan kenangan masa kecil ketika kita masih berada dalam buaian ibunda.

Pendek kata, apabila anda sudah mulai bosan dengan lagu-lagu yang sering muncul di tivi sekarang, atau sekedar ingin mencari suasana lain, album dari Sa' Unine ini pantas untuk anda dapatkan. Sekedar informasi, untuk mendapatkan album dari Sa' Unine ini silahkan menghubungi Rumah Budaya Tembi Jakarta di Jl. Gandaria I No. 47 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan karena tidak dijual di toko-toko kaset. Oiya, kalau mau dengerin aja dulu sampel lagu-lagunya di sini.